| Surat dari Bawah Tempurung |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 13 May 2012 01:06 |
|
TANGGAPAN TULISAN ZELFENI WIMRA Kali pertama saya bertemu dengan Zelfeni Wimra adalah 12 November 2011, ketika bersama-sama menjadi juri lomba baca puisi dalam sebuah kegiatan forum kepenulisan di IAIN Iman Bonjol. Waktu itulah dia menyampaikan bahwa salah satu puisi saya dalam kumpulan buku sajak Tempurung Tengkurap mirip dengan lagu yang dia kerjakan bersama beberapa teman. Namun saat itu obrolan kami akan hal tersebut berlangsung singkat dan Zelfeni menutup pembicaraan dengan mengatakan “Mungkin saja hanya kesamaan ide”.Praduga yang Kerdil Tanpa saya sadari ternyata perihal dugaan plagiasi puisi saya tersebut tiba-tiba saja sudah menjadi obrolan dari mulut ke mulut. Saya mengetahui cerita tersebut dari seorang sahabat yang sama-sama bergiat dalam satu komunitas teater, ia mengatakan isu tersebut berkembang tanpa kejelasan karya puisi mana yang diduga plagiat. Sahabat tadi bahkan menyampaikan beberapa obrolan yang ia dengar, ada yang mengatakan puisi saya plagiat dari naskah Arifin C Noer dan ada pula yang mengatakan dari naskah Emha Ainun Nadjib. Anehnya walau tanpa kejelasan, sebagian orang yang terlibat pembicaraan mengenai ini sudah langsung “menghakimi” saya dengan cap seorang plagiator, parahnya ada pula yang sengaja menyangkutkan perihal ini dengan individu/kerabat dekat saya serta komunitas teater tempat saya bergiat. Beberapa hari sebelum tulisan Zelfeni Wimra terbit di Haluan, Minggu 29 April 2012, saya menemuinya Zelfeni di rumahnya. Saat itulah saya baru tahu bahwa puisi memenusia ke senjakala mempunyai kemiripan dengan lirik lagu Opera Dewa-dewa karya Yusran Harianto. Dalam obrolan ketika itu saya menolak anggapan bahwa puisi tersebut plagiat dari lirik lagu yang diciptakan oleh Yusran Harianto. Secara pribadi saya tidak pernah tahu siapa itu Yusran Harianto ataupun bersinggungan dengan karya lagu serta membaca naskah dramanya. Rekaman lagu Opera Dewa-dewa komunitas Teater Imam Bonjol sendiri baru saya dengar sehari sebelum mengobrol dengan Zelfeni Wimra melalui telepon genggam seorang sahabat, Alizar Tanjung. Begitu banyak pertanyaan dalam benak saya, tentu saja yang utama adalah masalahan kemiripan kedua karya. Dalam tulisan Zelfeni Wimra sebelumnya dijelaskan bahwa menurut Yusran Harianto, Lagu Opera Dewa-dewa dia ciptakan tahun 1998. Lagu tersebut digubah dan dipentaskan di halaman rektorat IAIN Imam Bonjol Padang awal tahun 1999 pada acara Satu Tahun Reformasi berkolaborasi dengan UKM musik IAIN “IB”. Sementara saya tahun 1998 sampai awal 2010 berdomisili di Yogyakarta. Jelas menjadi sangat rumit bagi saya mengetahui kemiripan kedua karya ketika memikirkan jarak tempat ataupun pesinggungan saya dengan karya lagu tersebut. Saya telusuri nama Yusran Harianto di mesin pencari Google, untuk mencari karya lagu Opera Dewa-dewa ataupun naskah dramanya. Tidak ada hasil untuk pencarian karya beliau. Setelah memperoleh nomor telepon gengam Yusran dari Zelfeni, saya mengirim pesan bertanya perihal kemiripan lagu dengan puisi sekaligus menanyakan dokumentasi pementasan naskah “Karbala” yang mana lagu Opera Dewa-dewa dijadikan sebagai lagu temanya. Jawaban pesan Yusran adalah sebagai berikut: “Ketika membaca dan menganalisis isi puisi Anda, saya sependapat dengan Anda, bahwa karya kita memang berbeda. File video pementasan dimaksud nggak ada, dokumen foto dan naskah drama bisa Anda lihat di UKM Teater Imam Bonjol”. Proses Kreatif Penulisan Selasa 8 Mei 2012, saya mendapat informasi yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Berawal dari komentar di situs jejaring sosial Facebook, saya diminta untuk menemui Mardianto, seorang yang pernah tinggal serumah bersama saya di Jogja kurun waktu tahun 2000 sampai ia kembali ke Padang tahun 2004. Saya terkejut, karena tidak pernah tahu bahwa beliau yang akrab saya panggil Om Anto, adalah alumni dari IAIN Imam Bonjol sebelum serumah dengan saya meneruskan kuliah UGM Yogyakarta. Maka saya temuilah Mardianto yang sekarang sudah menjadi Dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang tersebut pada hari Kamis, 10 Mei 2012. Dari obrolan dengannya di sebuah kantin itulah saya tahu bahwa Mardianto seangkatan dengan Yusran Harianto bahkan mereka sama-sama termasuk pendiri UKM Teater Imam Bonjol Padang. Mardianto justru kaget dengan kedatangan saya yang membahas perihal kemiripan karya ini. Sebelumnya Mardianto mengatakan bahwa ia memang sempat mendapatkan tautan link tulisan media Haluan yang dibagikan oleh Zelfeni Wimra di situs jejaring sosial, bahkan ia sempat berkomentar, tapi tidak mengira bahwa Mahatma Muhammad yang dimaksud di situ adalah saya. Tidak pernah terbesit dalam pikiran Mardianto saya menekuni bidang tulis menulis. Memang, sejak saya kembali ke Padang tahun 2010, ini baru kali kedua saya berjumpa denganya. Saat tinggal bersama Mardianto di Jogja, saya yang masih duduk di bangku kelas satu SMP hanya tahu Mardianto itu berasal dari Padang dan sedang Studi S2 di UGM. Sebagaimana kedekatan seorang kakak kepada adik dalam satu rumah, Mardianto mengajarkan saya bermain gitar dengan menyanyikan beberapa lagu secara otodidak. Dari obrolan terakhir Kamis lalu antara saya dan Mardianto, kemungkinan terbesar dari lagu-lagu yang dinyayikan kala itu salah satunya adalah lagu Opera Dewa-dewa milik Yusran Harianto. Berikutnya saya merasa perlu menceritakan proses kreatif saya dalam menulis puisi. Menurut seorang sastrawan, puisi saya banyak dipengaruhi oleh puisi bapak saya dan Hamid Jabbar. Proses kreatif penulisan saya dimulai pada tahun 2005 ketika duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas, SMKI Yogyakarta jurusan seni teater. Sesuai jurusannya, proses tulis menulis saya mulai dari naskah drama/teater. Tanpa sengaja dari sanalah saya mengenal lebih dekat apa yang namanya puisi, sebagaimana diketahui beberapa sahabat bahwa pengalaman “jatuh cinta” kepada puisi bermula ketika potongan dialog naskah drama yang saya tulis sendiri, saya ambil dan ikutkan dalam lomba penulisan puisi. Di luar dugaan saya puisi tersebut memperoleh juara 1 tingkat sekolah menengah atas di Jogja tahun 2005. Kebiasaan itu berlanjut, sebelum akhirnya mencoba benar-benar menulis puisi tanpa melalui perantara naskah drama yang saya tulis sendiri. Tahun 2007 sampai dengan 2009 di bangku kuliah ISI Yogyakarta Jurusan Teater adalah masa dimana saya sangat produktif menulis naskah drama dan puisi, serta mulai memcoba mempublikasikan di media lokal. Puisi-puisi yang saya tulis tersebut saat ini masih lengkap dalam sebuah buku catatan saya. Puisi memanusia ke senjakala yang saya tulis tahun 2009 termasuk salah satunya. Nah, jikapun ternyata sempat bersinggungan dengan lagu Yusran Harianto melalui proses “pembelajaran” dengan Mardianto, sungguh, tidak ada niatan ataupun unsur kesengajaan saya menulis ulang lirik lagu Opera Dewa-dewa ke dalam puisi tersebut di tahun 2009. Sebagaimana Yusran Harianto menganalisis isi puisi tersebut berbeda dengan karya lagunya, sayapun sejak awal bersikukuh di luar kemiripan karya, secara isi, puisi yang ingin saya sampaikan berbeda dengan lagu tersebut. Selanjutnya permasalahan kemiripan kedua karya ini, saya kembalikan kepada pembaca untuk menyikapinya. Terakhir, seperti yang disampaikan Zelfeni pada tulisannya, atas dasar penghormatan kejujuran dalam berkarya jualah saya yang bukan siapa-siapa ini memberikan penjelasan melalui tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan jawaban bagi rekan dan pembaca yang bertanya beberapa waktu terakhir ini kepada saya. Apapun nanti tanggapannya, baik dan buruknya akan saya terima dengan legawa.
MAHATMA MUHAMMAD
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 447 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI



