Kamis, 24 April 2014
Keluarga Berkarakter yang Islami PDF Cetak Surel
Jumat, 10 Februari 2012 02:19

Alkisah, khalifah Umar bin Khattab sering mela­kukan ronda malam untuk berkeliling kampung memeriksa keadaan rakyatnya.

Suatu ketika ia men­dengar percakapan seorang ibu dengan anak gadisnya di sebuah gubuk yang seder­hana. Me­reka adalah penjual susu yang miskin.

Ibunya berkata, “Wahai putriku, segeralah kita tam­bah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”. Anaknya menja­wab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Muk­minin melarang kita berbuat begini”

Sang ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”. Dengan bijak anak perem­puan itu berkata, “Jika Ami­rul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.

Khalifah Umar yang men­de­ngar kemudian menangis terharu. Betapa mulianya hati anak gadis itu. Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim bin Umar untuk meni­kahi gadis itu.

“Semoga lahir dari ketu­runan gadis ini bakal pe­mimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”, harap Umar.

Asim bin Umar yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin terse­but. Di kemudian hari, per­nikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Kelak, Ummu Asim menikah de­ngan Abdul-Aziz bin Mar­wan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz. Umar bin Abdul Aziz merupakan salah seo­rang pemimpin (khalifah) ternama dan dianggap paling sukses di antara para khalifah Bani Umayyah.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa calon istri yang shalehah lagi ber­karakter sangat berperan dalam mela­hirkan generasi yang­ ber­karakter. Jika dihu­bungkan dengan konteks kekinian, sekolah sebagai lembaga for­mal sedang gencar-gencarnya merencanakan pendidikan karakter. Padahal, pendidikan karakter di sekolah akan sulit berhasil tanpa dukungan dari keluarga.

Islam mengajarkan jika menginginkan generasi ya­ngberkarakter, berakhlak mulia, atau anak yang shaleh, mulailah dari keluarga. Dalam lembaga keluarga sendiri, pembentukan karakter itu mesti dimulai sejak mencari jodoh. Terdapat ayat dan hadis Nabi SAW yang mengi­sya­ratkan hal demikian.

Dalam hadis, misalnya, Rasulullah SAW menegaskan bahwa untuk menikahi pe­­­rem­puan hendaklah me­­nguta­makan agamanya. Sab­danya:

Dinikahi perempuan itu karena empat hal, yaitu keka­yaan, keturunan, ke­cantikan, aga­manya, maka pilihlah yang mempunyai agama yang kuat, niscaya kamu akan beruntung. (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah SWT juga berfirman: Dan janganlah kamu me­nikahi perempuan-perempuan mu­syrik sebelum mereka ber­iman, sesungguhnya perem­puan buduk mukmin lebih baik daripada perempuan musyrik walau ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan perempuan mukmin) sebelum mereka beriman.

Sesung­guhnya budak laki-laki yang beriman lebih baik daripada orang musyrik walau ia menarik hatimu, mereka mengajak ke nereka, sedang Allah SWT mengajak ke surga dan am­punan dengan izin-Nya. (QS. Al-Baqarah: 221).

Ayat di atas menjelaskan bahwa seseorang yang ber­karakter (mukimin) dila­rang untuk menikah dengan orang-orang musyrik (berperi­laku buruk/jelek), baik bagi laki-laki maupun perem­puan. Hal ini menun­jukkan bahwa untuk mem­bentuk karakter anak ketu­runan di masa mendatang perlu memilih dan menen­tukan pasangan sebe­lum menikah.

Demikian pula perintah memilih jodoh dengan menge­depankan agamnya dalam hadis di atas. Agama dimak­sud bukan hanya seke­dar menga­kui Islam sebagai aga­manya secara formal. Tetapi Islam sebagai jalan hidupnya.

Seorang istri atau pasa­ngan hidup harus taat dalam men­jalankan ajaran Islam. Ketika seorang ibu memiliki karakter Islami, maka dengan sendirinya akan mudah untuk melahirkan anak-anak ber­karakter Islami (saleh) terse­but.

Coba renungkan, seorang ibu yang beriman dan taat beragama. Ketika mengan­dung, lisannya senantiasa berzikir dengan kalimat-kalimat thay­yibah dan mem­baca ayat-ayat Alquran.

Ia senantiasa selektif terha­dap makanan dan hanya mengkonsumi yang halal lagi baik. Ketika anak lahir, sang suami mengumandangkan azan, menanamkan pendidikan tauhid sejak dini.

Kedua orang tuanya juga memberi nama yang baik, menyembelih akikah, lalu mentahnikkannya. Nama yang baik mengandung harapan, cita-cita dan doa agar anak tampil seperti namanya. Akikah mendidik karakter kepedulian sosial yang tinggi pada diri sang anak.

Se­dangkan tahnik (meng­gosok-gosokkan kurma/mani­san pada langit-langit anak) men­didik agar anak mampu memelihara lisannya dan hanya menge­luarkan kata-kata yang manis lagi menye­nang­kan bagi orang lain.

Sang ibu pun membiasa­kan kalimat-kalimat thayyi­bah pada anaknya di setiap aktivitas. Membaca basmalah dan doa-doa tertentu ketika bayi itu hendak makan, mi­num, me­nge­nakan pakaian, membuang kotoran dan se­bagai­nya.

Ibunya juga memenuhi keinginan sang anak dengan penuh kasih sayang. Tak ada kekerasan dengan hardikan yang kasar lagi menyakitkan. Jika ada hukuman bagi si anak, bukan dalam bentuk kekerasan, tetapi ketegasan yang bersifat edukatif.

Sedangkan si ayah mem­perlakukan si anak dengan penuh keteladanan. Setiap hari ayah bekerja tekun dengan kejujuran dan didikasi yang tinggi. Ketika di rumah, azan berkumandang, si ayah berse­gera pergi ke masjid men­dirikan shalat berjamaah. Usai shalat Maghrib, si ayah mengumandangkan ayat-ayat Alquran di hadapan anak-anaknya. Bahkan ketika anak itu sudah bisa membaca, mereka (ayah dan ibu) bersa­ma anaknya, membaca Alqu­ran secara tadarusan.

Subhanallah… Pola pen­didikan seperti itu hanya bisa diterapkan oleh pasangan suami istri yang taat menj­alankan agama Islam. Jika pola pendidikan ini dilakukan di lingkungan keluarga, maka dengan sendirinya akan mu­dah membentuk anak-anak yang berkarakter.

Inilah gambaran keluarga berkarakter yang diidam-idamkan. Setiap anggota keluarga akan berkata: baity jannaty, rumahku adalah surgaku. Bukankah Allah juga menyeru kepada setiap orang tua: peliharalah dirimu dan keluagamu dari api neraka… (Qs. at-Tahrim/66: 6)

Karena itu, orang tua dituntut untuk memper­hatikan pergaulan dan lingkungan anaknya. Bukan berarti meng­hambat kebeba­san anak, tetapi tetap mem­beri ruang gerak anak untuk bebas me­ngem­­bangkan dirinya, tetapi ke­bebasan itu terkendali dan terkontrol oleh kedua orang tuanya.

Ketika anak sudah berusia remaja, peran orang tua sa­ngat dibutuhkan dalam me­ngon­trol pergaulannya. Aneh, ada orang tua yang mem­biarkan, atau malah memberi kesempatan kepada anaknya bergaul bebas, pergi berduaan dengan pa­carnya yang bukan mahram. Mereka berkhlawat berduaan.

Atau ada pula orang tua yang bangga ketika melihat anaknya sudah pandai ber­pacaran. Akibatnya anak itulah yang kelak menjadi korban. Na’udzubillah.

Banyak kasus yang menun­jukkan bahwa “kenakalan remaja” disebabkan oleh kurangnya perhatian dan control dari orang tuanya, atau buruknya komunikasi antara orang tua dengan anaknya. Sibuk dengan aktivitas ma­sing-masing, lupa tang­gung­jawabnya dalam mendidik dan mem­bangun karakter anak-anak­nya.

Karena itu, orang tua mesti komunikatif terhadap anak-anaknya. Hal itu dapat dila­kukan dengan cara makan bersama, shalat berjamaah ke masjid, dan/atau tadarus al-Qur’an, seperti yang dijelaskan di atas.

Jika keluarga berkarakter telah terbentuk, sekolah akan lebih berkonsentrasi dalam mengembangkan potensi anak sesuai dengan bakat dan minatnya. Tidak seperti yang biasa terjadi, guru-guru mera­sa kewalahan mendidik karak­ter anak di sekolah.

Tidak sedikit kasus yang menunjukkan bahwa guru tak lagi ikhlas mendidik anak didiknya karena membangkang dan sulit diatur. Bahkan ditemukan pula sejumlah kasus orang tua sendiri menga­ku “angkat tangan”, karena tak sanggup lagi mendidik anak kandungnya sendiri.

Karena itu, saling salah-menyalahkan pun sering terde­ngar. Guru menyalahkan orang tua yang tak beres mendidik anaknya di rumah. Sementara orang tua juga mengeluhkan para guru yang tak profesional mendidik karakter anak didik­nya.

Menyikapi persoalan ter­sebut, sudah saatnya kita konsisten menjalankan tugas kita sesuai dengan tuntunan Islam.

Orang tua bertang­gung­jawab mendidik fisik dan ruhaniyah setiap anaknya. Pendidikan ruhani itu akan mudah dilakukan dengan keteladanan seraya doa yang tulus kepada Allah al-Hadi (Maha Pemberi Hidayah).

Begitu pula guru, se­sung­guhnya berperan sebagai orang tua ruhani. Setiap guru ditun­tut untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Guru tidak saja mengajar, tetapi harus mendidik. Ketika azan ber­kumandang, hentikan segala aktivitas di sekolah. Secara bersama guru-guru mendirikan shalat berjamaah di lingkungan sekolah dengan anak-anak didiknya.

Apalagi jika sekolah ber­dekatan dengan masjid. Lalu masyarakat sekitar, guru-guru dan karyawan sekolah ber­sama peserta didik melak­sanakan shalat zhuhur ber­jamaah. Lingkungan seperti inilah yang senantiasa dirin­dukan oleh lembaga pen­didikan dalam membentuk karakter anak didiknya.

Upaya seperti ini akan efektif mendidik karakter anak. Sebab, pendidikan ka­rak­ter bukan diajarkan, tetapi dibia­sakan dengan kete­lada­nan dan kasih sayang.

Jika terjadi kerjasama dengan menjalankan tugas dan peran masing-masing sesuai tuntunan Islam, niscaya Allah akan memberi hidayah atau petunjuk bagi anak-anak kita sehingga mereka tumbuh dan berkembang menjadi insan yangberkarakter.

Sekali lagi, mulailah dari keluarga sebagai pondasi utama pembentukan karakter anak. Wallahu a’lam.

 

MUHAMMAD KOSIM, MA

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy