Kamis, 20 Juni 2013
Memahami Museum PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 06 Februari 2011 00:35

TAK tertampik, di Indonesia, juga di Sumatera Barat, pengenalan publik terhadap museum masih belum memadai.

Jamak diketahui, arti mu­seum oleh sebagian besar masyarakat adalah bangunan atau gedung yang menyimpan benda-benda antik, barang-barang kuno, peninggalan-peninggalan sejarah. Jadi, di sini tersirat asas manfaat. Etnik Minangkabau, setahu saya, tidak mengenal museum ke­cuali puro, tempat me­nyimpan (kekayaan). Ada kata lumbuang tetapi mengacu pada tempat menyimpan bahan makan (padi) atau kacio tempat me­nabung, menyimpan uang.

Risalah puro, lumbuang, kacio atau kata-kata lain ber­makna mirip mungkin ada, tetapi mengindentikkan kata-kata itu dengan museum perlu diskusi dan bahkan penelitian mendalam sehingga, dengan demikian, keabsahan Mi­nang­kabau sesungguhnya punya sosok “museum” terujud. Kalau tidak atau belum terujud, maka museum tetap menjadi pen­datang dalam khasanah kultural daerah ini.

Dan di Sumatera Barat, museum mulai “dikenal” mungkin baru pada tahun 1976 ketika di Kota Padang dires­mikan Museum Negeri “Adit­yawarman” yang kemu­dian berubah nama men­jadi Mu­seum Nagari. Sebelum itu belum pernah ada museum biarpun ada beberapa rumah adat atau rumah gadang atau kebun binatang yang difung­sikan seolah-olah muse­um. Kebun binatang atau kebun raya pada waktunya disebut museum alam (terbuka) wa­laupun hal ini memerlukan pengelolaan tersendiri. Rumah pribadi bahkan bisa diubah menjadi museum seperti yang tersua di negara-negara modern.

Di dunia, Museum Louvre, Paris, Prancis, adalah museum terbesar dan paling terkenal. Lembaga paling berwibawa adalah Smithsonian Institution di Washington, D.C. Amerima Serikat. Di sana, sekedar contoh, “terpajang” suhu alam dan binatang buas khatulistiwa, harimau, persis suasana Pulau Sumatera. Juga bisa disaksikan, dalam kotak kaca antiperluru, “batu” yang diambil Louis Amstrong di bulan. Dan untuk menyaksikan “isi” Smithsonian Museum diperlukan waktu lebih daripada satu pekan.

Gedung Opera, Pustaka, Museum

Demikianlah, anggapan publik tak salah, tak perlu disalahkan. Cuma, anggapan itu perlu “diluruskan” agar publik tidak selalu terjebak pada pemaknaan sempit, ker­dil, lucu dan bisa me­masy­gulkan. Untuk itu dirujuk pengertin atau definisi yang diberikan secara baku oleh Dewan Museum Internasional, International Council of Mu­seums (ICOM). Menurut IC OM, museum adalah insti­tusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, terbuka, dengan melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan hiburan.

Definisi itu berlaku umum, di seluruh dunia tetapi belum banyak publik maklum. Betapa lagi ada beberapa kata yang perlu penjelasan panjang-lebar: institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, meriset, me­ngomunikasikan, dan me­mamer­kan kepada mas­yarakat untuk kebutuhan studi, pen­didikan, dan hiburan.

Secara etimologis, museum berasal dari kata Yunani, mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil untuk sembilan Dewi Muses, anak-anak Dewa Zeus yang melambangkan ilmu dan ke­senian.

Bangunan lain yang diketahui berhubungan dengan sejarah museum adalah bagian kompleks perpustakaan yang dibangun khusus untuk seni dan sains, terutama filosofi dan riset di Alexandria oleh Pto­lemy I Soter pada tahun 280 SM. Sejak 1977 tiap tanggal 18 Mei diperingati sebagai hari Hari Museum Internasional.

Di Indonesia, pertama kali dibangun adalah Museum Radya Pustaka. Selain itu dikenal Museum Gajah yang dikenal sebagai yang terlengkap koleksinya di Indonesia, Mu­seum Wayang, Persada Soe­karno, Museum Tekstil serta Galeri Nasional Indonesia yang khusus menyajikan koleksi seni rupa modern Indonesia.

Di dunia ilmu, dike­nal museologi, ilmu per­muse­uman. Satu-dua perguruan tinggi negeri di Jakarta dan Bandung punya Jurusan Muse­ologi. Sebelum itu, per­museu­man harus dipelajari ke Negeri Belanda, Amerika Serikat dan beberapa negara maju. Tetapi di Padang, Su­matera Barat, setahu saya, sampai sekarang belum ada museolog. Beberapa orang staf museum memang sempat me­ngikuti pelatihan ilmu per­museuman tetapi tentu saja hasil yang diraih masih sangat ter­batas. Padahal, sebuah kota yang maju harus punya gedung opera, pustaka dan museum yang bergezah.

Budaya Nasional dan Glo­bal Dalam konteks sosialisasi museum, pekan lalu Museum Nagari Sumatera Barat me­ngadakan pertemuan terbatas dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sum­bar.

Inisiatif diambil oleh Prof. Dr. Mestika Zed, M.A. dan Kepala Museum Nagari Drs. H. Muasri. Diskusi terbatas itu antara lain dihadiri oleh Rusli Marzuki Saria, Eri Mefry, Dra. Adriyetti Amir, S.U., Dr. Zainal Arifin, M.Hum., Dr. Aritona, M.Hum. dan tiga staf museum. Inti ota-ota adalah bagaimana jumlah (kuantitas) pengunjung muda ke museum bertambah.

Untuk itu disepakati beberapa hal. Pertama, dilatih guru-guru untuk memahami apa itu museum. Kedua, guru-guru itu kemudian diminta mengajarkan dan menjelaskan kepada murid-murid mereka, bahwa museum, sesuai definisi, berarti penting untuk ke­hidupan. Ketiga, museum diminta membenahi diri secara maksimal, baik dari segi pe­nampilan (yang atraktif) dan sumber daya manusia (staf) yang bermutu.

Terkesan mudah dan sederhana, memang. Tetapi sesungguhnya tidak! Satu hal yang sangat penting adalah masalah pendanaan. Museum negeri jelas dibiayai melalui APBN dan APBD. Cukup memadaikah dana yang dia­lokasikan untuk museum dari tahun ke tahun? Betapa lagi untuk Museum Nagari yang juga mengalami kerusakan sebagai akibat gempa bumi dahsyat pada 30 September 2009.

Bangunan induk patah-patah dan sejumlah benda koleksi rusak parah. Bangunan induk diperbaiki, dan beberapa benda koleksi direnovasi de­ngan bantuan UNESCO.

Usul menarik Mes­tika Zed, alasan ada (condition sine quanon) museum sejak semula dihubungkan dengan gagasan mulia mendorong perkembangan kesadaran dan pengertian tentang bagaimana menjalani hidup baik personal maupun kolektif.

Museum tidak lagi sekedar memenuhi fungsi praktikal, tetapi juga sebagai tempat pengembangan ke­sadaran dan pemahaman kreatif anggota masyarakat, secara khusus dunia pendidikan. Kunjungan ke museum patut merangsang orang untuk beri­ma­jinasi, mengintegrasikan nilai dan perilaku, me­ngem­bangkan budaya na­sional dan glo­bal yang berkelanjutan tanpa perlu kehilangan iden­titas dan watak bangsa.

 

(Darman Moenir)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy