Kamis, 20 Juni 2013
Wan Jupri PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 13 May 2012 01:07

Pada suatu hari Jum’at yang terik dan gerah, aku menemukan peristiwa aneh di masjid, tak jauh dari toko plastik tempat aku bekerja. Jum’at itu adalah Jum’at ke tiga belas, atau mungkin ke tujuhbelas (aku tidak terlalu ingat) di mana hujan tidak juga turun-turun ke kotaku. Hari itu, entah kenapa menjengkelkanku dari pagi. Bangun kesiangan, sarapan hangus, air dispenser habis, air PAM mati, angkot ngetem terlalu lama, dan dimarahi bos karena datang terlalu telat. Dengan perut keroncongan, kerongkongan kehausan dan sakit kepala yang mendera di sebelah kepala, aku harus menghadapi pelanggan yang cerewet dan banyak maunya dengan senyum manis dan ucapan terima kasih. Menjelang siang aku ingin berteriak sekerasnya, membanting-banting karpet plastik ke mana-mana dan melemparkan bosku sejauh-jauhnya ke Samudera Atlantik.

Lalu—syukurlah, datang panggilan adzan. Toko ditutup dan aku segera berlari ke masjid. Mengguyur kepala dengan air dingin—alhamdulillah—, menyesap sedikit airnya, lalu duduk dengan nyaman di dalam masjid.

Syukurlah hari ini Jum’at. Syukurlah ada masjid.

Aku duduk di shaf ke tiga. Shaf di mana beberapa bangku kayu dan kursi plastik berada. Bangku-bangku kayu dan kursi plastik itu kepunyaan masjid. Sengaja ditaruh di sana untuk para jamaah yang mengalami masalah pada tubuhnya hingga tak bisa bersimpuh dan bersujud. Seorang di antara jamaah yang mengalami masalah itu adalah Wan Jupri. Beberapa tahun lalu ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tempurung lutut dan tangannya dioperasi. Ia memang sembuh, tapi tulangnya tak betul-betul kuat.  Ia kesulitan menekuk kaki, tapi ia tetap diperbolehkan mengikuti shalat jamaah sambil duduk di bangku.

Wan Jupri sejenis orangtua bawel, bermulut pedas, dan tidak pernah bisa melunakkan suaranya ketika berbicara. Ia dikenal sebagai penggerutu. Selalu ada yang menjadi celaannya. Setiap kali memandang orang, sinar matanya tak pernah ramah dan lunak. Senantiasa tajam dan menilai. Sering pula pandangannya itu terkesan merendahkan. Kalau bertemu orang baru, ia akan memandang dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah tengah menilai kualitas penampilan dan tingkah laku orang tersebut.

Tak ada yang menyukai Wan Jupri. Anaknya pun tidak. Pernah suatu hari Wan Jupri datang ke kedai lontong milik anaknya. Mulanya ia disambut baik dan dihidangkan sepiring lontong. Namun kemudian suasana berubah ketika Wan Jupri mengomeli rasa lontong buatan anaknya. Ia bilang kuah lontong itu terasa seperti air jamban. Marahlah anaknya, terlebih Wan Jupri bicara di saat kedai lontong itu sedang penuh orang. Ia pun diusir.

Bertemu Wan Jupri di saat begini jelas tak kuinginkan. Sebisa mungkin aku selalu menghindar percakapan dengannya. Ia hanya akan meninggalkan pengalaman buruk serta kejengkelan luar biasa. Tapi, agaknya hari ini aku ditakdirkan Tuhan untuk satu shaf dengan si penggerutu itu. Apa boleh buat.

Kursi Wan Jupri terletak di samping tiang masjid. Garin yang meletakkan di sana tadi. Memang itulah yang selalu diminta Wan Jupri. Tempat itu seolah sudah di’perda’kan untuk menjadi milik Wan Jupri. Pernah dulu, sewaktu Wan Jupri telat datang, tempat ‘resmi’nya diisi orang. Begitu tahu, mengamuklah Wan Jupri, menganggu ketentraman masjid. Sejak saat itu, garin masjid tak pernah absen membawa kursi shalat Wan Jupri ke samping tiang masjid, sebelum jamaah shalat datang.

Masjid sudah hampir penuh dan Wan Jupri belum juga datang. ‘Mungkin ia ada halangan,’ pikirku. Belum dua menit pikiran itu berlalu, seorang lelaki tua peminta-minta, kusut, beruban dan bertampang selusuh pakaiannya datang. Ia masuk dengan menggunakan tongkat kruk yang diapit di bawah ketiak kanannya. Kaki kanan pengemis itu terbalut perban kotor, tampak bengkak dan lebam. Setelah mencari-cari tempat untuk shalat, ia melihat kursi shalat Wan Jupri. Segera, ia ke sana dan duduk.

Semua orang di shaf ketiga memandang si pengemis tua. Kurasa, kami semua ingin menyuruhnya pergi dari sana, tapi tak ada satu suara pun yang keluar. Kalau menyuruh si pengemis mencari tempat lain, maka tempat mana­kah? Dengan wajah lusuh begitu ditambah kondisi kakinya yang mengenaskan, kurasa kami semua tidak tega.

Akan halnya aku sendiri, hanya bisa berharap Wan Jupri tidak datang saat itu.

Tapi doaku tak terkabul! Lelaki tua penggerutu bermulut pedas itu datang hanya berselang tiga menit setelah si pengemis itu duduk! Aku menjadi tegang, dan kurasa, setelah melihat wajah-wajah jamaah lain, mereka juga sama tegangnya dengan aku. Pasti akan terjadi pertengkaran hebat, pikirku. Pasti suasana masjid akan gaduh, pikiran lain menambahkan.

Kulihat Wan Jupri. Lelaki itu melangkah masuk masjid. Baru dua langkah ia melihat apa yang sudah kami lihat. Pengemis itu! Pengemis itu duduk di kursi kebangsaan Wan Jupri! Wan Jupri tampak tercengang. Mungkin ia tak percaya ada orang yang berani duduk di kursinya.  Beberapa detik kemudian ekspresinya membeku. Ia mulai menunjukkan ekspresi yang sudah aku kenal. Ekspresi yang menyiratkan kemarahan luar biasa, yang siap untuk diledakkan sekuat-kuatnya.

Wan Jupri menyeret kakinya mendekati si pengemis. Berdiri di hadapannya.

“Pergi dari kursiku!” hardiknya. Ia berkacak pinggang dan dua matanya melotot setajam yang mampu ia lakukan.

Aku tersentak. Mulai berpikir untuk bertindak sesuatu. Kulihat pengemis itu. Anehnya, ia tak membalas kata-kata Wan Jupri. Matanya yang lusuh memandang Wan Jupri lama, bahkan lama sekali. Lalu ia menarik napas, mengambil kruknya, dan berusaha berdiri.

Wan Jupri yang kukira siap dengan konfrontasi paling hebat yang mungkin terjadi sepanjang sejarah masjid itu, terkesiap. Matanya mengerjap sejenak, lalu tiba-tiba tangan kanannya yang dipenuhi luka kecelakaan dan gurat panjang operasi, terulur. Ia menahan bahu pengemis itu untuk tetap duduk. Si pengemis duduk, wajahnya tampak heran dan tak mengerti. Begitu pula aku. Lalu Wan Jupri berbalik, pergi melintasi jamaah, ke luar masjid.

Sesaat masjid sepi. Para jamaah saling berpandangan. Mungkin bertanya-tanya ada apa gerangan. Kemana Wan Jupri? Apa dia memilih pergi dan tidak ikut shalat jum’at? Tidak, itu bukan Wan Jupri. Lelaki tua itu sejenis makhluk yang paling tidak suka dikalahkan orang lain.

Lima menit kemudian sosoknya datang. Astaga, tangan kanannya membawa kursi plastik, yang agaknya ia ambil begitu saja dari kedai lontong anaknya. Ia membawa kursi itu melewati kepala jamaah shalat. Kemudian, meletakkannya tepat di samping kursinya yang diduduki si pengemis.

Wan Jupri tak bicara. Ia hanya menunjuk kursi plastik itu sambil memandang si pengemis. Si pengemis pun mahfum. Ia mengambil tongkat kruknya dan berpindah duduk. Akan halnya Wan Jupri sendiri, kembali mendapatkan kursi ‘kebangsaannya’.

Aku dan jamaah masjid lainnya saling berpan­dangan. Mencoba mema­hami apa yang terjadi. Apakah si penggerutu itu sudah tobat? Apakah hidayah Tuhan turun kepadanya hingga tiba-tiba tingkah lakunya berubah 180 derajat? Entahlah.

Malamnya, hujan jatuh deras di kota kami. Spon­tan aku teringat kejadian siang itu. Bila kebaikan kecil yang dilakukan lelaki penggerutu dan bermulut pedas semacam Wan Jupri mampu melunakkan Tuhan, hingga bersedia menu­runkan hujannya, apatah lagi kiranya jika kebaikan yang lebih besar dilakukan oleh penguasa negeri ini?

Kutangkupkan selimut ke kepala. Rasanya malam ini aku bisa tidur nyenyak.**

 

Cerpen Oleh: MAYA LESTARI GF

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: