Rabu, 23 Juli 2014
SERASA DI KAMPUNG TEMPO DULU PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 08 Januari 2012 00:00

DESA RANTIH

SAWAHLUNTO, HALUAN — Jika beberapa waktu lalu, Desa Rantih, Sawahlunto didaulat menjadi salah satu desa wisata, kini desa yang memiliki penduduk lebih kurang seribu jiwa itu tengah mengembangkan diri menjadi objek wisata kampung tradisional.

Sesuai dengan namanya, kampung tradisional memang sengaja dibuat untuk para wi­satawan yang ingin mengenang kondisi Indonesia tempo dulu. Kondisi di mana Indonesia belum diterangi lampu dari tenaga listrik PLN, ataupun hiruk pikuk siaran televisi, dengan berbagai cerita sine­tronnya.

Kampung tradisional yang nantinya merupakan satu kesatuan dengan Desa Wisata Rantih itu, akan menampung wisatawan yang menginginkan ketenangan, tanpa adanya teknologi yang tumbuh seiring perkembangan zaman. Bahkan untuk datang ke kawasan kampung tradisional ini pun, jika melalui jalan darat wisatawan akan disuguhi de­ngan alat transportasi layaknya zaman dahulu kala, transportasi paling hemat bahan bakar.

Transportasi tak berbahan bakar ben­sin atau solar mau­pun ali itu, adalah pedati yang di­leng­kapi seekor kerbau. Dengan san­tai, wisa­tawan akan dapat menikmati per­ja­lanan dengan pedati yang ditarik seekor kerbau, yang di­leng­kapi dengan gan­tu­ngan sekarung rum­put.

Untuk mencapai kampung tradisional, perjalanan pedati dengan tarikan ker­bau itu akan me­lewati rute sepanjang lebih kurang 800 meter.  Sementara di kampung tradisional itu sendiri, terdapat bangunan ter­buka, layaknya ‘dangau-dangau’ yang terbuat dari kayu be­ratapkan daun kelapa ataupun rumbia.

Sedangkan, jika wisatawan ingin da­tang melalui jalan sungai, pengelola kampung tradisional itu nantinya juga ak­an menye­diakan trans­portasi perahu, yang berasal dari aliran Sungai Batang Ombilin.

Setidaknya, jika ingin ber­perahu me­nuju kampung tra­disional akan me­makan waktu sekitar setengah hingga satu jam perjalanan. Se­bab, untuk men­capai kawasan tersebut ha­rus menyusuri aliran sungai sejauh satu kilometer.

Kampung tra­di­sio­nal yang mulai dioperasikan pertengahan 2012 mendatang itu, akan di­lengkapi dengan camping ground, out bond, dan berbagai kegiatan tradisional yang dapat dilakukan wisatawan kota, yang belum pernah bersentuhan de­ngan pertanian khususnya.

Tidak bisa dibayangkan, jika wisatawan dapat melakukan kegiatan berupa menanam padi di sawah, atau jika wisatawan sedang mujur mendapati proses pelunakan lahan sawah secara tradisional dengan meng­guna­kan sapi atau kerbau. Proses yang biasa disebut maoncah atau berancah itu, memang sangat jarang atau sulit untuk ditemui pada zaman yang telah sesak dengan kemajuan tek­nologi saat ini.

Yang tidak kalah me­narik­nya, kampung tradisional ini juga menyediakan belut-belut sawah. Namun jangan senang dulu, wisatawan baru akan dapat menikmatinya jika bisa me­nangkapnya. Sebab, penge­lola kampung tradisional hanya akan menyediakan alat tangkap berupa kail berikut umpan.

Wisatawanlah yang harus berjuang mendapatkan belut-belut yang ada dalam lubang di pinggir-pinggir sawah. Sungguh suatu suasana wisata yang me­num­buhkan keman­dirian bagi mereka yang datang. Apalagi, wisatawan yang telah terbiasa dengan du­kungan pembantu dalam men­jalani keseharian, akan sangat ter­tantang untuk mengikutinya. Kampung tradisional sendiri berada di kawasan Landu, yang memiliki sebuah air terjun yang juga dinamai air terjun landu. Landu merupakan salah satu dari empat air terjun yang ada di Desa Rantih. Tiga lainnya, yang ber­jarak tidak terlalu jauh dari air terjun Landu, yakni Air Terjun Lurah Tibarau, Air Terjun Sungai Bikan, dan Air Terjun Lurah Lobah.

Sebenarnya untuk Air Ter­jun Sungai Bikan sudah dibuka semenjak tahun 1991 silam, dan beberapa kali dikunjungi wisa­tawan dari luar negeri, mulai dari Belanda, Jerman dan Singapura.

Setelah sampai di air tejun, wisatawan dapat menikmati kesejukan air terjun dengan menceburkan diri. Tetapi, hati-hati jangan sampai melompat, karena muara dari air terjun sangatlah dangkal.

Kawasan kampung tradi­sional yang dikelola langsung pemuda setempat juga me­ngembangkan seni bela diri tradisional silat. Jika ada kesempatan dan ke­inginan untuk mendalami ilmu silat, tidak ada salahnya untuk berguru atau belajar langsung kepada tetua silat kampung Rantih.

Pengembangan pariwisata Rantih baik desa wisata maupun kampung tardisional dilakukan secra swadaya masyarakat, yang dibantu pemerintah Kota Sawah­lunto. kesadaran akan begitu besarnya manfaat wisata dalam mengangkat pe­reko­nomian, mulai dirasakan ma­sya­rakat setempat.

Sebab, sebagian besar wisa­tawan yang datang ke Rantih bukanlah wisatawan lokal. Se­tidak­nya wisatawan yang datang berasal dari luar Sawahlunto, bahkan dari luar Sumatera Barat.

Sehingga, kedatangan wi­satawan memang memberikan dampak ekonomi yang besar. Sebab, untuk menikmati betapa uniknya desa wisata, wisatawan tidak bisa hanya berkunjung satu hari saja.

Di sinilah, masyarakat dapat merasakan nilai eko­nominya. Selain berbelanja, wisatawan juga menginap di home stay yang disediakan langsung oleh warga. Harganya, bisa dikatakan sangat terjang­kau, di­bandingkan dengan penginapan yang berada di pusat kota.

Beberapa waktu lalu, pe­serta Sawahlunto Internasional Music Festival (SIMFes) 2011, yang berasal dari lima benua itu, juga menikmati suguhan keindahan Rantih.

Kurator SIMFes 2011, Miss Kelly menyatakan ke­kaguman akan indahnya Ran­tih. Suasana hamparan sawah yang hijau, dan derasnya air sungai rantih yang mengalir bening, membuat Miss Kelly ingin berlama-lama di sana.

Tidak hanya Miss Kelly, Ketua Keroncong Tugu, Andree Mic­heal dan vokalis Music Krakatau Ubiet juga menya­takan sim­patinya, dengan ke­­­mole­­kan Rantih. “Rantih memiliki pe­sona tersendiri dari objek wisata lainnya. Rantih masih belum terjamah pe­radapan, yang mem­buatnya memiliki keindahan yang luar biasa,” ujar Ubiet.(h/fadilla Jusman)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items:

Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 07 Januari 2012 23:45