Kamis, 31 Juli 2014
Sisi Lain dalam Buku Al Fathun Nawa PDF Cetak Surel
Rabu, 23 November 2011 03:45

Allah SWT sangat menghargai orang-orang yang berilmu sehingga Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.

Seruan untuk menuntut ilmu ini dinyatakan oleh Allah dalam banyak ayat, misalnya dalam surat al-Mujadalah ayat 11 dengan makna:”Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan ke­pa­da­mu:”Berlapang-lapanglah da­lam majlis,” maka la­pang­kanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan ber­dirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah meninggikan derajat orang-orang yang ber­iman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Pada dasarmya Allah SWT tidak membeda-bedakan ilmu yang harus dikuasai oleh manusia, sehingga kemajuan di seluruh penjuru dunia menunjukkan pesatnya per­kembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Ke­bahagiaan hidup di dunia dan di akhirat ditentukan oleh penguasaan ilmu. Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak semata-mata hanya ter­fokus  pada penguasaan ilmu untuk kepentingan dunia saja. Akan tetapi Allah SWT me­ngingat­kan agar ada segelintir orang yang mau dan ber­keinginan untuk memahami dan mendalami ilmu-ilmu agama sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat at-Taubah ayat 122 dengan makna:”Dan tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada­nya. Supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Salah satu aspek penting dalam memahami agama ada­lah dengan memahami Alquran sebagai sumber ajaran agama. Banyak cara yang dilakukan oleh ahli ilmu untuk me­mahami dan mendalami Al­quran. Usaha untuk memahami Alquran ini telah dimulai sejak awal proses penurunannya kepada Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW adalah orang pertama yang menjelaskan tentang makna-makan ayat Alquran kepada umat Islam ketika itu. Raulullah SAW dalam hal ini menegaskan fungsinya sebagai penjelas ayat-ayat Allah SWT (at-tabyin). Di samping itu, Rasulullah mem­beri kebebasan kepada para Sahabat untuk memahami dan menafsirkan Alquran sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga pada umumnya orang-orang Arab dapat mengerti dan me­mahami­nya dengan mudah. Dalam pada itu, para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang paling me­ngerti dan memahami ayat-ayat Al­quran. Akan tetapi, para Sahabat itu sendiri mempunyai tingkatan yang berbeda-beda dalam me­mahami Alquran. Hal ini te­rutama disebabkan oleh per­bedaan tingkatan pengetahuan serta kecerdasan para sahabat itu sendiri. Se­kalipun para sahabat adalah orang-orang Arab dan ber­bahasa Arab, tetapi penge­tahuan mereka tentang bahasa Arab berbeda-beda. Seperti berbedanya pengetahuan Sa­habat tentang sastra Arab, gaya bahasa Arab, adat istiadat dan sastra Arab jahiliyah, kata-kata yang terdapat dalam Alquran dan sebagainya. Oleh sebab itu tingkatan mereka dalam me­mahami ayat-ayat Alquran berbeda-beda pula.

Ada Sahabat yang sering mendampingi Nabi Mu­ham­mad SAW, sehingga banyak menge­tahui sebab-sebab ayat Alquran diturunkan dan ada pula yang jarang mendampingi beliau. Pengetahuan tentang sebab-sebab Alquran di­turun­kan itu, sangat diperlukan untuk menafsirkan Alquran, sehingga Sahabat-sahabat yang banyak pengetahuan mereka tentang sebab-sebab ayat di­turunkan, lebih mampu me­nafsirkan ayat-ayat Alquran dibandingkan dengan yang lain.

Pada masa hidup Rasu­lullah SAW, kebutuhan tentang tafsir Alquran belum begitu dirasakan. Apabila para Sahabat tidak atau kurang memahami ayat Alquran, maka mereka dapat secara langsung me­nanyakannya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW akan memberikan jawaban yang memuaskan. Setelah Rasulullah SAW meninggal, apalagi se­telah agama Islam menyebar luas ke wilayah jazirah Arab dan memasuki daerah dengan kebudayaan lama/kuno, maka terjadilah persinggungan antara agama Islam yang masih dalam bentuk kesederhanaannya di satu pihak dengan kebudayaan lama yang telah mempunyai pengalaman, perkembangan serta keuletan daya juang di pihak yang lain. Di samping itu umat Islam menghadapi berbagai persoalan baru dalam kekuasaan pemerintahan Islam. Persoalan-persoalan itu akan dapat dipecahkan apabila ayat Alquran ditafsirkan dan diberi komentar untuk menjawab persoalan-persoalan yang baru muncul itu. Maka ber­munculan­lah beberapa orang Sahabat dan tabi’in yang memberanikan diri menafsirkan ayat-ayat Alquran yang masih bersifat umum sesuai dengan batas-batas kebolehan melakukan ijtihad.

Dewasa ini penafsiran Alquran dilakukan dengan cara yang berbeda dengan penafsiran pada zaman klasik. Para ahli ilmu mencoba me­mahami Alquran dari sudut pandang ilmu dan kekuatan akal yang dimilikinya. Pe­nafsiran seperti ini dikenal dengan istilah (at-tafsir bil ilm) atau (at-tafsir bir-ra’yi). Cara ini menimbulkan kontroversi di kalangan ulama yang telah menggariskan batas-batas yang ketat dalam menafsirkan Al­quran. Perbedaan itu pada dasarnya bersumber dari ka­pasitas seseorang yang tidak memiliki ilmu alat yang me­madai seperti menguasai ilmu bahasa Arab, ilmu ushul fikih dan lain-lain, tetapi mereka memiliki kapasitas ilmu yang memadai di bidang lain.

Dr Haji Ahmad Laksamana Haji Omar (Dr. Halo-N) adalah seorang insinyur ma­tematika. Latar belakang ke­ilmuannya tidak meng­halangi­nya untuk menulis berbagai buku keislaman dengan tema yang berbeda-beda. Di antara buku yang ditulisnya adalah Al Fathun Nawa Jilid I yang berisi tentang pemahamannya terhadap Alquran surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah ayat 1 sampai 29.  Pendekatan pe­mahaman yang digunakan dalam buku ini terlihat berbeda dengan pendekatan-pendekatan tafsir yang telah dikenal selama ini. Perbedaan itu sepertinya dapat dipahami karena latar belakang keilmuan yang di­miliki dan caranya memandang tentang maksud Alquran se­bagai Umm al-Kitab.

Secara garis besar, pe­mahamannya menggunakan ayat Alquran menjelaskan ayat Alquran yang lain. Pada dasar­nya cara ini telah lama dikenal dan tidak menjadi hal yang baru dalam tafsir. Dalam buku Al Fathun Nawa setiap ayat yang diuraikan maknanya dijelaskan oleh beberapa ayat. Penjelasan demi penjelasan ayat itu be­rujung pada satu teori yang berbentuk rumusan kata-kata maupun simbol-simbol yang sarat makna. Beliau me­ne­mukan empat teori yang ber­kaitan dengan bidang natural products sebagai hasil dari pemahamannya terhadap Al­quran surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah ayat 1 sampai 29. Teori-teori tersebut adalah (1). Nine Stars Halo-N Theory (2).               Nawiah 9 x 45 (1) Theory (3).      Nawiah 9 x 45 (2)  Theory dan (4). Halo-N 9.2 Homo­length Theory. Penjelasan teori-teori dan hasil pengujiannya secara ilmiah dapat diltelusuri lebih jauh dalam buku Al Fathun Nawa Jilid I. Buku ini ini dilengkapi dengan pendekatan-pendekatan tarikat dan tasauf secara terperinci dan men­dalam. Adakalanya teori-teori tarikat yang selama ini dikenal dikemukakan secara ilmiah. Selain itu, pemahaman yang dilakukan terhadap ayat-ayat Alquran ini senantiasa dilihat Dr. Halo-N dari sudut pandang dunia dan akhirat. Pengga­bungan sains dan tarikat men­jadi keunikan tersendiri dalam buku ini. Cara seperti ini tentunya melahirkan pe­ma­haman Alquran yang tidak biasa dan tidak dikenal se­belumnya. (Wallahu A’lam).

 

SALMA, M.AG, PH.D

(Dosen pada Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy