Senin, 20 May 2013
Surat dari Bawah Tempurung PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 13 May 2012 01:06

TANGGAPAN TULISAN ZELFENI WIMRA

Kali pertama saya bertemu dengan  Zelfeni Wimra adalah 12 November 2011, ketika bersama-sama menjadi juri lomba baca puisi dalam sebuah kegiatan forum kepenulisan di IAIN Iman Bonjol. Waktu itulah dia menyampaikan bahwa salah satu puisi saya dalam kum­pulan buku sajak Tempurung Tengkurap mirip dengan lagu yang dia kerjakan bersama beberapa teman. Namun saat itu obrolan kami akan hal tersebut berlangsung singkat dan Zelfeni menutup pem­bicaraan dengan mengatakan “Mungkin saja hanya kesa­maan ide”.

Praduga yang Kerdil

Tanpa saya sadari ternya­ta perihal dugaan plagiasi puisi saya tersebut tiba-tiba saja sudah menjadi obrolan dari mulut ke mulut. Saya mengetahui cerita tersebut dari seorang sahabat yang sama-sama bergiat dalam satu komunitas teater,  ia mengatakan isu tersebut berkembang tanpa kejelasan karya puisi mana yang diduga plagiat.

Sahabat tadi bahkan menyampaikan beberapa obrolan yang ia dengar, ada yang mengatakan puisi saya plagiat dari naskah Arifin C Noer dan ada pula yang mengatakan dari naskah Emha Ainun Nadjib. Anehnya walau tanpa kejelasan, seba­gian orang yang terlibat pem­bicaraan mengenai ini sudah langsung “menghakimi” saya dengan cap seorang plagiator, parahnya ada pula yang se­nga­ja menyangkutkan perihal ini dengan individu/kerabat dekat saya serta komunitas teater tempat saya bergiat.

Beberapa hari sebelum tulisan Zelfeni Wimra terbit di Haluan, Minggu 29 April 2012,  saya menemuinya Zelfeni di rumahnya. Saat itulah saya baru tahu bahwa puisi memenusia ke senjakala mempunyai  kemiripan de­ngan lirik lagu Opera Dewa-dewa karya Yusran Harianto. Da­lam obrolan ketika itu saya menolak anggapan bahwa puisi tersebut plagiat dari lirik lagu yang diciptakan oleh Yusran Harianto. Secara pribadi saya tidak pernah tahu siapa itu Yusran Hari­anto ataupun bersinggungan dengan karya lagu serta membaca naskah dramanya. Rekaman lagu Opera Dewa-dewa komunitas Teater Imam Bonjol  sendiri baru saya dengar sehari sebelum mengob­rol dengan Zelfeni Wimra melalui telepon genggam seo­rang sahabat, Alizar Tanjung. Begitu banyak pertanyaan dalam benak saya, tentu saja yang utama adalah masa­lahan kemiripan kedua karya.

Dalam tulisan Zelfeni Wimra sebelumnya dijelaskan bahwa menurut Yusran Ha­rianto,  Lagu Opera Dewa-dewa dia ciptakan tahun 1998. Lagu tersebut digubah dan dipen­taskan di halaman rektorat IAIN Imam Bonjol Padang awal tahun 1999 pada acara Satu Tahun Reformasi berko­laborasi dengan UKM musik IAIN “IB”. Sementara saya tahun 1998 sampai awal 2010 berdomisili di Yogyakarta. Jelas menjadi sangat rumit bagi saya mengetahui kemi­ripan kedua karya ketika memikirkan jarak tempat ataupun pesinggungan saya dengan karya lagu tersebut.

Saya telusuri nama Yusran Harianto di mesin pencari Google, untuk mencari karya lagu Opera Dewa-dewa atau­pun naskah dramanya. Tidak ada hasil untuk pencarian karya beliau. Setelah mem­peroleh nomor telepon gengam Yusran dari Zelfeni,  saya mengirim pesan bertanya perihal kemiripan lagu de­ngan puisi sekaligus menanyakan dokumentasi pementasan naskah “Karbala” yang mana lagu Opera Dewa-dewa dijadi­kan sebagai lagu temanya. Jawaban pesan Yusran adalah sebagai berikut: “Ketika mem­baca dan menganalisis isi puisi Anda, saya sependapat dengan Anda, bahwa karya kita memang berbeda. File video pementasan dimaksud nggak ada, dokumen foto dan naskah drama bisa Anda lihat di UKM Teater Imam Bonjol”.

Proses Kreatif Penulisan

Selasa 8 Mei 2012, saya mendapat informasi yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Berawal dari komentar di situs jejaring sosial Facebook, saya diminta untuk menemui Mardianto, seorang yang pernah tinggal serumah ber­sama saya di Jogja kurun waktu tahun 2000 sampai ia kembali ke Padang tahun 2004. Saya terkejut, karena tidak pernah tahu bahwa beliau yang akrab saya panggil Om Anto,  adalah alumni dari IAIN Imam Bonjol sebelum serumah dengan saya mene­ruskan kuliah UGM Yogya­karta. Maka saya temuilah Mardianto yang sekarang sudah menjadi Dosen di Fa­kul­tas Ilmu Pendidikan Uni­versitas Negeri Padang ter­sebut pada hari Kamis, 10 Mei 2012. Dari obrolan de­ngan­nya di sebuah kantin itulah saya tahu bahwa Mar­dianto seangkatan dengan Yusran Harianto bahkan mereka sama-sama termasuk pendiri UKM Teater Imam Bonjol Padang.

Mardianto justru kaget dengan kedatangan saya yang membahas perihal kemiripan karya ini. Sebelumnya Mar­dianto mengatakan  bahwa ia memang sempat men­dapatkan tautan link tulisan media Haluan yang dibagikan oleh Zelfeni Wimra di situs jejaring sosial, bahkan ia sempat berkomentar, tapi tidak mengira bahwa Mahat­ma Muhammad yang dimak­sud di situ adalah saya. Tidak pernah terbesit dalam pikiran Mardianto saya menekuni bidang tulis menulis.

Memang,  sejak saya kem­bali ke Padang tahun 2010, ini baru kali kedua saya berjumpa denganya. Saat tinggal bersama Mardianto di Jogja, saya yang masih duduk di bangku kelas satu SMP hanya tahu Mardianto itu berasal dari Padang dan sedang Studi S2 di UGM. Sebagaimana kedekatan seo­rang kakak kepada adik dalam satu rumah, Mardianto mengajarkan saya bermain gitar dengan menyanyikan beberapa lagu secara otodidak. Dari obrolan terakhir Kamis lalu antara saya dan Mar­dianto, kemungkinan terbesar dari lagu-lagu yang dinya­yikan kala itu salah satunya adalah lagu Opera Dewa-dewa milik Yusran Harianto.

Berikutnya saya merasa perlu menceritakan proses kreatif saya dalam menulis puisi. Menurut seorang sas­trawan, puisi saya banyak dipengaruhi oleh puisi bapak saya dan Hamid Jabbar. Proses kreatif penulisan saya dimulai pada tahun 2005 ketika duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas, SMKI Yogyakarta jurusan seni teater.

Sesuai jurusannya, proses tulis menulis saya mulai dari naskah drama/teater. Tanpa sengaja dari sanalah saya mengenal lebih dekat apa yang namanya puisi, sebagaimana diketahui  beberapa sahabat bahwa pengalaman “jatuh cinta” kepada puisi bermula ketika potongan dialog naskah drama yang saya tulis sendiri,  saya ambil dan ikutkan dalam lomba penulisan puisi. Di luar dugaan saya puisi tersebut memperoleh juara 1 tingkat sekolah menengah atas di Jogja tahun 2005.

Kebiasaan itu berlanjut, sebelum akhir­nya mencoba benar-benar menulis puisi tanpa melalui perantara naskah drama yang saya tulis sendiri.

Tahun 2007 sampai de­ngan 2009 di bangku kuliah ISI Yogyakarta Jurusan Teater adalah masa dimana saya sangat produktif menulis naskah drama dan puisi, serta mulai memcoba mempub­likasikan di media lokal. Puisi-puisi yang saya tulis tersebut saat ini masih leng­kap dalam sebuah buku cata­tan saya. Puisi memanusia ke senjakala yang saya tulis tahun 2009 termasuk salah satunya. Nah, jikapun ternyata sempat bersinggungan dengan lagu Yusran Harianto melalui proses “pembelajaran” dengan Mardianto, sungguh, tidak ada niatan ataupun unsur kese­ngajaan saya menulis ulang lirik lagu Opera Dewa-dewa ke dalam puisi tersebut di tahun 2009.

Sebagaimana Yusran Harianto menganalisis isi puisi tersebut berbeda dengan karya lagunya, saya­pun  sejak awal bersikukuh di luar kemiripan karya, secara isi, puisi yang ingin saya sampaikan berbeda dengan lagu tersebut. Selan­jutnya permasalahan kemiri­pan kedua karya ini, saya kembalikan kepada pembaca untuk menyikapinya.

Terakhir, seperti yang disampaikan Zelfeni pada tulisannya, atas dasar peng­hor­matan kejujuran dalam berkarya jualah saya yang bukan siapa-siapa ini mem­berikan penjelasan melalui tulisan ini.

Semoga tulisan ini dapat memberikan jawaban bagi rekan dan pembaca yang bertanya beberapa waktu terakhir ini kepada saya. Apapun nanti tanggapannya, baik dan buruknya akan saya terima dengan legawa.

 

MAHATMA MUHAMMAD

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy