Sabtu, 25 May 2013
Wisata Museum Kota Tua PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 01 April 2012 01:23

Jangan hanya berenang atau ke mall, anda bisa mengajak buah hati anda menyusuri museum. Melihat warisan budaya, menonton pertunjukan, atau benda-benda peninggalan bersejarah yang dapat membuat wisata memberikan penambahan ilmu pengetahuan yang lebih menyenangkan.

Kota Sawahlunto yang sempat memiliki nama besar dengan kandungan batu­baranya, kini masih memiliki ‘sejumput’ warisan masa lalu, beberapa bangunan tua, dan koleksi dari masa Belanda berkuasa, di kotatua yang kini telah berumur 123 tahun itu.

Bangunan-bangunan tua itu, walau sudah berubah fungsi masih tegak kokoh di pusat Kota Lama Sawahlunto. Komplek dapur umum salah satunya, bangunan yang ber­diri semenjak tahun 1918 itu, telah berubah fungsi menjadi museum, yang dinamai Gu­dang Ransum.

Ajaklah si kecil anda untuk mengetahui bagaimana proses tambang batubara tradisional dila­kukan kala kompeni ber­kuasa dulu. Beragam pe­ralatan tradisional yang digu­nakan untuk penambangan tersimpan rapi di Museum Gudang Ransum.

Namun yang sangat men­jolok di museum yang di­resmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla tahun 2010 lalu, adalah periuk raksasa pe­nanak nasi dengan diameter 132 sentimeter.

Di sisi ruangan lainnya, kuali dengan ukuran jumbo berdiameter 190 sentimeter juga membuat kita ternganga. Museum Gudang Ransum akan membawa anda ber­sama sang buah hati melihat berbagai peralatan super jumbo.

Yang tidak kalah tuanya, lesung berbahan kayu dengan sistem injak. Dulu lesung ini digunakan untuk menumbuk beras ketan merah, yang digunakan untuk meramu pakanan bernama lapek-lapek, yang disajikan untuk sarapan pekerja tambang.

Peralatan yang tersimpan di Museum Gudang Ransum itu banyak digunakan untuk memasak dan mengolah ba­han makanan bagi para tenaga kerja tambang, yang akrab disapa Orang Rantai.

Selain periuk raksasa dan kuali besar, museum ini juga menyimpan koleksi asli baju pekerja tambang, peralatan tambang tempo dulu, lesung kayu, serta koleksi foto tempo dulu.

Jika anda bisa sedikit menggali informasi kepada pihak pengelola, berkemung­kinan cerita khas tentang tambang batubara masa lalu akan didapatkan lebih utuh. Tepat di belakang gedung utama museum, juga berdiri kokoh bangunan tungku uap.

Tungku uap ini memiliki peranan penting dalam me­masok energi pemanasan, guna memasak makanan yang dibutuhkan untuk memasak makanan pekerja tambang. Meski masih dalam bentuk tradisional, penyaluran tenaga uap ini dilakukan dengan jaringan yang terbilang maju.

Keberadaan orang rantai juga ditunjukan dengan ko­leksi batu nisan orang rantai. Tapi perlu diingat, batu nisan orang rantai pekerja tambang, ternyata tidak dilengkapi dengan nama. Namun hanya dibubuhi dengan nomor kode orang rantai saja.

Untuk masuk ke Museum Gudang Ransum, anda tidak perlu merogoh kocek banyak, hanya dipungut karcis Rp4.000 untuk dewasa, dan Rp2.000 untuk buah hati anda.(h/dil)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: