Kamis, 23 Oktober 2014
Ketiadaan Terminal Picu Pungli PDF Cetak Surel
Rabu, 22 Februari 2012 02:07

PELAKU JARAH RP45 JUTA PER HARI

PADANG, HALUAN —Tidak adanya terminal menjadi salah satu pemicu maraknya pungutan liar terhadap sopir angkutan kota.

“Tidak adanya terminal menjadi akar masalah pungu­tan liar terhadap sopir ang­kutan kota, karena itu langkah yang paling tepat untuk mem­berantasnya dengan mem­bangun kembali terminal,” kata anggota DPRD Kota Padang Pun Ardi, Senin (20/2)

Keluhan sopir angkot kata­nya, kian maraknya pungutan liar yang dilakukan kepada mereka dengan modus pen­jualan air minum, tisu dan lainnya. Untuk itu  Pemko harus serius menindaklanjuti rencana pembangunan ter­minal angkot, karena jika ada yang berpendapat terkendala dana hal itu sebenarnya dapat dibicarakan.

“Jika memang Pemko bersungguh-sungguh dapat mengajukan rencana pem­bangunan terminal kepada DPRD. Apalagi hal itu meru­pakan kebutuhan masyarakat yang sangat mendesak tentu akan disepakati,”  lanjutnya.

Selama ini pembangunan terminal baru lebih sebatas rencana, dan wacana tanpa diikuti program yang konkrit yang diajukan kepada DPRD. Akibatnya, jika petugas men­coba menertibkan pelaku pungutan liar, beberapa saat setelah itu mereka akan kembali muncul

Ia juga mengharapkan Dinas Perhubungan menindak tegas oknum pelaku pungutan liar itu. Berdasarkan catatan Di­nas Perhubungan Kota Padang terdapat sekitar 25 titik pungutan liar

Pelaku pungutan liar ber­kedok menjual tisu, air mi­neral, hingga pengharum angkot, dan barang-barang tersebut wajib dibeli sebab jika menolak maka dapat terjadi keributan..

Menurut Kepala Dishub Padang Firdaus Ilyas dalam satu hari minimal sopir me­nge­luarkan dana pungu­tan liar sebesar Rp15 ribu. Jika angkot di Kota Padang ber­jumlah sekitar 3.000 unit, maka sekitar Rp45 juta ter­kumpul oleh pelaku pungli. (h/ade)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: