Kamis, 21 Agustus 2014
Pesawat Avro Anson Sumbangan Amai-amai PDF Cetak Surel
Senin, 11 Maret 2013 01:44

Sekitar 5 km dari Kota Bukitinggi, tepatnya di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang, pada pinggir jalan raya menuju Medan terdapat taman wisata seluas lapangan sepakbola. Pada taman itu dipajang sebuah replika pesawat terbang berwarna putih bertuliskan AVRO ANSON dan RI 003. Di bawah pesawat dipajang lagi sejumlah patung para pejuang.

Bagi kebanyakan pengunjung keberadaan replika pesawat mengejutkan, mengundang pesona tetapi juga mengundang pertanyaan, apa hubungan pesawat itu dengan Gadut?

Hubungannya, lokasi di sekitar taman wisata itu dulu merupakan lapangan terbang yang pernah didarati pesawat avro anson, sementara pesawat avro anson produk A.V.Roe and Company di Manchester yang didirikan oleh Alliot Verdon Roe juga pernah dibeli oleh amai-amai dari Bukittinggi, Agam dan sekitarnya dengan emas perhiasan mereka, berupa kalung, lontin, subang, gelang, cincin, termasuk cincin kawin.

Tujuan pembelian pesawat untuk mendukung kebijakan ekono­mi dan membantu perjuangan Republik Indonesia mempertahan­kan kemerdekaan dari ancaman penjajah.

Proses pembeliannya,  pada 27 September 1947 atas instruksi Wakil Presiden M.Hatta  dibentuk panitia pengumpul emas untuk pembelian kapal terbang di Bukit­tinggi dengan ketua Mr.Abdul Karim(Direktur Bank Negara)­,anggota terdiri dari Suryo, R.S Suryaatmaja dan residen Sumatra Barat Mr. M. Rasyid.

Selama lebih kurang 2 bulan panitia bekerja dengan bantuan tokoh masyarakat terkumpul emas perhiasan amai-amai sebanyak  1"belek” atau 1 kaleng biskuit, lalu emas itu dilebur menjadi emas batangan yang beratnya 14 kg lebih.

Waktu itu mengumpulkan emas sebanyak itu tidak begitu sulit karena semangat amai-amai untuk berjuang mempertahankan kemer­dekaan juga bergelora, lagian amai-amai di tanah minang banyak yang memiliki emas perhiasan karena emas bagi mereka merupakan benda penyimpan kekayaan dan lambang kemuliaan seperti diung­kap pepatah, “bapak kayo, mandeh baameh, mamak disambah urang pulo”.

Setelah emas terkumpul diben­tuk lagi panitia pembelian pesawat diketuai oleh Abu Bakar Lubis. Untuk melakukan pembelian pani­tia berangkat ke Singapura menemui Perwakilan RI di sana yang juga orang awak minang Dick Tamimi dan anak “nyiak” H.Agussalim bernama Ferdi Salim yang bertugas sebagai Supply Mission AURI di negara singa itu.

Bersama dengan petinggi RI di Singapura dan melalui H.Savega seorang broker dari Birma ditawar pesawat avro anson  milik H.Kegan seorang warga Australia, pemilik bersedia menjualnya dan disepakati bahwa transaksi akan dilakukan di Bukittinggi, namun pemba­yarannya di Songkhla(Thailand) dengan harga 12 kg emas.

Awal Desember 1947 pesawat avro anson yang akan dibeli itu mendarat di lapangan udara Gadut, kedatangannya disambut antusias warga masyarakat. Pada 9 Desem­ber 1947 Avro Anson diterbangkan oleh Iswahyudi dan Halim Perda­nakusuma ke Songhkla Tailand, penumpangnya termasuk Dick Tamimi dan H.Kegan sendiri, tiba di negeri gajah itu sore hari, namun naas  avro anson diusir pejabat setempat karena dituduh melakukan penyeludupan barang perhiasan, penumpangnya turun melanjutkan perjalanan ke Penang.

Sementara Iswahyudi dan Ha­lim Perdanakusuma diperin­tahkan menerbangkan pesawat menuju tanah air, namun  naas lagi, tak lama berselang pejabat di Malaka menyatakan avro anson jatuh di Tanjung Hantu negara bagian Perak. Dalam kejadian itu jenazah Halim Perdanakusuma diketemu­kan namun Iswahyudi tidak dike­tahui nasibnya sampai sekarang. Penyebab jatuhnya pesawat juga tidak diketahui secara pasti, apakah karena  kerusakan, cuaca buruk atau karena sabotase.

Sebagai pejuang  pilot avro anson Iswahyudi diabadikan men­jadi nama pelabuhan udara di Jawa Tengah dan nama naviga­tornya Halim Perdanakusuma diabadikan menjadi nama lapangan udara di Jakarta.

Sedangkan  bagi amai-amai minang jatuhnya pesawat avro anson nasib mereka   bagaikan sudah jatuh ditimpa tangga, emas perhia­san sudah dikorbankan, pesawat yang diidamkan tidak dapat digu­nakan, namun kadang ya begitulah perjuangan itu, penuh onak duri dan pengorbanan.

Sebagai pembangkit kenangan dan bukti pisik perjuangan replika avro anson dipajang sebagai monu­men sejarah berskala nasional di Gadut kecamatan Tilatang Ka­mang(Kasra Scorpi)

Comments (1)Add Comment
0
pembuatan ulang pelabuhan udara gadut
written by string, Maret 12, 2013
sudah selayaknya bukittinggi mempunyai pelabuhan udara ,
pagar alam misalnya barusan meresmikan pelabuhan udara mereka,
banyak komoditi tujuan eksport ke luar negri dengan folume dan kualitas yang bagus bisa di harapkan dari kota ini,
batam,singapura,medan,palembang,dumai adalah daerah2 rantau lama orang minang........???
apakah ini bisa di hidupkan lagi...??
wassaallam

Write comment

busy