Jumat, 19 Desember 2014
Demam Berdarah dan Paraweh PDF Cetak Surel
Sabtu, 07 April 2012 00:47

Belakangan ini cuaca semakin tak menentu, tetapi musim hujan lebih banyak kita alami dari pada musim panasnya. Ketika hujan turun dimana-mana air pun terge­nang dan entah untuk berapa lama. Tergenang di halaman kita, dan bahkan ada ge­nangan di kaleng dan ban bekas kita. Lalu seperti biasa­nya kita akan  mengalami penyakit-penyakit yang tidak pernah habis-habisnya di Bumi kita ini, yakni demam berdarah. Seperti data yang teranyar disebutkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, selama kurun waktu dua bulan ini tercatat se­banyak 365 kasus demam berdarah dengue  (Haluan, 10/3/2012 ).

Lalu entah bagaimana tepat pula terjadi pada ke­luarga saya. Tiba-tiba suhu badan sikecil panas sekali. Lalu saya berikan obat pe­nurun panas. Suhu tubuhnya turun tetapi itu tak bertahan lama, lalu badannya demam tinggi lagi. Kemudian saya coba tes pada lengan kirinya test  rumpell leed (RL), muncul bintik-bintik perdarahan dibawah kulit. Mungkinkah ia tersangka DBD.

Kemudian saya bawa dia ke salah satu rumah sakit  di kota ini, dia diperiksa oleh dokter jaga, dan ternyata trombositnya 50.000. Anakku didiagnosa dan dirawat de­ngan DBD. Lalu masuk ru­angan rawatan,  ternyata di sana sudah banyak anak-anak yang dirawat dengan penyakit yang sama

Diruangan itu saya berke­nalan dengan salah ibu muda yang menemani putri­nya yang terkena DBD juga, dia menya­ran kan pada saya selalu meminumkan pada anak saya jus “paraweh”. Karena itulah obatnya yang paling mantap saat ini, kata­nya. Di mana-mana orang selalu meminum­kan jus para­weh pada anak­nya yang men­derita DBD, imbuhnya lagi.

Hati saya lalu membatin, bagaimana bisa jus paraweh menyembuhkan DBD?

Demam Berdarah-darah

Demam berdarah dengue yang selanjutnya disingkat dengan DHF atau DBD, ialah suatu penyakit tropis yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak. Gejala utama demam tinggi, nyeri otot dan sendi,  yang biasanya memburuk pada hari kedua, uji tornique positif,  gejala perdarahan spontan, masa perdarahan yang memanjang, serta he­matokrit yang meningkat.

Epidemi dengue dila­por­kan pertama kali di Bata­via oleh David Bylon pada tahun 1779, sedangkan DHF mula-mula ditemukan oleh Quintos di Manila pada tahun 1954. Demam berdarah dengue di Indonesia pertama kali dicu­rigai berjangkit di Sura­baya pada tahun 1968, tetapi kepastian penyebabnya secara virology baru diperoleh dua tahun setelah itu.

Data yang terkumpul dari tahun 1968-1983 menunjuk­kan bahwa DHF dilaporkan terbanyak terjadi tahun 1973 yakni sebanyak 10.189 pen­derita dengan usia pada umumnya dibawah 15 tahun.

Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti dan ada pula yang disebut Aedes albopictus. Vektor ini bersarang di bejana yang berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi,drum penampung air, kaleng bekas dan lain-lain. Adanya vector ini berhubungan erat dengan beberapa factor antara lain, kebiasaan masyarakat me­nam­pung air bersih yang tidak ditutup untuk keperluan se­hari-sehari, sanitasi ling­kungan yang jelek, dan penye­diaan air bersih yang langka

Kasus DHF cendrung me­ning­kat pada musim hujan, ini disebabkan  karena peru­bahan musim mempengaruhi frekwensi gigitan nyamuk. Puncak gigitan terjadi pada siang dan sore hari. Kemudian perubahan musim juga mem­pengaruhi manusia sendiri dalam sikapnya terhadap gigitan nyamuk, misalnya selama musim hujan lebih banyak berdiam di rumah

Bagaimana virus ini dapat masuk ke dalam tubuh dan bagaimana tubuh menyi­kapinya? Virus ini masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan infeksi pertama kali mungkin memberikan gejala sebagai demam biasa. Reaksi yang amat berbeda akan tampak , bila sesorang mendapat infeksi berulang dengan tipe virus yang berlainan. Misalnya seorang anak A digigit oleh virus dengue tipe 1. Kemudian dia hanya demam biasa. Di lain waktu dia digigit lagi oleh virus dengue tipe 2, ini akan memberikan reaksi yang berbeda Inilah yang sering disebut para pakar kedok­teran dengan the secondary heterelogous infection.

Setelah virus dengue ma­suk ke dalam tubuh , penderita akan mengalami keluhan, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, tenggorokan merah dan sakit, timbul ruam, bahkan sampai ke sindroma perdarahan, mulai dari petec­hiai sampai hematemesis dan melena. Kena­pa bisa terjadi sindroma perdarahan, karena virus ini mempengaruhi permi­abilitas pembuluh darah kapilernya menjadi meningkat, akibatnya sel darah merah berpindah dari dalam pem­buluh darah keluar dan me­nim­bulkan perdarahan di­bawah kulit.­,akibat perda­rahan yang ter­sem­bunyi itu maka salah satu unsur yang ada dalam darah yakni trom­bosit atau faktor pembekuan darah akan jauh berkurang. Karena alasan yang samapun shock bisa terjadi. Apabila shock tak cepat diatasi maka penderita akan meninggal Sebenarnya gambaran klinis nya amat bervariasi, dari yang sangat ringan (silent dengue infection ) bahkan sampai yang amat berat dengue shock syndrome, DSS .

Untuk menegakan diag­nosa demam berdarah ini memang tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu gampang,diperlukan kehati-hatian dan pemeriksaan penunjang. Diagnosa klinis demam berdarah DHF mem­punyai kriteria; demam tinggi selama 2-7 hari kemu­dian turun secara tiba-tiba setelah itu, munculnya manifestasi perdarahan seperti uji tornique yang positif, petechiae, hidung berdarah, gusi berdarah, dan berak berdarah, dapat juga terjadi renjatan atau shok pada hari ke 3 atau hari ke 7. Sementara pemeriksaan labor menunjukan kenaikan nilai hematrokrit lebih dari 20%, trombosit di bawah 100.000. (trombositopenia )

Setiap penderita DHF sebaiknya dirawat di tempat yang terpisah dengan pen­derita lainnya, seyokyanya pada kamar yang bebas nya­muk (berkelambu). Pema­sangan infuse lebih awal di­mungkinkan untuk dila­kukan agar kita tidak keco­longan munculnya renjatan atau shok ini juga dimak­sudkan untuk memu­dahkan dalam pengambilan darah bahkan tranfusi darah seka­lipun.

Paraweh

Paraweh adalah jambu biji yang termasuk family Myrtaceae, dalam bahasa latinnya Psidium guajava. Dalam bahasa jepangnya dinamakan banjiro dan da­lam bahasa minang dina­makan paraweh. Jambu ini pertama kali ditemukan para ahli di Peru, kemudian menye­bar ke Meksiko, negara-negara Eropa, kemudian di Asia.

Paraweh ini mengandung nilai gizi yang cukup tinggi, misalnya vitamin A, C, B1,B2, fosfor, kalsium, besi, serat, niacin, tannin. Dia sangat kaya dengan vitamin anti­oksidan seperti vitamin C dan betakaroten. Dia juga dise­butkan dapat memperlancar peredaran darah, menjaga keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan jumlah trom­bosit. Tetapi hal ini masih debatebel, masih dalam pene­litian ilmiah.

Lalu adakah hubungan paraweh dengan demam ber­darah,mungkinkah paraweh jadi obat demam berdarah, karena disangkutkan dengan khasiatnya diatas.karena belum banyaknya penelitian ilmiah yang mendukungnya, maka para ahli memasukan minuman paraweh kedalam pengobatan pilihan lain. Para ahli kedokteran belum beru­bah pendapat bahwa pengo­batan demam berdarah dengue ini yang paling utama adalah pemberian cairan yang kontinu melalui infuse.

 

DR. H. JONDRI AKMAL

(Mahasiswa Magister Kajian Administrasi Rumah Sakit Universitas Andalas)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy