Rabu, 30 Juli 2014
Mencontoh Pendidikan Karakter ke INS Kayutanam PDF Cetak Surel
Senin, 19 Maret 2012 01:16

Gaung pendidikan karakter akhir-akhir ini terdengar kian menggema. Di mana-mana orang berbicara mengenai pendidikan karakter. Bahwa pendidikan karakter sangat penting ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini, dan bahwa pendidikan karakter akan menjadi jawaban dari pelbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini. Maka, mulailah sekolah-sekolah dan instansi pendidikan menerapkan konsep pendidikan karakter ke dalam kurikulum yang terus dikembangkan. Namun, jauh sebelumnya, Angku Mohammad Syafei, tokoh pendidikan nasional yang sekaligus pendiri INS Kayutanam telah menerapkan konsep pendidikan karakter kepada murid-muridnya di sekolah tersebut.

Institut Nasional Syafei (INS) Kayutanam (sekarang bernama Institut Talenta Indonesia (ITI)) didirikan pada tahun 1926 oleh seorang putra Kalimantan yang besar dan mengabdi di Ranah Minang, yaitu Mohammad Syafei. Ia merupakan figur pendidik yang sulit dicarikan tandingannya sampai sekarang.

Pendirian INS Kayutanam sebenarnya sudah lama menjadi bahan pemikiran baginya. Namun, niat mulia itu baru bisa teraplikasi setelah ia menamatkan  pendidikannya di Belanda sekitar tahun 1920-an. Padahal, pada waktu itu, Belanda justru sedang ‘asyik-asyiknya’ bercokol di bumi pertiwi,menjajah negeri ini.

Syafei bukanlah sosok pro-kolonialisme, tetapi justru sebaliknya. Ia merupakan tokoh yang secara tidak langsung ikut berpartisipasi dalam mencapai kemerdekaan.

Walaupun ia bersekolah di Belanda, pola pikir yang dimiliki oleh M Syafei jauh berbeda dengan pemikiran orang Eropa/Barat kebanyakan. Mengecap pendidikan di negeri orang bukan alasan baginya untuk serta merta lupa pada kampung halamannya sendiri. Ia tetap menjunjung tinggi adat-adat ketimuran sebagai tempat ia lahir dan dibesarkan. Apa yang kemudian diperjuangkannya melalui dunia pendidikan merupakan salah satu bukti nyata bahwa ia bukanlah ‘kacang yang lupa pada kulitnya’. Berbekal pengalaman, pendidikan, keinginan, serta tekad yang kuat, kemudian, ia mendirikan sebuah perguruan yang diberi nama INS (Institute Nederland School), di daerah Kayutanam, Padang Pariaman.

Pada awal pendirian perguruan INS, peserta didik Syafei hanya berjumlah dua orang.  Itu pun dengan fasilitas yang serba sederhana. Bayangkan saja, anak-anak didik Angku Syafei belajar di sebuah ruang kelas sederhana dengan  kaleng minyak sebagai pengganti meja. Walaupun demikian, semangat juang dan jiwa pendidik yang tertanam dalam jiwa Syafei  tak pernah luntur. Ia tak pernah mengenal kata menyerah.  Segala keterbatasan tersebut, oleh Syafei justru dijadikan sebagai cambuk untuk lebih memotivasi diri demi tercapainya cita-cita luhur yang telah dirancangnya dari dulu, yaitu menciptakan anak didik yang cerdas, terampil dan tidak lagi menjadi ‘buruh’ bagi Belanda.

Perkembangan selanjutnya, INS Kayutanam yang semula berlokasi di dekat pasar Kayutanam, dipindahkan ke Pelabihan, masih dalam kecamatan yang sama. Tanah yang baru ini merupakan hibah (wakaf) dari masyarakat setempat. Di daerah baru ini, INS lebih mendapat perhatian dari masyarakat. Mereka mulai menyadari  bahwa pendidikan yang diajarkan Syafei sangat sesuai dengan jiwa dan kepribadian masyarakat Indonesia. Maka tak heran bila kemudian banyak masyarakat yang memasukkan anak-anak mereka ke perguruan INS Kayutanam.

Mendapat sinyalemen yang positif dari masyarakat, Syafei pun berupaya memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya. Mulailah ia menyusun metode baru dalam pengajaran. Fasilitas pun dibenahi. Tenpat belajar didesain sedemikian rupa sehingga tercipta suasana belajar mengajar yang baik serta mencapai sasaran.

Pendidikan Karakter Model Mohammad Syafei

Pendidikan yang diajarkan oleh Syafei di INS Kayutanam menekankan siswa untuk bisa menyeimbangkan antara kerja, pikiran, dan perasaan. Hal ini kemudian diwujudkannya ke dalam tiga bidang pendidikan, yakni ‘tangan’, ‘otak’ dan ‘hati’. Tangan merupakan merupakan metafora dari kreatifitas dan kerja keras; Otak merupakan perlambangan dari pendidian akedemis dan hal-hal yang berkaitan dengan psikomotor; sedangkan hati merupakan simbolisasi dari spritualitas atau hal-hal menyangkut kehidupan pribadi, akhlak mulia dan ibadah. Ketiga bidang inilah, menurut Syafei yang akan menjadikan anak didik menjadi menjadi sosok yang kreatif, pintar serta berakhlak mulia. Kekurangan salah satu dari yang tiga itu akan membuat seeorang sulit diterima dengan baik dalam masyarakat.

Ketiga hal tersebut (tangan, otak dan hati) ibarat ‘tungku tigo sajarangan’ dalam falsafah adat Minangkabau, yang takkan mungkin dipisahkan satu sama lain. Bisa dibayangkan, andaikan batu tungku hanya dua, mana mungkin periuk bisa diletakkan. Apalagi hanya satu. Mungkin inilah yang menjadi dasar pemikiran bagi Syafei dalam mengembangkan pola pendidikan di INS Kayutanam.

Sebagai individu yang menjunjung tinggi adat dan budaya tempat ia mengabdi, Syafei pun tak lupa memuat ajaran-ajaran atau nilai-nilai adat tersebut dalam sistem  pendidikan di INS Kayutanam. Adat dan kearifan lokal (local wisdom) menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum yang diciptakan Syafei. Ini terlihat dari beberapa nasehat-nasehat/petuah adat yang ‘terselip’ dalam  falsafah pendidikan yang ia gagas.

Pengaruh kultur Minangkabau yang kuat tampak  dalam falsafah yang memanifestasikan alam sebagai sumber dari segala disiplin ilmu. Bahwa alam adalah guru bagi orang yang ‘membaca’ dengan sepenuh jiwa. Maka, Syafei pun memperkaya pola pikir peserta didiknya dengan ‘alam takambang menjadi guru’. Artinya, segala  fenomena yang terjadi di alam ini dapat menjadi acuan/sumber ajaran layaknya guru bagi seseorang untuk lebih menggali dan mendalami ilmu pengetahuan.

Lebih jauh, pengaruh adat Minangkabau dalam konsep pendidikan Syafei tampak dalam filosofi yang ia gagas, “Jangan minta buah mangga pada pohon rambutan, tapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis.” Apa yang diungkapkan oleh Syafei ini memiliki makna yang begitu mendalam  dan terkesan sangat demokratis. Bahwa setiap peserta didik, sebagai manusia biasa, tentu tidak akan terlepas dari berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan, serta mempunyai keistimewaan masing-masing.

Watak (characteristic), kegemaran, cita-cita, ketrampilan (skill) serta pandangan hidup (way of life) manusia tentu berbeda satu sama lain.  Pendidikan yang diberikan tentu tidak akan mencapai sasaran jika konsep yang ditanamkan tidak mampu ‘memahami’ segala perbedaan tersebut. Situasi dan pemikiran semacam inilah yang kemudian mendorong Syafei untuk menciptakan serta melaksanakan falsafah  pendidikan tersebut di INS Kayutanam.

Untuk menyiasati hal itulah, Syafei merumuskan kurikulum INS Kayutanam ke dalam tiga bidang pengajaran, yakni Akedemik (otak), Kreatifitas (tangan) dan Akhlak Mulia (hati). Di Akedemis, siswa dibekali pengetahuan umum layaknya sekolah biasa, meski lebih ditekankan pada penguasaan materi dan aplikasi di lapangan. Sementara itu, Bidang Kreatifitas dibagi lagi menjadi beberapa sub-bidang ketrampilan seperti pertukangan, keramik, kriya, seni ukir, seni lukis, sanggar musik, teater, sastra, dan beberapa ketrampilan lainnya. Sedangkan hal-hal yang menyangkut kecerdasan spiritual, diramu dan diaplikasikan dalam bidang Akhlak Mulia. Ketiga bidang ini tak bisa dipisahkan satu sama lain. Ketiganya harus saling mengisi dan saling menopang dalam wacana menciptakan inteletual yang berakhlak mulia, berintegritas dan beretos kerja keras.

Jika pendidikan akademis menekankan pada kemampuan menyerap ilmu pengetahuan sebagai bekal kekayaan intelektual, pendidikan kreatifitas lebih mendorong dan merangsang siswa untuk menjadi pribadi yang kreatif, inovatif dan mempunyai daya saing, selain menjadikan siswa sebagai generasi yang mandiri dan mempunyai ketrampilan hidup (life skill). Tamatan yang dihasilkan diharapkan mampu bersaing di masyarakat serta tidak canggung ketika dihadapkan pada situasi apapun. Dengan demikian, siswa tidak hanya diajarkan untuk bersikap kreatif, tapi juga dibimbang untuk tidak ‘hanya’ menjadi orang yang ‘dipekerjakan’ melainkan menjadi orang yang ‘memperkerjakan’ (menciptakan lapangan kerja baru).

Meski kedua bidang tersebut (akademis dan kreatifitas) sudah dikuasai, namun tujuan pendidikan yang digagas Syafei belum cukup sampai di situ. Kecerdasan akademis dan kreatifitas hanyalah modal untuk kehidupan duniawi. Oleh karena itu, Syafei juga menekankan pentingnya kecerdasan spiritual. Sebab, ranah kecerdasan ini akan menjadi penyelaras bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan. Kecerdasan spiritual akan mendorong manusia untuk tetap berjalan pada rel yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, yang pada gilirannya akan menciptakan lulusan yang berkarakter, dengan gaya hidup yang madani dan terhindar dari berbagai tindak amoral serta kecurangan seperti praktek KKN yang boleh dikatakan sudah mendarah daging di hampir semua generasi bangsa ini.

Membangun karakter manusia tentu tidak segampang membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang agar ‘karakter’ yang baik bisa tertanam dan menjadi bagian dari kehidupan generasi pelanjut bangsa. Syafei pun sangat sadar akan hal ini. Untuk mendapatkan sesuatu yang unggul, cara-cara instan tentu bukanlah jalan yang bijak untuk ditempuh.

Pendidikan ala Syafei tidak terbatas hanya pada ruang kelas. Pendidikan merupakan proses panjang yang melibatkan keseluruhan aktifitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Setiap gerak-gerik dan tindak-tanduk para peserta didik tak terlepas dari pantauan Angku Syafei. Jika ada yang kedapatan melakukan kesalahan, maka yang bersangkutan akan ditanyai apakah ia tahu dan sadar akan kesalahan yang telah ia perbuat. Hukuman kemudian diberikan bukan sekadar ‘efek jera’ belaka, namun juga sebagai bagian dari proses pendidikan tersebut.

Syafei paham bahwa setiap anak dilahirkan dengan bakat serta watak yang berbeda-beda. Hukuman yang diberikan bagi mereka yang berbuat salah bisa jadi dipandang berbeda oleh para peserta didik. Namun, satu hal yang pasti, Syafei percaya bahwa suatu saat kelak peserta didik akan sadar dan mengetahui hakihat dari hukuman yang diberikan kepadanya, sehingga akan menjadi pelajaran yang sangat berharga dan melekat sepanjang hidupnya. Karakter peserta didik dibangun secara bertahap, namun pasti.

Konsep pendidikan yang mensinergikan antara tangan, otak dan hati yang diterapkan oleh Angku Syafei di INS Kayutanam menjadi contoh yang bagus dalam penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah.

Jika ketiga ranah kecerdasan tersebut terintegrasi dengan baik pada setiap peserta didik, maka bukan tidak mungkin generasi yang akan lahir nantinya adalah generasi yang cerdas, tangguh, mandiri, beretos kerja keras, dan mempunyai akhlak mulia. Atau dengan kata lain: generasi yang berkarakter!

 

AFRI MELDAM

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy