Selasa, 21 May 2013
Wiranto Dituding Makar PDF Cetak Surel
Minggu, 04 Maret 2012 01:31

DEMOKRAT DAN HANURA TEGANG

Rencana pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) ternyata memicu ketegangan antara Partai Demokrat dengan Partai Hanura. Wiranto dituding jegal pemerintahan SBY.

JAKARTA, HALUAN—Pe­rang opini ini berawal dari tudingan politisi Partai De­mokrat Ramadhan Pohan terhadap Partai Hanura yang akan menghancurkan Demok­rat melalui rekayasa. Ketua Umum Partai Hanura akan menjegal pemerintahan SBY tak akan sampai 2014. Kemu­dian, Wiranto berada dibe­lakang aksi-aksi menentang SBY.

Tuduhan lain, menem­patkan Elza Syarif sebagai pe­ngacara Nazaruddin yang mem­buat Nazaruddin berani bu­ka-bukaan serta menuduh bah­wa itu adalah rekayasa Wi­ranto yang sakit hati kalah dua kali pada Pemilu yang lalu.

“Elza itu orang Hanura ke­mungkinan besar ada kepentingan politik. Karena mungkin Wiranto masih sakit hati kalah dua kali dari SBY,” tuding Ramadhan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3) lalu.

Mendapat tudingan itu, kubu Partai Hunara gerah. Wiranto, Ketua Umum Partai Hanura, menyesalkan pernyataan Wakil Sekertaris Jenderal Partai De­mokrat itu yang menganggapnya ingin menggulingkan pemerintahan.

Wiranto menganggap pernya­taan itu sebagai sebuah bentuk kepanikan atas banyaknya masa­lah yang menerpa partai pimpinan Anas Urbaningrum.

“Itu pernyataan bodoh yang tak ada dasarnya. Saya malah merasa kasihan dengan Ramadhan Pohan. Mungkin karena mereka panik akibat banyaknya masalah, akhir­nya malah menyalahkan partai lain,” kata Wiranto saat ditemui warta­wan dalam acara bedah buku di Balai Soedjatmoko, Toko Buku Gramedia Solo, Sabtu (3/3).

Wiranto pun tegas menampik seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh Ramadhan Pohan. Menurut Wiranto, ada tiga tuduhan yang diarahkan kepadanya. Perta­ma, soal rencana melakukan tinda­kan institusional menggulingkan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kedua, merekayasa kasus Naza­ruddin dengan menempatkan Elza Syarif yang merupakan kader Hanura sebagai pengacara. Ketiga, merasa sakit karena dua kali dika­lahkan oleh SBY dalam pemilihan presiden (pilpres).

“Kalau pun mau jadi Presiden, saya bisa melakukannya saat 1998. Tapi, saya tetap ikut nyalon dan sesuai prosedur,” kata Wiranto menjawab tuduhan pertama.

Untuk tuduhan kedua, Wiranto mengaku Elza Syarif adalah kader Partai Hanura. Namun, ia sama sekali tak memerintahkan agar Elza menjadi pengacara bagi Nazaruddin kemudian melakukan rekayasa dalam persidangan.

“Saya tak pernah mencampuri profesinya sebagai pengacara. Itu murni keinginannya sendiri tanpa ada campur tangan dari saya,” tutur Wiranto.

Untuk tuduhan ketiga, Wiranto mengaku sama sekali tak sakit hati pada SBY, meski dua kali dikalahkan dalam Pilpres. Sebab, kalah menang dalam sebuah pemili­han adalah hal yang biasa dan harus diterima dengan jiwa besar.

Sejauh ini, Wiranto telah meng­instruk­sikan pada seluruh kader Par­tai Hanura untuk tak terlalu banyak melakukan komentar atas tuduhan itu.

Wiranto juga sudah membentuk tim untuk mempelajari pernyataan Ramadhan Pohan guna mengambil sikap selanjutnya. “Masih dipelajari, belum akan memperkarakannya ke ranah hukum. Harusnya Pohan menanyakan langsung ke Ketua Dewan Pembinanya soal saya sebelum berkomentar,” katanya.

Isu kenaikan BBM memang direspons negatif oleh sebagian kalangan masyarakat. Sebagian bahkan ada yang sudah melan­carkan aksi turun ke jalan meminta SBY-Boediono mundur. Meski begitu, tak sedikit juga kalangan yang mendukung usulan kenaikan BBM ini.

Wiranto mempertanyakan balik, apakah tuduhan itu bersifat pribadi atau mewakili partai Demokrat. Tuduhan tersebut, tegasnya, sangat dangkal, emosional dan tendensius menandakan adanya kepanikan yang luar biasa.

Sebagai seorang mantan perwir­a TNI yang sangat jauh dari sifat-sifat semacam itu. Walaupun sudah pensiun namun para mantan masih memiliki jiwa Sapta Marga.

Wiranto kemudian meminta Ramadhan Pohan untuk bertanya kepada para mantan Jenderal di Demokrat, termasuk SBY yang lebih mengenal Wiranto ketimbang Ramadhan. (h/naz/sam/berbagai sumber)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: