Sabtu, 19 April 2014
Dilema Membelah Kabupaten Agam PDF Cetak Surel
Senin, 19 Maret 2012 01:15

Selama sepekan pada awal Maret 2012 lalu anggota DPRD Agam melakukan kunjungan kerja ke daerah pemilihan masing-masing untuk menyerap aspirasi apakah masyarakat Agam menyetujui penggabungan wilayah Agam Timur dengan Kota Bukittinggi.

Ternyata hasil serap aspirasi menunjukkan bahwa masyarakat Agam baik di wilayah timur maupun di barat menyetujui penggabungan itu dengan catatan penggabungan tidak merusak tatanan adat dan nagari.

Aspirasi penggabungan Agam Timur dengan Kota Bukittinggi semula muncul dari masyarakat di wilayah timur dengan alasan utama mereka terlalu lelah dan menimbulkan biaya tinggi untuk berurusan ke ibu kota kabupaten yang nun jauh di Lubuk Basung sana. Bahkan bagi masyarakat di Padang Tarok, Kecamatan Baso atau Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah, jarak Lubuk Basung dari negeri mereka mencapai 100 km lebih.

Sementara pos pelayanan untuk masyarakat Agam Timur di Jirek Bukittinggi dirasakan masyarakat tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah karena masih banyak urusan yang harus di urus ke berbagai kantor di Lubuk Basung.

Pemindahan ibu kota Agam secara defacto dari Bukittinggi ke Lubuk Basung berlangsung pada 19 Juli 1993 sewaktu Bupati Gustiar Agus.

Sejak itu keresahan masyarakat Agam di wilayah timur yag merasa kesulitan ke ibu kota kabupaten sering terdengar, lalu keresahan itu berkembang menjadi aspirasi ingin membentuk kabupaten baru yang ibukotanya di wilayah agam timur.

Tak puas dengan kegagalan membentuk Kabupaten Agam Tuo, sekitar tuhun 2009 muncul lagi aspirasi baru dari masyarakat di wilayah timur yaitu penggabungan 10 kecamatan di wilayah timur dengan Kota Bukitfinggi untuk membentuk daerah Tingkat II Bukittinggi Raya. Sepuluh kecamatan itu adalah, Kecamatan Baso, Canduang, Ampek Angkek, Sungai Pua, Banuhampu, Ampek Koto, Malalak, Tilatang Kamang, Kamang Magek, dan Palupuah.

Jika 10 kecamatan itu nantinya memang berhasil menggabungkan diri dengan Bukittinggi maka tinggallah 6 kecamatan yakni Matur, Palembayan, Tanjung Raya, Lubuk Basung, Tanjung Mutiara dan Ampek Nagari di wilayah barat Agam.

Menanggapi hasil serap aspirasi tersebut banyak kalangan di Agam menganggap bahwa penggabungan merupakan solusi yang pas terhadap kemelut PP 84 yang berlarut-larut dan tidak jelas jantrungannya sampai sekarang.Ketua DPRD Agam Marga Indra menyatakan, penggabungan itu menguntungkan kedua belan pihak, Bukittingga semakin leluasa memperluas kota, semenatara masyarakat Agam di wilayah timur tidak perlu repot-repot lagi berurusan ke Lubuk Basung seperti yang dikeluhkan selama ini.

Upaya penggabungan Agam Timur dengan Bukittinggi masih perlu pengkajian lebih dalam secara konprehensif, menyangkut mengkajian terhadap regulasi tentang penggabungan dua daerah dan yang tak kalah penting membuka pembicaraan bilateral dengan Kota Bukittinggi: Apakah Bukittinggi dapat menerima aspirasi penggabungan. Sebabnya, selama ini belum ada pembicaraan formal antarlembaga yang ada di Agam dengan lembaga yang ada di Kota Bukittinggi. Sejauh ini yang keras menyatakan ingin bergabung hanyalah masyarkat Agam Timur, di kota Bukittinggi sendiri belum ada serap aspirasi mengenai penggabungan itu.

Kemudian apa bentuk daerah gabungan itu, apakah kota dan kabupaten perlu juga dibicarakan lebih jauh, karena secara logika banyak juga kalangan yang memprediksi bahwa tak mungkin rasanya wilayah seluas itu menjadi sebuah kota.

Seperti dikatakan tokoh masyarakat di Lubuk Basung, Vera Christian, kalau Agam Timur dan Kota Bukittinggi bergabung membentuk kota, maka kota itu akan menjadi kota terbesar di Indonesia mungkin juga kota terbesar di dunia dan merupakan kota yang memiliki daerah perkampungan yang luas dan banyak di antaranya yang terisolir.

Apakah mungkin itu terjadi dengan regulasi yang ada. Kemudian kalau dijadikan kabupaten apakah Bukittinggi mau melepaskan statusnya sebagai kota yang telah lama disandangnya dan telah menjadi ikon wisata sampai ke manca negara. Memang masih banyak persoalan mengenai pembelahan Kabupaten Agam itu.

Tetapi kalau memang aspirasi yang telah diserap menyatakan bahwa masyarakat Agam mendukung penggabungan Agam Timur dengan Bukittinggi dan telah dinyatalan absah melalui keputusan formal dewan, maka dewanpun harus menindaklanjutinya dengan mengurusnya ke lambaga terkait.

Dewan jangan hanya melakukan serap aspirasi tanpa tindak lanjut, seperti halnya studi banding yang telah dilakukan beberapa kali ke berbagai daerah yang juga terkesan tanpa tindak lanjut. Aspirasi rakyat yang tidak ditindaklanjuti oleh para wakilnya berarti wakil rakyat itu melakukan pembohongan publik dan kegiatan serap aspirasi patut diduga sebagai aksi  akal-akalan untuk  mendapatkan uang transpor dan uang saku.

Comments (2)Add Comment
0
jika Agam timur bergabung dengan kota Bukittinggi
written by string, Oktober 11, 2012
menangapi statment dari sdr Vera Christian : mungkin bisa di lihat datanya terlebih dahulu ya, di wikipedia luas keseluruhan kabupaten Agam Saja 2.232,30 km², dan kalo pun kesuluruhan kabupaten agam bergabung dengan Kota Bukittinggi, tetap saja belum menjadai kota yg terluas di Indonesia. kalo kita tambahin luas keseluruhan kota bukitttinggi plus kabupaten Agam, maka luasnya hanya 2.257,54 km², tetap masih luas kota Palangkaraya, kota Palangka Raya seluas 2.678,51 km² (http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Palangka_Raya). di Indonesia saja belum yg terluas apalagi dunia. jadi kalo comment sialkan base on data ya..... kota Dumai saja yg tergolong kota kecil mempunyai wilayah yg cukup luas juga, yakni seluas 1.623,38 km². kalo ini sebagai alasan penolakkan tidak realistis saja, tapi semua ini kembali ke masyarakat Agam timur, saya yakin masyarakat Agam timur bisa mencari jalan yg terbaik untuk untuk kemaslahatan bersama.
0
bukittinggi raya
written by string, Maret 19, 2012
tidak masuk akal penggabungan enam kecamatan tersebut

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: