Rabu, 17 September 2014
SASTRA DAN MASYARAKAT PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 15 Januari 2012 00:49

Tak seorang penulis-penulis besar yang merayakan ta­tanan sosial yang mapan. Mereka berpendapat bahwa kemapanan itu berpotensi akan membatasi dan merusak segala sesuatu, termasuk karya seni dan sastra dalam lingkup masyarakat. Mereka yakin bahwa masyarakat berperan membentuk nasib seseorang. Dalam masyara­katlah seseorang bertindak dan mendefinisikan dirinya. Se­hing­ga kebanyakan novel berupaya untuk mengeksplor tentang seseorang, bukan masyarakat.

Memang masyarakat ada­lah medium. Karenanya novel kerap kali menjadi kritik sosial. Hanya saja, tokoh dan pengalaman seseorang akan mencerminkan nilai-nilai sosial. Bagi banyak sastra­wan, banyak novel yang sebe­tul­nya menekankan logika masyarakat ketimbang peme­nu­han hasrat individual.

Madame Bovary, novel karya Flaubert, dipuji banyak kalangan karena mengandung dan memperkenalkan benih-benih novel naturalistik. Novel ini mengutarakan  dampak yang ditimbulkan oleh ling­kungan masyarakat terhadap individu. Flaubert, bagaima­napun, lebih menekankan dunia sebagai sebuah objek estetik. Sementara pengarang la­in­nya tertarik pada isu-isu masyarakat yang inheren dalam suatu objek. Tujuan mereka adalah bukan sekadar membentuk kontemplasi es­tetik tapi lebih kepada upaya utuk menciptakan kesadaran sosial dan menyebarkan moral sosial. Inilah kemudian yang memunculkan apa yang dise­but sebagai “novel sosial” pada dekade 1840 di Inggris. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya Mrs. Gaskell, Benjamin Dis­raeli, dan Charles Kingsley. Pendukung paling terkenal dari aliran novel naturalistik ini adalah EmileZola dan Thedore Dreiseryan terakhir melahirkan novel sosiologi Amerika abad ke-20.

Perdebatan sengit antara publik dengan para pendukung aliran ini berpusat pada tuduhan bahwa pengarang aliran naturalistik meman­faatkan daya tarik novel populer untuk meraih audiens yang lebih luas seraya pada saat yang sama mengor­bankan nilai artistik di satu sisi dan menurunkan derajat tokoh-tokoh dalam karya sastra sekadar mekanisme untuk mempromosikan teori-teori sosial.

Karya terkenal dua de­dengkot sastrawan aliran naturalistik Emile Zola dengan  Germinal-nya dan Theodore Dreiser lewat An American Tragedy-nya menggambarkan sifat destruktif dari tatanan sosal yang korup dan rusak. Lebih lanjut, kedua novel ini mengungkapkan peran formal buat masyarakat. Zola dan Dreiser mencontohkan bagai­mana kehancuran hidup totoh-tokoh utamanya. Sang pen­cerita (narator) menekankan bahwa moralitas individu memiliki dasar atao motif sosial dan ekonomi.  Dengan kata lain, mereka hendak menekankan bahwa masya­rakat bukan sekadar medium tempat hidup dan berkem­bangnya tokoh-tokoh dalam karya sastra, tapi juga subyek dari novel dan lokus buat setiap tema utama cerita.

Tetapi, Germinal dan An American Tragedy memiliki perbedaan masing-masing terkait dengan pendeka­tann­nya terhadap masyarakat sebagai subyek. Zola lebih tertarik menelusuri dialektika sosial dan teknik-teknik representasionalnya menggi­ring kepada proses sosial.  Sementara, Dreiser berupaya untuk membedah masyarakat. Teknik-teknih yang diguna­kannya membedah sejauh mana nilai-nilai dan harapan masyarakat mencakup semua aspek eksistensi manusia.

Bronte dan O’Connor meng­­gunakan masyarakat untuk mencari realitas miste­rius di luar manusia. Mereka berupaya mencari sumber misteri di luar masyarakat. Sastrawan lain malah meng­anggap masyarakat adalah misteri sendiri yang harus dipenetrasi dan diatasi oleh para pengarang. Dalam novel-novel modern, di mana penge­tahun menjadi problematis, masyarakat lebih memfo­kuskan kepada pertanyaan-pertanyaan epistemolohgis para pengarang. Novel-novel abad XX memanfaatkan ma­sya­rakat dengan apa yang disebut sebagai “excluded middle”, sebuah terma yang dipakai oleh Pynchon Oedipa dalam novelnya The Crying for Lot 49. lalu, apa yang tidak dimasukkan?

Novelis tersebut tidak menyertakan apa yang disebut realitas yang diketahui (knowa­ble reality), yang menurut bahasa novel abad ke-19 disebut karakter atau tokoh. Dalam novel abad ke-19, konflik dan akomodasi penga­rang terhadap dunia di luar dirinya bakal mendefinisikan dirinya dan membentuk nasib­nya.  Tokoh-tokoh dalam novel ini bisa didefinisikan dan nasibnya ditentukan oleh sejauah mana mereka mam­pu bergerak melewati dirinya. Susah untuk memahami ma­sya­rakat dan pengaruhnya. Karenanya, sejauah mana para tokoh memahami medium tempat mereka berada men­jadi indikasi yang paling lembut dan gampang dari kepribadian dan nilai. Keba­nyakan novel berada pada posisi tengah dari realitas yang sulit dan dipahami, tidak mudah dipahami tapi ada potensi untuk dimengerti. Pengaruh sebua karya sastra amat nyata dan real.

Tatkala pengetahuan ke­be­naran masyarakat menjadi mustahil, lalu persepsi seseo­rang menjadi absolut dan tegas bagi diri sendiri. Seseo­rang tidak punya pilihan kecuali bertindak d atas apa yang diyakininya untuk mem­bentuk suatu nasib personal oleh persepsi medium seseo­rang. Dalam upaya pencarian makna, masyarakat tak jarang menyuguhkan bentuk-bentuk aneh yang menunjukkan pro­yek­si pikiran dan ego seseo­rang terhadap obyek yang dicarinya.di saan visi menjadi kabur, maka keraguan akan masuk menghampiri.

Peranan formal masya­rakat dalam novel-novel terse­but berkelindan dengan tema-tema yang didefiniskan ketia­ka suatu novel-novel tersebut terbentuk. Masyarakat adalah medium terjadinya tindakan dan nasib seseorang sekaligis akhir atau obyek pencarian tokoh-tokoh dalam novel. Akibat peran ganda ini, masya­rakat bukanlah tatanan nilai yang konstan dan tetap. Seba­liknya, ia adalah seperangkat kasar tentang kesan dan kebenaran  sekilas yang hendak dicari dan dipahami.

Dalam Absolum, Absolum!, Quentin  Compson berjuang menemukan kebenaran sosial tentang Sutpen dan masya­rakat Selatan untuk menem­patkan dan menyepakati posisinya dalam masyarakat kontemporer. Adapun lewat The Castle, K. berupaya men­cari hubungan antara kastil dan penduduk desa untuk menemukan maknda dan penegasan eksistensi dirinya. Terakhir, dalam The Crying for Lot 49, Oedipa Maas mencari alternatif bagi “mena­ra” (tower) California selatan dengan mengeksplorasi bata­san terhadap budaya masya­rakat itu. Pada setiap kasus, masyarakat berperan sebagai medium tindakan dan nasib individu sekaligus kunci dalam setiap upaya pencarian mak­na.

Faulkner, Kafka, dan Pyn­chon mengambil benang me­rah yang penting bahwa ma­sya­rakat nyata atau imajiner memberikan pengaruh yang hebat terhadap kehidupan individu. Perpaduan antara keraguan terhadap sifat reali­tas dan keyakinan pada kebu­tuhan seorang individu untuk menghadapi dunia di luar dirinya telah menghasilkan bentuk-bentuk baru tragedi dan pathos.n

Oleh Donny Syofyan

Dosen FIB Universitas Andalas

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy