Senin, 15 September 2014
Wisata Objek Sejarah dan Potensinya PDF Cetak Surel
Sabtu, 05 May 2012 01:55

PROVINSI SUMATERA BARAT

Ir. Soekarno, sesaat se­belum Jepang masuk, berada di Sumatera, tepatnya Beng­kulu, sebagai seorang inter­niran pemerintah kolonial Belanda akibat aktivitas pergerakan yang dila­kukannya. Begitu kekuatan Belanda untuk bertahan sudah sema­kin terdesak, ia segera akan dikembalikan ke Jawa. Sebe­lum berangkat ke Jawa, Soe­karno yang memang sudah dikenal luas sebagai pemim­pin rakyat, menyempatkan diri datang ke Padang.

Dari Padang, ia bahkan sempat naik kereta api ke Bukittinggi sekadar menyapa rakyatnya. Di sini bibit cita-cita merdeka mendapat pupuk yang selayaknya dari rakyat Sumbar. Sejarah membuk­tikan tiga tahun setelah itu, Indonesia benar-benar mem­prok­lamasikan kemer­de­ka­annya.

Selama perang kemer­dekaan inilah, peran Sumbar tidak dapat dilepaskan seba­gai mata rantai kelang­sungan hidup bangsa. Belanda dengan segala taktik berusaha kem­bali untuk melanjutkan kolo­nialismenya, sebagaimana Republik dengan segala cara mempertahankan prok­la­masinya. Bukittinggi telah menjadi ibukota negara yang penting setelah Jakarta dan Yogyakarta.

Sekelumit potongan peris­tiwa sejarah itu, seti­daknya menyadarkan kita bahwa Sumbar pernah menjadi peme­gang estafet sejarah bangsa. Tidak dapat dibayangkan, jika Syafruddin Prawiranegara–dengan atau tanpa sepe­ngetahuan Soekarno-Hatta yang sebenarnya telah meme­rintahkan dari Yogyakarta –tidak berketetapan mem­bentuk pemerintahan darurat. Tentulah sejarah Indonesia akan berkata lain.

Hanya saja, apakah potensi kekuatan sejarah yang dimiliki Sum­bar, telah dapat diman­faatkan untuk mengem­bang­kan pariwisata sebagai sebu­ah usaha kreatif? Ini sebuah pertanyaan yang penting dan perlu untuk dijawab.

Apa Itu Wisata Sejarah?

Dalam industri pariwisata, sejarah dapat dan sangat potensial dimanfaatkan seba­gai bagian pengembangan pariwisata. Objek wisata sejarah dalam taksonomi yang dikemukakan Roberts adalah bagian dari atraksi wisata selain atraksi alam, kebun binatang, kehidupan alam liar (Morgan 1996). Atraksi wi­sata sejarah merupakan bagian dari atraksi wisata disamping atraksi wisata alam dan budaya (Wijaya 2010). Men­jaga dan melestarikan sejarah bagi suatu bangsa sangatlah penting. Salah satu caranya adalah dengan mengaitkannya dengan pariwisata (Suastika 2011).  Hal ini dapat dila­kukan dengan menjadikan hal yang berkaitan dengan sejarah sebagai objek wisata.

Memang, dalam berbagai literatur kepariwisataan, wisata sejarah belum men­dapatkan definisinya sendiri. Wisata sejarah masih meru­pakan bagian dari wisata pusaka (heritage tourism). Organisasi Wisata Dunia (World Tourism Organization) mendefinisikan pariwisata pusaka sebagai kegiatan untuk menikmati sejarah, alam, peninggalan budaya manusia, kesenian, filosofi dan pranata dari wilayah lain.

Wisata sejarah sangat berkaitan erat dengan penge­lolaan pusaka (heritage) se­bagai warisan kebudayaan masa lalu atau peninggalan alam. Dalam konteks Ind­o­nesia, heritageini diatur dalam UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Dalam undang-undang tersebut benda cagar budaya baik benda buatan manusia maupun benda alam adalah benda yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Sebagai bagian dari wisa­ta pusaka, wisata sejarah merupakan atraksi pariwisata minat khusus, bukan pari­wisata bersifat massal. Jika pariwisata massal mene­kankan pada kesenangan, wisata sejarah lebih mene­kankan pada aspek penga­laman dan pengetahuan (Cah­yadi 2009). Berbagai pene­litian menyimpulkan bahwa pariwisata pusaka adalah bagian dariindustri pariwisata yang paling maju perkem­bangannya (Jamieson1998; Boniface & Fowler 1993, dalam Cahyadi, 2009).

Dengan demikian wisata sejarah dapat didefiniskan sebagai kegiatan perjalanan minat khusus untuk menik­mati dan mempelajari sejarah melalui berbagai peninggalan yang terdapat dalam suatu daerah tertentu.

Wisata Sejarah di Sumbar

Berdasarkan definisi wisa­ta sejarah yang diberikan di atas dan peran Sumbar dalam konstelasi sejarah nasional, maka Sumbar sangat ber­potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata sejarah. Kriteria daerah tujuan wisata diatur dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.37/UM.001/MKP/07 tentang Kriteria dan Pene­tapan DestinasiPariwisata Unggulan. Kriteria destinasi wisata unggulantersebut ada­lah (a)ke­ter­sediaan sumber daya dan daya tarikwisata; (b)fa­silitas pariwisata dan fasilitas umum; (c)ak­se­si­bilitas; (d)ke­siapan dan keter­libatan mas­yarakat; (e)potensi pasar; dan (f)posisi strategis pariwisata dalam­ pem­bangu­nan daerah.

Enam hal inilah yang telah dimiliki dan perlu digali lagi untuk mengangkat Sumbar menjadi daerah tu­juan wisata sejarah. Pada akhirnya, Sumbar akan dipe­takan menjadi des­tinasi wisa­ta sejarah dalam profil pari­wisata nasional.

Objek Wisata Sejarah Potensial di Sumbar

Di Sumbar berserakan tempat yang sangat potensial dijadikan daerah tujuan wi­sata sejarah, antara lain Bukittinggi, Padang, Paya­kumbuh, Batusangkar, Sawah­lunto, Padang Panjang, Pa­riaman atau Bonjol.

Bukittinggi, saat ini telah menjadi daerah destinasi wi­sata di Sumbar karena keelokan alam dan banyaknya objek wisata potensial. Peme­rintah kolonial Belanda sejak dulu telah menjadikan Bukit­tinggi sebagai daerah per­istirahatan. Potensi objek dan atraksi wisata sejarah yang dapat dikem­bangkan di daerah ini antara lain Taman Jam Gadang, Ge­dung Istana Bung Hatta, Rumah Kelahiran Bung Hatta, Lobang Je­pang, bekas Hotel Centrum, Lapangan Kantin, Stasiun Bukittinggi, dan bekas lapangan terbang Gadut.

Padang, sejak zaman ko­lonial Belanda telah menjadi pusat pemerintahan daerah Sumatera Westkust. Saat ini Padang merupakan ibukota Propinsi Sumbar. Banyak juga potensi wisata sejarah yang perlu dikembangkan, antara lain Kantor Kepolisian tempat pengibaran bendera merah putih pertama di Sumbar setelah proklamasi, Balai Kota Padang, tugu Linggarjati di Tabing dan Lubuk Bega­lung, dan daerah Muaro.

Potensi wisata sejarah Payakumbuh adalah terutama daerah Koto Tinggi yang me­rupakan basis perjuangan PDRI, dan tragedi Situjuh Batur.Batusangkar, dapat dikembangkan lagi sebagai wisata sejarah kerajaan Mi­­­nang­­kabau. Sawahlunto me­miliki potensi wisata seja­rah tam­bang dan sejarah peng­angkutan kereta api. Padang Panjang merupakan kota se­jarah pendidikan aga­ma ber­sama-sama dengan Parabek dan Kayu Tanam untuk sejarah pendidikan nasionalis.

Ulakan di Pa­riaman me­miliki ikatan de­ngan sejarah pe­nyebaran Islam di Sumbar. Bonjol dan Palupuh merupakan saksi sejarah selama Perang Paderi berkecamuk. Pada da­sarnya, selama perang kemer­dekaan 1945-1949 sebagian besar daerah Sumbar semata-mata adalah front-front per­juangan penting dalam melawan Belan­da.

Sebagian yang dapat dise­butkan seperti Kuranji, Pasar Usang, Parit Malintang, Sungai Penuh, Sungai Dareh, Sijunjung, dan lain seba­gainya. Sangat terbatas ruang kertas ini untuk menye­naraikan po­tensi-potensi wisata sejarah lain di Sum­bar.

Strategi Pemasaran Wisata Sejarah

Pariwisata merupakan industri di bidang jasa dengan sifat tak terlihat, tak ter­pisahkan, tak tersimpankan dan keter­gantungan. Dalam pemasaran pariwisata, jasa itulah yang penting bagi pengunjung untuk meng­ha­biskan waktu dan uangnya (Morgan 1996). Pe­ma­­saran pariwisata sebagai bagian dari pemasaran jasa tidak dapat mengandalkan pemasaran eksternal (dengan meng­gu­nakan the 4 Ps) semata, tetapi juga melibatkan pe­masaran internal dan pe­masaran inter­aktif (Kot­ler&Amstrong 2006). Pe­masaran internal adalah usaha perusahaan dalam meningkatkan kemampuan kerja tim karyawan yang terlibat langsung dengan pelanggan untuk me­ning­katkan kepuasan. Pemasaran interaktif adalah kualitas pelayanan yang sangat ter­gantung pada interaksi an­tara karyawan dan pe­lang­gan.­Dalam merumuskan stra­tegi pemasaran pariwisata dila­kukan dengan dukungan ana­lisis atas kekuatan, kele­mahan, peluang dan tantangan (Mandar 2009, Umam 2010).

Potensi pasar wisatawan untuk wisata sejarah Sumbar yang dapat ditemukenali antara lain adalah orang-orang Belanda atau Jepang sebagai bekas penguasa kolonial, wisatawan domestik yang bukan orang Sumbar yang memiliki ikatan sejarah de­ngannya, wisatawan domestik Sumbar sendiri, para perantau Minangkabau dari seluruh dunia, pelajar dan mahasiswa, serta komunitas pecinta se­jarah dan pusaka.

Sebagai industri jasa, kepuasan pengunjung pari­wisata merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Kepuasan pengunjung ini berkaitan erat dengan kua­litas layanan wisata. Kualitas pelayanan dirumuskan seba­gai fungsi dari persepsi dan ekspektasi jasa yang dimiliki oleh pengunjung (Para­sura­man dkk. dalam Bam­bang dkk. 2010).

Selain teori perilaku kon­sumen yang mengukur ke­puasan wisatawan, teori yang dapat dipakai untuk menen­tukan strategi pemasaran pariwisata adalah teori per­tukaran dan paradigma pa­masaran pariwisata (Ginting 2008).

Untuk strategi pemasaran pariwisata dapat dikem­bangkan dengan strategi pengembangan pasar, strategi penetrasi pasar dan strategi diversifikasi (Mandar 2009). Wisata sejarah Sumbar dalam hal pengembangan pasar dapat dilakukan dengan peng­optimalan promosi wisata sejarah kepada wisatawan potensial yang telah dite­mukenali sebelumnya. Selain itu perlu dukungan infra­struktur wisata yang memadai dan sumber daya manusia pariwisata yang profesional.

Oleh karena itu sangat perlu untuk memberikan pemahaman sejarah kepada pelaku pariwisata Sumbar. Penetrasi pasar dapat dila­kukan dengan memanfaatkan jasa perantara wisata dan aktif mengikuti pameran wisata. Strategi diversifikasi dapat dilakukan dengan mem­buat paket wisata sejarah yang bisa dikombinasikan dengan wisata andalan lain Sumbar seperti wisata budaya dan alam.

 

WILLSON GUSTIAWAN
(Dosen pada Politeknik Negeri Padang)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy