Jumat, 25 Juli 2014
SABANG, MUTIARA WISATA DI UJUNG BARAT PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 20 November 2011 01:53

LAPORAN:  SYAFRUDDIN UJANG

Sabang memang bukan sembarang kota. Kota indah yang berada di atas Pulau Weh, Provinsi Aceh ini adalah kota pulau nan hijau di ujung barat nusantara. Di kota ini pulalah letaknya Nol Kilometer In­donesia, dan berakhir di wi­layah timur, Merauke, Provinsi Papua.

“Coba Anda lihat itu, betapa asrinya hutan serta gunung yang hijau dan betapa jernihnya lautan yang ada di Teluk Sabang ini. Jadi, anu­gerah Tuhan ini tidak boleh kita sia-siakan,” kata Direktur Jenderal Pemasaran, Ke­men­terian Kebudayaan dan Pari­wisata yang kini adalah Wakil Menteri Pariwisata dan Eko­nomi Kreatif, DR. Sapta Nir­wandar kepada saya di atas kapal layar asing nan mewah, saat kami berkeliling Pulau Rubiah sambil memancing dan melihat indah­­nya terumbu karang di kawasan ini.

Beberapa waktu lalu, saya bersama 18 wartawan yang biasa meliput di kementerian ini, diajak terbang oleh sang Dirjen (sekarang Wamen) ke Sabang untuk menyaksikan keindahan “Kota Pulau” ini. Saat itu, di Sabang, sedang berlangsung Sabang Inter­nasional Regatta 2011 yang diikuti sekitar 23 kapal layar asing dengan start di Phuket (Thailand), terus ke Langkawi (Malaysia) dan finis di Sabang. Ketiga kawasan itu disebut Sapta sebagai daerah segitiga pertumbuhan wisata bahari yang menakjubkan. Saat ada wartawan yang mengusulkan digelar pula balap sepeda Tour de Sabang karena kondisi, dan medan jalannya sangat mendukung, buru-buru Sapta menolaknya. “Sabang harus menjadi ekselen wisata bahari di Indonesia. Apalagi di daerah ini sudah ber­kem­bang diving untuk melihat keindahan laut di sekitar Pulau Weh,” katanya.

Sekilas Kota Sabang

Kota Sabang letaknya be­rada di Pulau Weh dan me­rupakan bagian dari Daerah Provinsi Aceh. Pulau Weh dikenal dengan slogan: Point Of Zero Kilometer Republic Indonesia (Titik Nol Kilometer Indonesia), ditandai dengan didirikan monumen untuk menandai dimulainya per­hitungan jarak dan luas teri­torial Negara Republik Indonesia.

Sejak didirikannya Sabang Maatschappij pada tahun 1895 oleh Pemerintahan Kolonial Belanda, Pelabuhan Sabang mempunyai arti penting pada zaman itu, karena dari pe­labuhan itulah kapal-kapal besar Belanda mengangkut rempah-rempah dari Bumi Nusantara untuk dijual ke Eropa. Kota Sabang sebelum perang dunia II adalah kota pelabuhan terpenting di­ban­dingkan Temasek (sekarang Singapura). Kota Sabang terdiri dari 2 bagian yaitu Kota Atas dan Kota Bawah.

Awal tahun 1970, Sabang ditetapkan sebagai daerah Pelabuhan Bebas yang di­wujudkan dan diperkuat de­ngan terbitnya UU No 3/1970 tentang Perdagangan Bebas Sabang, dan UU No 4/1970 tentang ditetapkannya Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Namun pada tahun 1985, pemerintah mencabutnya de­ngan alasan pembukaan Pulau Batam sebagai Kawasan Per­dagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam. Tahun 1993, pemerintah membentuk Kerja Sama Ekonomi Regional Indo­nesia-Malaysia-Thailand Gro­wth Triangle (IMT-GT) untuk menggairahkan kembali pere­konomian di kota ini.

Masih belum pulih, tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dengan diterbitkannya Inpres No. 2 tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000. Dan kemudian diterbitkannya Pe­raturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 2000 tanggal 1 September 2000 tentang Kawasan Per­dagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.

Pulau Weh memiliki be­berapa pulau di sekitarnya. Di antaranya  Pulau Rubiah, Klah, Seulako dan Pulau Rondo. Penduduk Sabang jumlahnya 28,703 jiwa, terdiri atas ber­bagai etnik suku, agama dan bangsa, termasuk Cina dan India.

Sabang memang jauh di ujuang barat pulau Sumatera, tetapi begitu mudah untuk mencapainya. Satu-satunya cara untuk menuju ke Pulau Weh adalah lewat Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Banda Aceh sendiri mempunyai penerbangan langsung dari Penang dan Kuala Lumpur di Malaysia dan dari Medan, dan juga tentunya dari Jakarta..

Melalui jalan darat, banyak bus modern nonstop dari Kota Medan, yang akan melalui banyak tempat, seperti lewat jalur barat dan pantai utara atau dataran tinggi Aceh dan Taman Gunung Leuser.

Dari Banda Aceh pilih minibus/labi-labi yang menuju Pelabuhan Krueng Raya (Ma­layahati) di mana ada ferry yang akan menyeberang ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh sekali dalam sehari. Atau menggunakan kapal cepat Km Pulo Rondo, dan Km Baruna Duta dari Pelabuhan Ulee Lheu ke Pe­labuhan Balohan. Rombongan wartawan yang tiba di Banda Aceh dengan dua penerbangan, berangkat dengan kapal Baruna tersebut ke Pulau Weh.

Menurut Ketua DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kota) Sabang, Abdul Manan yang menyertai rombongan k, pelayaran di pagi hari antara Banda Aceh ke Pulau Weh atau sebaliknya, terasa lebih tenang, sedang di siang dan petang hari gelombangnya begitu terasa.

Untuk wisatawan umum, dari Balohan bisa pilih minibus atau taksi untuk menuju Kota Sabang. Kemudian juga  naik mini bus lainnya ke wisata yang terkenal di sana. Namun di samping taksi dan minibus, diSabang juga sudah banyak rental mobil dengan tarif Rp600.000 per hari.

Kota Sabang dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sarana umum yang memadai (hotel, restoran, rumah sakit, apotek, sarana komunikasi-warpostel, sarana transportasi, kantor polisi, pompa bensin, masjid, gereja, bank, money changer, toserba).

Taman Laut Rubiah

Sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) Bahari, Kota Sabang memiliki tempat-tempat wisata bawah laut dengan beragam jenis binatang dan tumbuhan laut yang ada di dalamnya, antara lain Pantai Iboih di lokasi Pulau Rubiah (dikenal juga dengan taman lautnya), Batee Dua Gapang, Batee Meuroron, Arus Balee, Seulako’s Drift, Batee Tokong, Shark Plateau, Pantee Ideu, Batee Gla, Pantee Aneuk Seuke, Pantee Peunateung, Lhong An­gen, Pantee Gua, Limbo Ga­pa­ng, Batee Meuduro dan lainnya.

Pulau Rubiah merupakan salah satu daerah wisata bahari yang berada di Pulau Weh-Kota Sabang. Pulau ini da­hulunya merupakan asrama bagi para jama‘ah haji yang akan berangkat ke Mekkah. Namun saat ini, Pulau Rubiah dijadikan sebagai objek daerah tujuan wisata yakni kawasan taman laut atau lebih di kenal dengan sebuatan Taman Laut Rubiah (Sea Garden Of Ru­biah) yang luasnya 2.600 hektare, lokasi berada di desa Iboih kecamatan Suka Karya dengan luas daratan 50 hektare. Jaraknya sekitar 29 Km di sebelah barat Kota Sabang atau sekitar 7 Km, apabila ditempuh dengan transportasi laut.

Di sekitar Pulau Rubiah inilah kami berkesempatan menaiki salah satu kapal mewah peserta Sabang Inter­national Regatta 2011. Selama 2 jam berkeliling pulau, Sapta Nirwandar juga sempat men­coba memancing ikan, namun tak berhasil membawa pulang seekor pun ikan.

Di sekeliling tepi laut yang kami lewati, terutama di ka­wasan Iboih, banyak bungalow. Ada sektar 50 bungalow dan 6 restoran yang dapat dipilih. Kebanyakan bungalow yang ada adalah yang sederhana tetapi nyaman. Ada yang mempunyai kamar mandi ada juga yang tidak.

Sebelah Barat Pulau Ru­biah dengan jarak tempuh 350 meter terdapat daerah wisata pantai Iboih yang luasnya 1.300 ha dan 3 km sebelah Barat Laut terdapat lokasi Tugu Kilometer Nol. Sebelah Utara pulau ini berbatasan langsung dengan samudera Hindia. Sedangkan sebelah Timur berbatasan dengan daerah wisata Pantai Gapang. Untuk mencapai daerah Pulau Rubiah yang ada di kawasan Pantai Iboih, dapat dicapai dengan minibus de­ngan jarak tempuh sekitar 45 menit dari kota Sabang, biaya me­masuki wilayah ini Rp 5.000, per orang.

Pulau Rubiah tidak ber­penghuni, namun pulau ini ditumbuhi oleh beberapa jenis tumbuhan, Salah satunya yakni pohon kelapa dan dihuni oleh beberapa jenis hewan seperti monyet, ular, burung, serangga dan kadal. Pulau Rubiah juga memiliki pantai yang berpasir putih.  Dari Pulau ini dapat melihat dengan jelas kapal-kapal besar yang melintas serta suasana tenggelamnya matahari (sunset).

Di sekitar Pantai Iboih yang favorit, terdapat sejumlah diving centre. Penyewaan peralatan menyelam atau untuk snokling, cuma Rp40.000 per hari. Yang agak mahal adalah sewak boat atau boat kaca untuk melihat indahnya taman laut Sabang. Sewa boat untuk diving Rp150.000 untuk beberapa jam. Sedang boat kaca berkisar Rp300 dan bisa dimuati sekitar 10 orang.

Di Gapang memiliki lebih dari 30 bungalow dan 4 res­toran. Beberapa ada yang begitu mewah dan mahal, tetapi ada juga yang sederhana tetapi nyaman. Pantai Lhueng Angen mempunyai 10 bungalow dan 1 restoran, sederhana tetapi nyaman. Makanan eropa bisa didapat dari restoran yang dekat dengan bungalow.

Mutiara

yang Perlu Diasah

Melalui Sabang Inter­nati­onal Regatta yang sudah dia­gendakan untuk di­seleng­garakan setiap tahun, pe­merintah melalui Kementerian Pari­wisata dan Ekonomi Krea­tif ingin menjadikan daerah ini sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) Bahari utama di ka­wasan barat. Apalagi jarak tempuh Langkawi-Sabang hanya terpaut beberapa jam dengan melintasi Selat Malaka.

Sapta Nirwandar menye­butkan, keindahan Sabang untuk wisata bahari tak ada tandingannya. Karena itulah, kementeriannya sudah berkete­tapan hati untuk melakukan berbagai promosi agar Sabang makin dikenal wisatawan mancanegara. Jailani, dari Royal Langkawi pun yakin Sabang bakal berkembang di masa mendatang.

“Sabang kini telah kem­bali dalam peta pariwisata nasional dan internasional karena itu kelengkapan sa­rana akan men­jadi perhatian. Sabang adalah mutiara yang ting­gal di asah karena me­miliki teluk, lautan, gunung, air terjun dan pe­mandangan alam lainnya yang cukup indah,” kata Wali­kota Sabang Munawar Liza Zainal. n

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: