| Kaum Ibu Merawat Bajulo-julo Sawah |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Selasa, 15 May 2012 02:50 |
|
Di kampung itu para ibu-ibu masih bajulo-julo untuk menanam padi dan mengerjakan sejumlah pekerjaan lain karena banyak manfaatnya. “Dengan julo-julo kita tidak perlu mengeluarkan ongkos menanam. Kalau diupahkan kita harus mengeluarkan uang sekitar 30 ribu sehari untuk satu orang. Kalau orang yang diupah ada 5 atau 10 orang tentu ongkosnya lebih banyak,” kata Sima kepada Haluan, Senin (14/5). Selain menghemat biaya, kegiatan julo-julo bermanfaat untuk memupuk kebersamaan antarwarga sekampung dan warga saling kunjung mengunjungi ke rumah atau ke sawah masing-masing. Kebersamaan seperti itu sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat yang hidup di sektor pertanian sawah. Anggota julo-julo menanam padi merupakan warga dari kelompok pemukiman terdekat yang juga memiliki sawah yang berdekatan. Bagi tuan rumah atau sawahnya yang akan ditanam cukup menyediakan makanan berupa minum kopi disertai makanan ringan dan makan siang. Biasanya untuk samba makan siang peserta julo-julo tuan rumah memotong ayam, walau tidak ada ketentuannya. Pekerjaan julo-julo dilakukan dengan gembira dan penuh keakraban antarpeserta. Dulu di nagari itu hampir semua pekerjaan pertanian dijulo-julokan, mulai dari mencangkul, membajak sampai kepada mairiak atau merontokan gabah. Tetapi kini yang masih banyak dilakukan hanya bajulo-julo bertanam padi seperti yang dilakukan ibu-ibu di jorong Tantaman. Menurut Wali Nagari III Koto Silungkang Helmi Nasution, kegiatan julo-julo yang masih eksis di nagari itu kebanyakan memang pekerjaan yang biasa dilakukan kalangan ibu-ibu, sementara pekerjaan pertanian yang biasa dilakukan oleh lelaki seperti manaruko, mencangkul maupun mairiak padi jarang yang dijulo-julokan, semua sudah main upah. “Julo-julo sebenarnya kegiatan gotong-royong untuk membantu mengerjakan pekerjaan warga sebuah rumah tangga yang dikakukan secara bergantian, tetapi kini hal itu semakin jarang dilakukan disebabkan oleh karena penggunaan teknologi permesinan yang dianggap lebih praktis dibanding gotong-royong,” ungkap Helmi Nasution. Makanya julo-julo bertanam padi masih eksis karena tidak ada teknologi untuk itu. Kalau untuk mengolah tanah seperti mencangkul dan membajak sudah ada teknologi atau mesinnya, menyabik padi juga masih banyak yang digotong-royongkan dengan manyarayo sanak saudara karena tidak ada mesinnya, tetapi untuk mairiak atau merontokkan gabah telah banyak yang diupahkan karena mesin perontok gabah yang bekerja lebih cepat telah masuk ke pelosok nagari. Ditambahkan wali nagari, akibat maraknya penggunaan teknologi kegiatan julo-julo juga makin berkurang, misalnya dalam baralek, ibu-ibu tidak perlu lagi datang ramai-ramai membantu keluarga yang baralek untuk menggiling cabai atau mengukur kelapa karena sudah ada mesinnya. “Di nagari ini keluarga yang baralek harus membuat lemang, untuk mencari talang atau bambu dan daun pisang untuk keperluan lemang, warga tetangga bersama-sama mencarinya ke hutan, tetapi sekarang talang dan daun pisang sudah dapat dibeli, bahkan lemang masak pun dapat juga dibeli, sehingga kegiatan julo-julo antar sesama warga kian menipis, karena itu untuk melestarikan kegiatan gotong royong yang bersifat julo-julo semestinya tidak semua pekerjaan harus main upah dan menggunakan teknologi,” kata wali nagari mengakhiri. (h/Laporan Kasra Scorpi)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 372 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


TRADISI bajulo-julo menanam padi bagi ibu-ibu di sejumlah perkampungan dalam Nagari III Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam hingga kini masih terpelihara dan terus berlangsung.
