Senin, 22 Desember 2014
BNP2TKI Amankan 84 Calon TKI Ilegal PDF Cetak Surel
Senin, 16 Januari 2012 02:49

BATAM, HALUAN —Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), amankan 84 calon tenaga kerja Indonesia (TKI) di­duga ilegal.

Usai mengamankan, Kepala (BNP2TKI) Jamhur Hidayat langsung melakukan sidak di pelabuhan internasional ferry Batam Centre, Minggu (15/1).Menurut Jamhur, Batam merupakan pintu utama masuk­nya calon TKI ilegal yang akan dikirim ke luar negeri.

"Batam merupakan daerah yang sangat rawan di Indonesia untuk pengiriman TKI ilegal ke luar negeri," ujarnya didampingi Direktur Pengamanan BNP2TKI, Brigjend Bambang Purwanto.

Saat ini, 84 calon TKI diduga ilegal tersebut ditampung se­mentara di Gedung Lembaga Pengawasan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (LP2TKI) Batam Centre. Para calon TKI yang berasal dari Madura dan beberapa daerah di Jawa Timur ini diamankan di Bandara Hang Nadim, Sabtu (14/1), karena diduga tidak memiliki dokumen resmi untuk berangkat ke luar negeri dengan tujuan Singapura dan Malaysia.

Pengiriman calon TKI ilegal ini dilakukan setelah timbul kecurigaan saat para calon TKI tersebut tiba di Bandara Hang Nadim. Dari bandara Hang Nadim, para calon TKI tersebut dikoordinir oleh pihak tertentu menuju pelabuhan internasional ferry Batam Centre. Saat itulah petugas BNP2TKI langsung melakukan pemeriksaan dan mendapati tidak adanya do­kumen lengkap yang dimiliki para calon TKI.

"Penyalur yang menjadi ter­sangka pengiriman calon TKI ilegal belum berhasil ditangkap. Sementara para calon TKI di­amankan di gedung LP2TKI untuk selanjutnya dipulangkan kembali ke daerah masing-masing. Dan bagi yang memiliki dokumen lengkap, akan diizinkan untuk berangkat," ujarnya.

Selain Batam, dua daerah lain di Provinsi Kepri, Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Pinang juga dinyatakan sebagai daerah yang rawan bagi pe­ngiriman TKI ke luar negeri. Pengiriman TKI ilegal ke luar negeri ini semakin meningkat dengan adanya kebijakan mo­ratorium (penghentian sementara) TKI ke beberapa negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan lainnya.

Pasca moratorium, Batam menjadi jalur utama ke­berang­katan TKI menuju Timur Tengah melalui Singapura ataupun Ma­laysia. Modusnya, dari daerah asal, para calon TKI akan menuju Batam terlebih dahulu. Untuk kemudian berangkat naik fery ke Malaysia ataupun Singapura, baru terbang ke negara-negara di Timur Tengah yang hendak dituju.

Dalam operasi yang dilakukan di beberapa negara di Timur Tengah beberapa waktu lalu, BNP2TKI mendapati puluhan TKI yang mengaku berangkat melalui Batam, lalu menuju Singapura ataupun Malaysia sebelum ter­bang ke negara tujuan di Timur Tengah. Apalagi dengan tidak adanya visa yang di­berlakukan bagi penduduk di kawasan Asean untuk masuk di wilayah sesama negara Asean. Asal ada paspor, bisa langsung pergi ke negara-negara yang ada di Asean.

"Asean merupakan negara pertama yang dijadikan sarana oleh para TKI untuk melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah. Karena tidak bisa berangkat langsung dari Jakarta menuju Timur Tengah, akibat adanya moratorium," ungkapnya.

Jamhur mengakui, kebijakan moratorium tidak membuat para TKI kehilangan akal untuk berangkat menuju Timur Tengah. Meski sebagian dari mereka akhirnya tertangkap, namun yang tidak tertangkap diyakini masih lebih banyak. Setiap tahunnya, diperkirakan seanyak 15 hingga 20 ribu TKI dipulangkan dari luar negeri.

Untuk itu, perlu dibangun kesadaran masyarakat yang ingin menjadi TKI ke luar negeri. Untuk berangkat melalui jalur resmi dengan tujuan ke negara-negara yang dianjurkan oleh pemerintah.

Jika melalui jalur yang tidak resmi, maka pemerintah akan sulit memberikan jaminan per­lindungan bagi para TKI. Selain nilai tawar gaji yang rendah dan dampak buruk seperti siksaan ataupun perlakuan buruk lainnya yang terkadang harus dialami TKI.

"Kesadaran masyarakat ma­sih rendah, terkadang mereka mudah terbujuk dengan iming-iming para calo TKI untuk be­kerja di Timur Tengah, meski pemerintah sedang melakukan moratorium. Mereka tidak sadar, resiko tinggi yang dihadapi jika menjadi TKI, terutama yang tidak memiliki dokumen len­g­kap," ujarnya.

Sementara itu, di tempat penampungan TKI di Gedung LP2TKI Batam Centre, wartawan tidak diizinkan untuk melihat kondisi calon TKI yang telah diamankan. Pihak security be­ralasan, para wartawan belum mendapatkan izin dari petugas.

"Kita belum bisa izinkan (media) masuk ke dalam, kecuali ada rekomendasi dari pak Ma­nurung (Kepala LP2TKI) Batam," ujar salah seorang security, Musaidy.

Namun dari informasi ke­luarga calon TKI, jumlah calon TKI yang ditampung sudah berkurang dari jumlah sewaktu diamankan. Dimana saat di­amankan, jumlah­nya sebanyak 84 calon TKI, dan kemarin siang tinggal 49 calon TKI. Menurutnya, berkurangnya jumlah calon TKI di penampungan, dikarenakan banyak calon TKI yang sudah dijemput keluarganya yang ada di Batam.

Keluarga calon TKI ini pun menyatakan kecewa atas di­amankannya salah seorang keluarganya di Bandara Hang Nadim. Karena keluarganya yang bernama Asrufin, asal Kota Kediri, Jawa Timur ini memiliki dokumen yang lengkap.

"Dia (Asrufin) pulang karena cuti, kok mau balik ke Malaysia justru ditangkap. Padahal dia sudah ada KTKLN, permit, paspor dan dokumen yang leng­kap," ujarnya kesal. (wan)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy