Minggu, 26 May 2013
KEBUTUHAN ATAU GAYA HIDUP PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 15 Januari 2012 00:46

KEMBALI KE LAPTOP:

Hari gini, punya laptop atau notebook sepertinya bukan hal yang luar biasa. Banyak kita temui di kampus-kampus, mahasiswa menjinjing komputer portabel itu.

Apalagi, belakangan ini makin banyak tempat yang memasang hotspot. Mulai dari kampus hingga café. Tugas-tugas kuliah yang membutuhkan referensi dari inter­net jadi mudah dikerjakan. Ke­adaan itu ditambah dengan makin terjangkaunya harga laptop dan notebook. Dengan uang dua sete­ngah juta rupiah saja, satu buah notebook merk terkenal bisa didapatkan. Wajar, bila makin banyak mahasiswa  yang me­milikinya.

Di sisi lain, kita juga menyadari. Laptop bisa menjadi kawan atau lawan. Ibarat jarum jahit. Apabila seseorang menggunakannya dengan baik, maka akan menghasilkan hasil jahitan yang bagus, dan begitu sebaliknya, apabila tidak diguna­kan dengan baik maka jarum jahit tersebut bisa melukai tangan. Akan halnya laptop atau notebook, bukan rahasia lagi, bila mahasiswa bukan hanya menggunakannya untuk menyelesaikan tugas kuliah. Terka­dang laptop juga digunakan untuk hal lain. Main game misalnya, atau membuka situs-situs yang bersifat rekreatif semisal Facebook atau Twitter. Bagi Alis, mahasiswa UNP Jurusan Fisika, laptop merupakan bagian tak terpisahkan dari kuliahnya, “Laptop sangatlah banyak guna, dengan banyaknya  tugas kuliah yang harus dikerjakan, maka laptop sangatlah diperlukan dalam membuat makalah. Namun yang lebih pentingnya lagi, ada mata kuliah yang memerlukan program – program yang ada di laptop, seperti Pascal, Macro Flash, Delphi dan membuat media pembe­lajaran. Apalagi sekarang lagi menyusun skripsi. Laptop sangat irit biaya dan tenaga untuk pergi ke rental. Juga bisa lebih nyantai dan fokus untuk mengerjakan tugas – tugas di rumah”, jelasnya.

Beda Alis, beda pula Riko Edi Susandra, mahasiswa jurusan Budi Daya Perairan (BDP) Uni­versitas Bung Hatta.

“Meski tidak ada mata kuliah yang bersangkutan dengan pro­gram dalam laptop, tetapi saya merasakan laptop itu sangat bermanfaat bagi saya. Selain untuk mengerjakan tugas kuliah juga bisa sebagai hiburan saat lagi stress dan suntuk dengan mem­buka berbagai game. Kemudian juga bisa nonton, karena saya juga hobi nonton apalagi film petua­langan,” kata Riko.

Pendapat yang sama juga ada pada Silvera Monica, mahasiswi STIKIP Ahlulsunnah Bukittinggi dengan tambahan, “Antara tugas, dengarin musik dan Facebookan sejalan. Karena itu bisa membuat kita lebih rileks dalam menye­lesaikan tugas kuliah.”

Namun, ternyata tidak selama­nya laptop membantu menyele­saikan tugas kuliah, adakalanya, laptop berubah jadi ancaman. Saat kuliah, ketika dosen sedang mene­rangkan pelajaran, ada juga mahasiswa yang membuka laptop­nya, bukan untuk mencari infor­masi terkait perkuliahan di inter­net, tapi justru membuka Face­book, Twitter dan situs rekreatif lainya. Kadang, saking seriusnya ‘fesbukan’ penjelasan dosen malah tidak didengar, akibatnya materi kuliah tidak masuk ke otak.  Desi Susanti menyebutkan hal semacam ini justru mendatangkan kerugian. Laptop jadi merusak mahasiswa, dari kawan berubah lawan.

“Walaupun dosen itu tidak asyik tetapi penerangan dan pelajaran yang beliau berikan sangat membantu kita,” ujar mahasiswi Jurusan Agribisnis Pertanian, Universitas Andalas Padang ini.

Pendapat Desi Susanti sedikit berbeda dengan Zulkianti Helma.

“Saya malahan sering mem­buka Facebook saat kuliah dan tidak mengganggu saya dalam menerima materi yang diajarkan oleh dosen. Karena itu hanya sekedar selingan untuk mengatasi kebosanan. Selain itu laptop juga bisa ngedit foto-foto kan asyik tu”, ujar mahasiswi IAIN Imam Bonjol ini.

Hmm, pada akhirnya terpulang pada diri kita masing-masing ya, sobat. Teknologi itu kan diciptakan untuk memudahkan hidup ma­nusia, bukan menyusahkan. Laptop sebagai sarana belajar, semestinya juga digunakan untuk menunjang prestasi belajar bukan sebaliknya. Kan tidak lucu jika saat nilai ujian jeblok, orang-orang berujar, “Ih, kasihan ya, nilainya jelek. Habis, keseringan ‘fesbukan’ dan main game sih, saat dosen menerang­kan.” Jangan sampai deh ya, Sob! (Laporan Selvia Junianti. Tim kerja: Desria dan Okvia Novitasari)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: