Minggu, 19 May 2013
Gelisah ‘Sindrom Politisasi’ PDF Cetak Surel
Selasa, 28 Desember 2010 23:54

Radhar Panca Dahana

BUDAYAWAN Radhar Panca Dahana tiba-tiba berbicara sepakbola. Saat  memberikan penjelasan kepada wartawan tentang anugerah Federasi Teater Indonesia (FTI) kepada dramawan Wisran Hadi, ia menyebut tim nasional Indonesia telah memberikan setitik air di tengah kegersangan akan nilai-nilai persatuan. Masyarakat Indonesia menjadi satu dalam euforia ‘Garuda di Dadaku.’

Menurut Radhar, ini merupakan energi positif. Ia bisa menjadi momentum untuk kebangkitan Bangsa Indonesia, di tengah lunturnya semangat berbangsa. Sebab, menurut penerima medali Frix de le Francophonie 2007 dari 15 negara berbahasa Prancis ini, saat sekarang sulit menunjukkan identitas ke-Indonesian. “Masyarakat kita cenderung individualistis,” ujarnya.

Suara Radhar sedikit naik ketika menyebutkan, rasa nasionalisme yang (kembali) muncul tersebut, diganggu oleh kerja politik. Radhar menyorot harga tiket yang dinaikkan. Menurutnya, harga tiket tersebut bermuara pada keuntungan. Berbicara keuntungan, tentu pihak yang menuai hasilnya adalah PSSI.

“Sepakbola ini pesta rakyat, bukan PSSI,” ujarnya geram.

Ketakutan Radhar, keuntungan dari tiket tersebut dimanfaatkan oleh partai tempat Ketum PSSI, Nurdin Halid, berlabuh untuk kepentingan yang politis juga. Kerja politis semakin terlihat ketika di mana timnas tampil, selalu ada spanduk yang bertuliskan untuk meminta Nurdin Halid untuk mundur. Namun, lagi-lagi, karena didasari politis, telinga Nurdin seakan sudah peka dengan hal tersebut.

“Kebangkitan dinodai oleh tokoh-tokoh pentagonis. Momen untuk kebangkitan Indonesia dinodai politik,” lanjutnya.

Radhar hanya berharap, di dalam kesenian, tempat ia menyumbangkan banyak pikirannya, tak ada aktor-aktor politis. Kalau kesenian telah dipolitisir, ia kuatir, kesenian tak lagi mencari nilai, tapi materi. “Untuk itu, kita harus kuat,” ujarnya. (h/adk)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: