Minggu, 31 Agustus 2014
Islam, Komersialisasi Agama dan Kekerasan PDF Cetak Surel
Jumat, 11 May 2012 03:02

Ada beberapa fenomena yang cukup menonjol di te­ngah ummat Islam beberapa waktu terakhir ini. Pertama, ada sebagian besar ummat Islam sepertinya begitu antusias untuk mengkomersialkan agama. Kedua, sebagian besar ummat Islam sepertinya me­nyukai gerakan-gerakan keke­rasan atas nama agama. Ketiga, sebagian besar ummat Islam sepertinya sangat tem­peramen atau tidak terkontrol emosinya, sehingga terkesan ummat Islam identik dengan kaum pemarah pantang ter­singgung, sehingga mudah dipancing dan dipermainkan.  Dengan demikian timbul pertanyaan, ada apa sebe­narnya ini? Apakah memang benar begitu ajaran Islam.

Dalam pengamatan sepin­tas lalu, sepertinya ada hal yang hilang dalam diri seba­gian besar ummat, yakni aura kesejukan, aura kesantunan, aura zuhud (asketis).  Sebagai salah satu contoh kasus, sekarang lagi trendy, untuk dapat belajar bagaimana cara sholat yang khusuk maka sebagian besar ummat Islam terpaksa pergi ke hotel ber­bintang, dan mengeluarkan uang berjuta. Serta banyak kiat-kiat  kesuksesan atas nama Islam dan Quran di hotel berbintang dengan bayar mahal. Apakah “kita” tidak termasuk mem­per­jual­belikan ayat-ayat Tuhan dengan harga sedikit (QS.9:9)?

Apakah tidak ironis ra­sanya? Padahal sebagian besar ummat Islam dalam keadaan miskin. Apakah ada nabi Muham­mad. Saw menga­jarkan untuk belajar tentang pelatihan khusuk harus mem­bayar mahal? Paling murah seratus ribu rupiah. Apakah nabi Muhammad. Saw  dulu menuntut bayar? Masih ada­kah para ustadt, buya, ulama yang mau mengajarkan Islam dengan ikhlas tanpa mau dibayar. Dalam satu sisi agama layaknya sudah jadi komoditas dan mode yang dipasarkan. Sebagian besar ummat Islam sepertinya lebih mau menerima dan belajar Islam kalau membayar mahal, sedangkan yang gratis, lillahi ta’la, tidak laku, dipandang rendah, dianggap gengsi.

Sedangkan dalam satu hadist diceritakan bahwa untuk mencari nabi Muham­mad. Saw bukanlah ditengah orang-orang kaya, bukan di tengah para pejabat, bukan di hotel ber­bintang (di masa itu tentu semacam pengi­napan kelas tinggi), tetapi carilah nabi Muhammad. Saw di tengah orang-orang miskin. Namun pada hari ini dapat ditemukan banyak  ummat muslim yang kaya, dengan rumah bagaikan istana para jet set dengan mesjid yang megah berkilau-kilau oleh lampu dan mar-mar, namun tidak jauh dari sana, diseke­lilingnya, hidup ummat mus­lim yang miskin.

Seorang gubernur meng­habiskan uang sekian milayar atau seorang mantan menteri menghabiskan uang sekian miliyar pula untuk mem­bangun mesjid. Mesjid yang sudah ada dan kuat dibongkar lagi dengan uang yang milayar pula. Se­­men­­tara ummat mus­lim fakir dan miskin raya, anak-anak fakir dan miskin tidak bisa sekolah, anak-anak lapar di jalanan. Di setiap kota selalu akan diserbu oleh fakir miskin minta sedekah selepas jum’atan dan per­simpangan toko. Terpikir oleh kita, apakah pernah nabi Muhammad. Saw kerjanya membangun mesjid agung yang megah untuk menegakan Is­lam, bukankah mesjid Madin­ah dan Mesjidil Haram itu hanya terdiri dari batu gunung  yang sederhana saja?  Di manakah marwah “kita”, jika untuk membangun mesjid, “kita” harus mengemis meng­ham­bat bus dan mobil minta sedekah di jalan raya. Adakah ini diajurkan oleh Rasullullah?

Di  samping itu, sekarang pun bertebaran sekolah-seko­lah swasta Islam namun bukan untuk orang muslim yang miskin, masih tetap untuk orang-orang kaya yang berduit, sementara  banyak tokoh kian kemari bicara dan berkampaye tentang Islam. Alangkah ter­haru rasanya ada sekolah untuk kaum duafa, fakir miskin.  Ada juga sekolah untuk duafa tetapi juga terlantar dan miskin.

Bukankah Rasulullah, yang dikasihi Allah itu, bajunya hanya bertambal, tidur di atas kayu korma, dengan rumah yang sederhana, harta keka­yaan hanya bisa untuk makan sehari dua? Tetapi mereka bukan pemalas, mereka de­ngan gene­rasi sahabat adalah generasi pekerja keras namun mereka tidak terikat oleh harta, tidak diperbudak oleh harta, harta adalah untuk  jalan kema­nusiaan, untuk rahmatan lil-alamin, lillahi tala. Bagi mereka bangun jam empat subuh bukan­lah suatu kemewahan, adalah ke­giatan harian mereka, tetapi ba­gi sebagian besar umat Islam pa­da hari ini sepertinya suatu hal yang sangat istimewa. Metalitas seperti generasi pertama itu pada hari ini agaknya suatu hal yang asing bagi ummat Islam.

Ajaran Islam sebenarnya jauh lebih sangat sosialis dan dalam daripada ajaran Marx yang begitu digilai-gila anak muda, namun ajaran Islam jauh lebih sangat kerasnya anjuran bekerja daripada kapitalis untuk mengum­pulkan harta dan sangat keras sekali untuk untuk bertindak sangat sosial kema­nusiaan. Adapun yang mem­bedakannya secara kentara sekali dengan Marx dan Kapi­talis adalah akhlak, lilahi tala, zuhud-nya, monotheisnya, sema­ta karena Allah-nya. Akan tetapi sepert­inya sebagian besar ummat Islam tidak mau tahu, terlelap dalam kemegahan, serta kemiskinan.

Namun, sebaliknya, betapa banyaknya ummat Islam yang pergi haji setiap tahun, bah­kan ada yang sudah tiga atau empat kali pergi haji, seper­tinya tidak pernah ter­pikir oleh sebagian besar ummat Islam itu tentang nasib  um­mat Islam yang sebagian besar miskin, kelaparan, para siswa dan mahasiswa Islam butuh bea­siswa. Agaknya sangat begitu ironis dan tragis. Sampai di sini, masih begitu sangat berkesan cerita sufi tentang seorang tukang sep­a­ tu mem­batalkan niatnya pergi haji ke Mekah, ketika dia tahu banyak orang dise­kelilingnya miskin, dan dibe­rikannya tabungan hajinya itu untuk fakir miskin. Sepertinya cerita itu masih jadi isapan jempol bagi sebagian besar ummat.

Pergi haji sepertinya bagi sebagian besar ummat Islam adalah sebuah status sosial, suatu wisata saja, sebuah ziarah keagamaan, jadi bahan berita untuk mode, gaya hidup, dan kepentingan politik. Sam­pai hari ini sebagian besar ummat masih bangga dan style dengan gelar haji di depan namanya, apakah mereka tidak malu kepada nabi Muhammad. Saw yang yang tidak pernah me­makai gelar haji atau hajjah.

Kemudian tindakan keke­rasan begitu marak bagi sebagian besar ummat Islam, seakan-akan itulah yang disebut akhlak Islami. Meng­hancurkan rumah ibadah orang, merusak pagar, kaca jendela,  ruang kantor,  mem­bakar tempat orang lain, menginjak-injak foto orang, memberikan gelar-gelar buruk. Pada satu sisi, memang be­nar, perlu menegakkan ke­benaran, memberantas mak­siat, namum bukankah tidak begitu cara nabi Muhammad. Saw, bukankah tidak begitu akhlak yang santun itu, akhlak yang rahmatan lil alamin itu.

Apakah harus qisas juga kalau umat Islam apabila Buya dimaki dengan kata kotor, dibalas dengan mem­a­kinya pula dengan kota kotor? Bukankah akhlak Islam itu adalah membalas keburukan dengan kebaikan. Apakah akhlak Islam harus mem­balas keburukan dengan keburukan, dengan keke­rasan? Wallahu a’lam.

 

 

FADLILLAH MALIN SUTAN
(Dosen FIB Universitas Andalas Padang)

Comments (1)Add Comment
0
terimakasih sudah mengingatkan kita sebagai bangsa yang punya hati
written by string, Mei 11, 2012
saya generasi muda , dengan berita berita di koran dan televisi menjadi sedih
dengan tema tema sinetron dan hedon yg ditampilkan bertambah miris

kesederhanaan menjadi barang langka saat ini , tidak peduli apa agamanya , saya percaya saat kita hidup bermewah sementara kita bisa hidup cukup dan menjadi teladan bagi teman teman kita yg belum beruntung.. itu adalah barang langka

terimakasih telah membuat artikel ini pak, perjuangan memang masih panjang
semoga Hati kita tidak ikut menjadi tawar hati dan menyerah untuk memperjuangkan saling tolong dan menghargai


Write comment

busy