Senin, 24 November 2014
Bahagia Bersama Rasulullah PDF Cetak Surel
Jumat, 03 Februari 2012 04:03

Kepribadian Ra­sulul­lah adalah teladan bagi seluruh umat  manusia. Laqad kana lakum fi­Rasulillahi uswatun ha­sa­nah. Sungguh ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang paling baik.

Dalam diri Rasulullah SAW terangkum keindahan-keindahan  Alquran.  Siti Aisyah, istri Rasul, ketika ditanya tentang akhlak Rasul, ia menjawab, khuluquhu  al-Quran’ (akhlaknya  Muhammad itu  Alquran).  Sehingga tidak salah seluruh sisi kehidupan Rasul menjadi inspirasi, motivasi dan teladan banyak orang.

Bila kita cermati perjalanan hidup beliau, maka kita akan terkesan betapa sebuah perjalanan hidup yang sangat mengagumkan. Mulai dari sikap, perilaku, tutur kata, fesen, rumah tangga, pergaulan sosial dan kehidupan kenega­raannya. Seluruh sisi kehidupan beliau diamati, dipelajari, dan dituangkan dalam ribuaan bahkan mungkin jutaan jilid buku, yang telah melahirkan ribuan bahkan mungkin jutaan sarjana, magister, bahkan doktor.

Beliau bukanlah orang kaya. Beliau tidak memilih jalan mulkan nabiyya. (Nabi yang menjadi raja). Akan tetapi beliau lebih memilih jalan abdan nabiyya . (Nabi rakyat jelata). Perjalanan hidup beliau penuh dengan berbagai kesulitan dan penderitaan. Fitnahan, caci maki, dimusuhi bahkan dilempari kotoran onta. Di rumah beliau  tidak tersedia makanan yang melebihi persiapan untuk tiga hari. Besar rumah beliau tidak lebih dari 5 meter. Beliau menambal bajunya sendiri,  menjahit  kasutnya sendiri. Semua  ia lakukan.

Di malam hari ia berdiskusi dengan para sahabat dan salat tahajut di masjid, sehigga ia terlambat pulang, dan didapati istrinya telah tidur,  suami yang selalu bersuara lembut dan lirih terhadap istri, tidak tega mem­bangunkan istri yang telah tidur, takut tidur istrinya terganggu, hingga ia rela tidur di depan pintu.

Kecintaan beliau kepada saha­bat melebihi kecintaan beliau kepada dirinya sendiri. Sehingga sangat wajar bila sahabat  juga sangat mencintai Rasul. Kecintaan para sahabat kepada Rasul mele­bihi cinta terhadap diri dan keluar­ganya. Sehingga setiap apa yang dikatakan Rasul, diikuti dan di­patuhi oleh seluruh sahabat. Para sa­habat mengikuti perintah Rasul de­ngan penuh cinta. Kecintaan para sa­habat kepada Rasul bukan se­mata karena ia Rasul, manusia su­ci. Akan tetapi karena Rasul juga men­cintai sa­habat dengan sepenuh hati.

Rasulullah SAW sangat men­cintai umatnya, protektif terhadap umatnya, dan amat lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman. Di kala sang malaikat Izrail akan menjemputnya, yang keluar dari mulutnya  adalah ummati, ummati, ummati. Umatku, Umatku, umatku adalah sebuah kekhawatiran se­kaligus bukti kecintaan beliau ke­pada umatnya. Kecintaan Rasu­lullah SAW dengan umatnya, tidak hanya di dunia saja, akan tetapi juga sampai ketika hari berbangkit dan di Padang Mahsyar. Dalam riwayat di­ceritakan, bahwa orang yang per­tama dibangkitkan oleh Allah kelak adalah nabi Muhammad SAW.

Ketika ia dibangkitkan, kata-kata yang pertama keluar dari mulut beliau adalah “aina ummati” di mana umatku? Persis ketika orang bangun tidur bertanya tentang anak atau istri yang ia cinta  tidak berada di sampingnya. Tidak hanya sampai di situ,  dalam satu riwayat dikatakan, bahwa kelak di Padang Mahsyar Rasulullah SAW ingin seluruh umatnya mendapatkan syafa’at (intersesi yang dapat menjauhkan dari api neraka) dari beliau. Di kabarkan juga, kelak beliau akan mengundang kesana ke mari, halumma, halumma. Mana kalian umatku. Datanglah ke sini akan aku beri syafa’at. Itulah sebagian kecil kecintaan beliau kepada umatnya.

Sungguh besar pengaruh kecin­taan kita kepada sesuatu. Kalau kita mencintai sepakbola, misalnya, maka kita akan mencintai apa saja yang berkenaan dengan sepak bola. Kita akan berlanganan majalah bola. Kita akan mengenal dengan semua pemain-pemain bola. Kita akan menempel poster pemain bola. Kita akan mengoleksi aksesoris-aksesoris yang berkenaan dengan bola.

Kalau tim kesayangan kita bertanding, maka tanpa kita sadari, emosi kita juga larut dalam pertan­dingan. Bahkan kita rela bangun tengah malam untuk menyaksikan tim kesayangan kita bertanding. Ketika bintang sepak bola datang ke Jakarta, ribuan orang datang tanpa panitia hanya untuk melihat, bersalaman, atau paling tidak untuk menyetuh bekas apa  yang disentuh oleh sang bintang. Ketika Michael Jakson tampil di panggung ribuan orang menyaksikannya. Banyak yang menjerit histeris dan pingsan ketika sang bintang bernyanyi. Begitulah kalau kita sudah mencintai sesuatu.

Meskipun kita tidak bertatapan dan bertemu langsung beliau, akan tetapi beliau terasa begitu dekat dengan kita. Seakan beliau hadir di tengah-tengah kita, menyapa dan menyampaikan petuah-petuah di hadapan kita.

Maka adalah kewajiban kita untuk mencintai dan bershalawat kepadanya, mencintainya tentu diikuti dengan meneladani akh­laknya. Ketika salah seorang sahabat menemui beliau, dan berkata “Ya Rasulullah aku men­cintai mu” Rasul berkata “Engkau beserta orang yang engkau cintai” semoga kelak kita dikumpulkan oleh Allah SWT bersama Rasu­lullah SAW yang kita cintai.

 

ZULKIFLI MA

(Kepala KUA Kecamatan Padang Timur Kota Padang)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: