Jumat, 01 Agustus 2014
Menuntut Ilmu, Antara Harta dan Agama PDF Cetak Surel
Jumat, 24 Februari 2012 02:01

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Qs. Al-Mu­jadilah/58: 11)

Islam memberikan motivasi yang besar kepada umatnya agar menuntut ilmu. Bahkan wahyu sekaligus perintah pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah iqra’yang artinya membaca.

Akan tetapi dalam perintah membaca tersebut, terdapat syarat yang mesti dipenuhi, yaitu bismirabbika, dengan nama Tuhanmu. Tegasnya, membaca dan menuntut ilmu mesti dilandasi dengan keimanan yang kokok sehingga dengan ilmu tersebut mengantarkannya semakin dekat dengan Allah SWT.

Dewasa ini, menuntut ilmu melalui lembaga pendidikan, sangat digiatkan. Bahkan pemerintah telah memprogramkan wajib belajar 9 tahun. Anak-anak kita pun demikian semangatnya menuntut ilmu, demi mewujudkan cita-cita yang telah mereka tanamkan sejak dini. Bah­kan sudah mulai menjadi tradisi: malu jika tidak sekolah/kuliah, malu jika tidak berpendidikan.

Meskipun keinginan untuk mengenyam pendidikan formal sebagai salah satu upaya untuk menuntut ilmu begitu besar, namun motivasi seseorang menuntut ilmu tersebut patut diperbincangkan. Dewasa ini, ada kecenderungan orang-orang yang menuntut ilmu hingga ke tingkat yang paling tinggi lebih dimotivasi oleh materi.

Adanya kecenderungan tersebut turut dipicu oleh gejala hidup materialisme yang semakin me­nguat. Banyak orang yang berang­gapan bahwa kunci kesuksesan seseorang diukur dari banyaknya materi yang ia miliki. Semakin besar penghasilan terutama secara financial seseorang, maka semakin tinggi nilai kesuksesannya. Asumsi semacam ini selanjutnya berpe­ngaruh ke dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Ketika lulusan dari jurusan tertentu di perguruan tinggi tersebut lebih menjanjikan masa depannya secara financial, maka semakin mahal pula biaya pendidikannya. Persaingan pun sangat ketat, tidak saja persaingan kemampuan inte­lektual, tetapi juga kemampuan financial. Bahkan kita masih sering mendengar, ada di antara orang tua yang harus mencari ‘jalan pintas’ mengeluarkan biaya yang relative besar sebagai ‘uang hilang’ untuk menyogok oknum pejabat structural di lembaga pendidikan tersebut agar anaknya diterima pada perguruan tinggi yang diyakini menjanjikan penghasilan yang lebih tinggi.

Akibatnya, ketika mereka men­jalani profesinya, tentu lebih berorientasi kepada materi. Mereka akan bekerja dan berkarya jika memperoleh uang yang relative besar jumlahnya. Rasa kemanusiaan (sense of humanity) pun berlahan sirna. Semuanya diukur dengan materi.

Ketika ia menjadi pejabat, hanya melihat rakyatnya sebagai objek kebijakan yang menghasilkan proyek milyaran rupiah. Dia tidak dapat merasakan tetesan air mata kepedihan di balik mata-mata yang cekung dan ungkapan kemiskinan di sela-sela tulang rusuk yang mencuat.

Contoh di atas bisa terjadi jika proses pendidikan yang dilaluinya lebih berorientasi kepada materi. Sungguh memprihatinkan masa depan bangsa ini jika hanya dihuni oleh manusia yang hanya memen­tingkan materi. Sebab ketika manusia hanya mementingkan materi, maka ia telah mengabaikan hakikat dirinya yang sesungguhnya, yaitu makhluk yang memiliki dimensi ruhani.

Dalam perspektif psikologi Islam, manusia terdiri dari dimensi rohani dan jasmani. Psikolog Muslim, Abdul Mudjib, dalam bukunya “Psikologi Kepribadian Islam” berpendapat bahwa secara garis besar manusia terdiri dari dimensi ruh, nafsu dan jasad. Jasad atau jism diciptakan Allah dari unsur tanah, yang pada gilirannya akan mengakibatkan kecenderungan manusia kepada hal-hal yang bersifat materi; seperti uang, harta benda, kendaraan, rumah, pasangan hidup, dan sebagainya.

Sedangkan rohani/psikis dicip­takan Allah dari ruh ciptaan-Nya yang membawa kecenderungan kepada ketenangan, kedamaian, bersifat transcendental, nilai-nilai positif, dan sebagainya. Ketika ruh dan jasad bersatu maka muncullah dimensi nafsu atau jiwa sehingga muncul pula potensi akal, nafsu, qalbu, dan sebagainya sehingga manusia menjadi kreatif, inovatif, dan produktif dalam berkarya.

Dengan memahami hakikat struktur kepribadian manusia, maka orang-orang yang lebih me­men­tingkan materi berarti ia hanya mementingkan aspek jasadnya semata. Padahal, jika manusia hanya mementingkan dimensi jasadnya, apa bedanya manusia itu dengan hewan? Bukan­kah hewan juga hanya mementingkan peme­n­u­han kebutuhan biologis/jasmaniah semata?

Agaknya inilah yang disinggung oleh Allah dalam al-Qur’an bahwa ketika manusia mengabaikan dimensi ruhaniahnya dalam ber­perilaku, maka derajatnya disa­makan dengan hewan ternak, bah­kan lebih rendah dari itu (Qs. Al-A’raf/7: 179).

Bukan berarti manusia tidak boleh memenuhi kebutuhan jas­maniah dan menikmati kenikmatan materi yang bersifat duniawi (Qs. Al-Qashah: 77). Tidak bisa dipung­kiri setiap orang menginginkan hidup sejahtera, mapan dan tidak berada di bawah garis kemiskinan. Dan pendidikan pun diyakini sebagai upaya untuk mengubah nasib dari hidup melarat menjadi konglomerat dan terhormat. Namun harta bukanlah tujuan, melainkan alat, sarana, atau media untuk mencapai puncak hakikat manusia yang sesungguhnya.

Sejatinya, motivasi menuntut ilmu mesti didominasi oleh ajaran agama. Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim yang harus dipenuhi dan dilaksanakan. Walau­pun ada niat menuntut ilmu terse­but ingin hidup sejahtera, punya pekerjaan yang layak, dan alasan duniawi lainnya, semua itu mesti dilandasi oleh motivasi agama. Ketika agama telah menjadi motivasi mendasar, maka ia akan terbentengi oleh keserakahan dan kesombongan tatkala ia memp­e­r­o­leh harta dan kedudukan karena ilmunya.

Dalam konsep tasawuf, kita mesti lebih mencintai Allah di atas segala-galanya, teramasuk harta, kedudukan, jabatan, dan seba­gainya. Perhatikanlah firman-Nya: “Jika bapa-bapa, anak-anak, sau­dara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan kepu­tusan-Nya”. Dan Allah tidak mem­beri petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. At-Taubah/9: 24).

Oleh karena itu, orang tua mesti memotivasi anaknya sejak dini agar menuntut ilmu bukan karena materi, tetapi untuk menjadi manusia yang banyak memberi manfaat bagi orang dan mengab­dikan diri kepada Allah SWT. Perubahan paradigma pendidikan dari materialisme kepada pendi­dikan yang universal-holistik; memanusiakan manusia secara utuh, akan mampu terwujud dengan sinegisitas antara orang tua, sekolah dan masyarakat. Jika tidak, maka materi akan menjadi tujuan, bah­kan bisa menjadi ‘tuhan’ bagi kehidupan manusia modern. Wallahu a’lam.

 

MUHAMMAD KOSIM, MA

Comments (1)Add Comment
0
Terima kasih
written by string, Pebruari 24, 2012
Telah banyak mengingatkan Aq

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: