Senin, 24 November 2014
Momentum Hardiknas, Pendidikan yang Bermoral PDF Cetak Surel
Rabu, 02 May 2012 02:01

Pada tanggal 2 Mei, setiap tahun kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Har­diknas). Namun, ada suatu yang sangat membawa kita merasa tidak baik meng­akibatkan terjadinya suatu tumpang tindah dalam mem­bawa peradaban kehidupan yang berbudaya dan bermoral. Disebabkan banyaknya per­nyataan pendidikan kita sudah mulai gagal dalam membina akhlak bangsa, bahkan parahnya perilaku-perilaku yang banyak me­nyimpang dalam berbagai lini kehidupan. Akibatnya pen­didikan disoroti telah gagal membawa anak didik menjadi manusia yang berakhlak yang baik.

Padahal, tidak hal de­mikian yang terjadi  sehingga kita salahkan dunia pen­didikan sebagai kegagalan yang ada akan tetapi banyak terjadi berbagai hal yang penyangkut dalam perk­em­bangan perilaku anak itu sendiri. Tidak hanya di  seko­lah saja, di rumah dan di masyarakat sangat mem­pengaruhi perkembangan kehidupan anak dalam me­ngem­bangkan jadi dirinya menjadi manusia yang insani, manusia yang paripurna se­bagaimana yang didambakan oleh banyak orang.

Pendidikan suatu ke­ha­rusan dalam membawa peru­bahan ke arah  yang lebih baik. Sebab pendidikan sangat berkaitan dengan guru, murid dan sarana dan prasarana yang ada. Bagi seorang pen­didik, mempunyai tugas dan tanggung jawab yang  sangat  besar dalam membina ke­pribadian yang baik, men­jadikan siswa yang beakhlak yang baik. Jauh dari sifat-sifat yang tidak terpuji, menjadi siswa yang selalu menjadi orang yang berbudaya dan bermoral.

Seorang guru, tidak hanya mengajar saja dengan aturan minimal 24 jam tatap muka/per minggu. Tetapi, yang sangat penting, mendidik, melatih, membimbing, meng­evaluasi dan membentuk  siswa yang memiliki ke­pribadian yang baik. Betapa beban yang sangat berat dihadapi seorang guru sangat membentuk kejiwaan yang dimilikinya. Sebab, bagi al-Farabi, jiwa-jiwa manusia mempunyai daya-daya seba­gai berikut: Pertama, daya al-muharrikat ( gerak), daya ini yang mendorong untuk makan, memelihara, berkembang. Anak, selalu berkembang dalam kemampuan dan keil­muwan yang dimilikinya, sehingga selalu ingin berubah dari yang tidak mampu men­jadi mampu untuk tumbuh dan berkembang dalam kepri­badiannnya.

Kedua, daya al-mudrikat (mengetahui), daya ini yang mendorong untuk merasa dan berimajinasi. Perasaan ma­nusia memiliki sifat amarah, lawwamah dan mu’mainnah mendorong mereka berbuat. Kadang ada yang baik dan ada pula yang tidak baik sehingga memberikan  andil yang sangat  besar. Namun imajinasi yang ada pada diri manusia memberikan kesa­daran pada dirinya agar lebih berbuat yang baik. Ketiga,  daya al-nathiqat ( berpikir), daya ini mendorong manusia  untuk berpikir secara teoritis dan praktik. Manusia dibe­rikan akal untuk bisa berpikir dan merenungkan akan apa yang ada pada dirinya. Dalam bahasa Minang mengatakan alam takambang manjadi guru. Belajar ke alam mem­berikan kehalusan berpikir agar kita selalu beradaptasi dengan alam yang Allah ciptakan alam semesta ini untuk bisa menjadi renungan bagi hamba yang berpikir.

Bagi dunia pendidikan, bagaimana ilmu yang diserap bagi anak dapat di imple­mentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan hen­daknya memberikan penc­erahan bagi manusia untuk selalu berpikir dan selalu menciptakan kreativitas dan inovasi yang merubah ke­adaan ke arah yang lebih baik. Pendidikan yang membentuk watak dan kepribadian anak didik sebagai generasi yang mantap dalam keimanan dan akhlaknya serta keilmuwan yang baik. Namun, tidak bisa dilaksanakan dengan spon­tanitas, akan tetapi penuh dengan proses yang sangat panjang.

Dalam hal ini, ada input-proses-output yang berkreasi dan berinovasi serta memiliki kemandirian yang matang. Apabila hasil yang dicapai dengan hanya mengharapkan  nilai yang sangat tinggi, rendah dalam sikap dan perbuatan. Apalagi tidak memiliki keahlian yang dimi­liki seorang anak didik, maka jangan heran terjadi berbagai ketimpangan yang ada. Dengan demikian perlu diadakan rekonstruksi untuk mendaur ulang akan pendidikan itu sendiri. Berbagai macam masalah dalam pendidikan yang terjadi sehingga tidak pernah selesai sama sekali. Rendahnya kualitas guru, minimnya sarana dan pra­sarana, siswa yang berbuat curang dalam ujian khususnya Ujian Nasional dan lainnya memberikan sekelumit ma­salah yaga ada sehingga perlu diberikan solusi yang baik dalam memberikan perubahan yang ada.

Dalam sertifikasi guru, yang banyak guru disertifikasi secara langsung membawa perubahan pada kompetensi yang ada pada guru sendiri. Di antaranya kompetensi profesional, kepribadian, sosial dan pedagogik yang harus dimiliki masing-masing guru. Namun, banyak yang tidak memahami dan mengamalkan dengan baik sehingga terjadi tumpang tindih akan tugas dan tanggungjawab yang di­milikinya.

Ketika profesional sudah dihargai oleh pemerintah dengan sertifikasi yang dimi­likinya seharusnya mere­ka bekerja lebih sungguh-sungguh dan tidak malas sama sekali. Di saat predikat itu sudah disandang dengan baik maka secara langsung dapat mem­berikan andil yang besar  dalam pengembangan jati dirinya. Selama ini yang terjadi guru jarang melak­sanakan pelatihan atau dik­lat dalam menggenjot kompe­tensinya. Mereka hanya pas­rah akan keadaannya dengan sistem pembelajaran konven­sional sehingga jarang meng­akses multi media dan media elektronik. Di era serba cang­gih ini kita dituntut harus mengikuti perkembangan zaman dan selalu berubah, dengan kecanggihan tele­komunikasi sewajarnya proses pembelajaran dengan meng­gunakan IT agar lebih baik dan lebih berdaya guna.

Di sisi lain, kita harus menyaring mana yang baik dan mana yang buruk sehingga dapat memilah-milah untuk kebaikan dan membina pri­laku yang ada. Saat sekarang ini,  kemajuan teknologi banyak disalahgunakan untuk kepentingan sesaat.

Proses pendidikan yang ada, perlu upaya yang tegas dalam membentuk prilaku yang baik. Upaya yang dila­kukan harus diterapkan da­lam prilaku khususnya bagi seorang pendidik dan anak didik. Guru sebagai panutan murid harus menjadi contoh tauladan yang  baik dalam membina kepribadian yang ada pada anak didik yang bersangkutan. Ketika, seorang guru tidak memiliki kepri­badian yang  baik apalah artinya bagi anak didiknya sehingga bisa jadi lebih buruk akan kepribadiannya. Untuk itu perlu upaya  yang dila­kukan, diantara: pertama, menanamkan nilai-nilai aga­ma dan moral pada diri seorang anak didik.

Pemahaman akan Islam yang diyakininya dapat dila­kukan dengan sentuhan-sen­ tuhan yang halus dan dapat dirasakan dalam hati sanu­barinya. Apabila Islam sudah membekas dalam hati sanu­barinya, secara langsung akan sadar akan apa arti suatu kehidupan yang dimilikinya. Hidup yang dilakukan semata-mata untuk beribadah kepa­danya. Dalam hidup pelu upaya untuk memperbaiki akan sifat-sifat yang ada sebagaimana sifat yang ada pada diri Rasulullah SAW, seperti siddiq, fathonah, ama­nah, tabliq dan lainnya.

Kedua,  memberikan contoh tauladan yang baik. Bagi guru yan baik, segala ucapan, prilaku dan perbuatannya menjadi perhatian bagi anak didiknya sehingga apabila terjadi kesalahan  yang fatal pada diri seorang guru  me­rusak citra pendidikan itu sendiri.

Dengan demikian,  pencit­raan itu sangat penting untuk membawa kehidupan ke arah yang lebih baik. Kita semua­nya pendidik, di rumah orang tua sebagai pendidik, di seko­lah guru pendidik, di masya­rakat  ada ninik mamak, alim ulama dan cadiek pandai semuanya tidak bisa dipi­sahkan antara satu dengan yang lainnya. Yang harus dicontoh dan ditiru akan perbuatan. Kesalahan satu saja  yang terjadi padanya maka seluruhnya akan rusak sehingga perlu ke hati-hatian dalam bertindak dan berbuat.

Ketiga, mengislamisasikan ilmu, kerusakan moral pada anak tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada guru agama saja tetapi semuanya ikut menerima getahnya. Kesa­lahan yang terjadi disaat menerapkan materi khu­susnya selain agama, kadang­kala guru umum tidak mema­hami akan Islam yang diya­kininya sehingga sekedar mentrasfer ilmunya. Seha­rusnya, mereka memasukkan nilai-nilai Islam dalam mem­bina kepribadian anak didik. Akibatnya terjadi dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum yang membuat curang pemisah antara satu dengan yang lainnya.

Untuk itu perlu kesadaran bagi pendidik agar anak didik bisa menjadi manusia yang selalu berjalan di jalan yang baik. Dalam arti, bisa mene­rapkan sifat yang baik yang dimilikinya. Sebagai renungan bagi kita dalam Hardiknas tahun ini betapa jasa-jasa guru sangat penting sekali dalam mencerdaskan anak bangsa. Jepang, ketika di bom atom oleh Amerika banyak nyawa yang mati dengan sia-sia sehingga Hirosima dan Nagasaki hancur luluh lantah. Tetapi apa yang pertama sekali ditanya oleh sang Kaisar, masihkah ada guru-guru yang masih hidup?

Sebuah pertanyaan yang memberikan pencerahan baru untuk begitu pentingnya arti tanggung jawab seorang guru dalam mengembangkan sains dan keilmuwan.  Dengan guru yang masih hidup  sebagai imbas negara Sakura tersebut maju dan sejajar dengan negara maju  lainnya. Tetapi, kita  di negara yang banyak ditimpa bencana terus me­nerus kadangkala menye­pelekan akan profesi guru  se­hingga selalu disalahkan apa­bi­la anak prilakunya tidak baik selalu guru yang disa­lahkan?

Paradigma yang terjadi  banyak kita tidak memberikan penghargaan yang tinggi, hanya dengan pahlawan tanpa tanda jasa?  Hancurnya moral dise­babkan kita saling menya­lahkan antara satu dengan yang lainnya. Seharusnya, momen­tum Hardiknas sebuah intro­peksi diri agar kita harus berubah. Wallahu a’lam biss­howwab.

 

TASRIF
(Pengajar di MTsN Model Padusunan Kota Pariaman)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy