| Ketiadaan Terminal Picu Pungli |
|
|
|
| Rabu, 22 Februari 2012 02:07 | |||
|
PADANG, HALUAN —Tidak adanya terminal menjadi salah satu pemicu maraknya pungutan liar terhadap sopir angkutan kota. “Tidak adanya terminal menjadi akar masalah pungutan liar terhadap sopir angkutan kota, karena itu langkah yang paling tepat untuk memberantasnya dengan membangun kembali terminal,” kata anggota DPRD Kota Padang Pun Ardi, Senin (20/2)Keluhan sopir angkot katanya, kian maraknya pungutan liar yang dilakukan kepada mereka dengan modus penjualan air minum, tisu dan lainnya. Untuk itu Pemko harus serius menindaklanjuti rencana pembangunan terminal angkot, karena jika ada yang berpendapat terkendala dana hal itu sebenarnya dapat dibicarakan. “Jika memang Pemko bersungguh-sungguh dapat mengajukan rencana pembangunan terminal kepada DPRD. Apalagi hal itu merupakan kebutuhan masyarakat yang sangat mendesak tentu akan disepakati,” lanjutnya. Selama ini pembangunan terminal baru lebih sebatas rencana, dan wacana tanpa diikuti program yang konkrit yang diajukan kepada DPRD. Akibatnya, jika petugas mencoba menertibkan pelaku pungutan liar, beberapa saat setelah itu mereka akan kembali muncul Ia juga mengharapkan Dinas Perhubungan menindak tegas oknum pelaku pungutan liar itu. Berdasarkan catatan Dinas Perhubungan Kota Padang terdapat sekitar 25 titik pungutan liar Pelaku pungutan liar berkedok menjual tisu, air mineral, hingga pengharum angkot, dan barang-barang tersebut wajib dibeli sebab jika menolak maka dapat terjadi keributan.. Menurut Kepala Dishub Padang Firdaus Ilyas dalam satu hari minimal sopir mengeluarkan dana pungutan liar sebesar Rp15 ribu. Jika angkot di Kota Padang berjumlah sekitar 3.000 unit, maka sekitar Rp45 juta terkumpul oleh pelaku pungli. (h/ade)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 243 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


PELAKU JARAH RP45 JUTA PER HARI