| Program Konyol Kemdikbud |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 20 May 2012 01:11 |
|
Sertifikasi seniman, pekerja seni, dan budayawan memunculkan penolakan keras. Rencana Kemdikbud itu dinilai konyol. Masih banyak infrastruktur kesenian yang mendesak dipikirkan pemerintah ketimbang sertifikasi ini. Berawal dari gagasan yang dilontarkan-yang sesungguhnya sudah 12 tahun lalu mengemuka, Wakil Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryati untuk menyertifikasi seniman dan pekerja seni.Ide itu ia lontarkan awal pekan pertama pada Mei dalam pelbagai wawancara dan pertemuan. Alasan utama sertifikasi karena membanjirnya pekerja seni dari luar negeri ke Indonesia yang telah memiliki sertifikasi internasional. Dampaknya pekerja seni lokal akan tersingkir, sebab tak mampu berkompetisi di tingkat dunia. "Kita ini tidak mungkin menyetop arus globalisasi. Jadi itu adalah sesuatu yang memang sudah bersama-sama di sekitar kita, termasuk juga di dalamnya seni dan budaya yang kita lihat sama sekali belum ada sentuhan pemetaan kompetensi maupun sertifikasi. Oleh karena itulah, maka kita mau tidak mau harus memetakan semua kompetensi para pekerja seni dan budaya," kata Wiendu Nuryati dalam wawancara khusus dengan KBR68, Jakarta, pekan lalu. Menurutnya, dengan pemetaan kompetisi yang jelas, maka diketahui bahwasanya kompetensi-kompetensi apa yang harus dimiliki di bidang kebudayaan dan jenis-jenis profesi apa saja seni dan budaya itu. Jenis-jenis profesi apa saja seni dan budaya itu, misalnya termasuk didalamnya tentu seni dalam arti luas ada sinden, dalang, penyanyi, dan sebagainya. Tak ayal, wacana ini mendapat reaksi berbagai kalangan seniman dan pekerja seni di Tanah Air. Seniman dan pekerja seni di Bali meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membatalkan rencana sertifikasi itu. "Proses sertifikasi bisa menimbulkan jual beli sertifikat. Rawan konflik," kata Ketua Teater Tulus Ngayah Cok Sawitri. Pemerintah tidak memiliki standar kompetensi yang pasti. Cok Sawitri menegaskan, seniman dan budayawan jarang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Begitu juga soal kesejahteraan. Di Sumatera Barat, sikap seniman dan pekerja seni "terbelah". Ada yang menolak keras program ini, ada yang memilih "Upaya memberi sertifikat kepada seniman dan budayawan adalah tindakan konyol, sangat konyol!" kata Darman Moenir, pakan lalu. "Program yang paling lucu di muka bumi," jelas Edy Utama, budayawan yang baru usai menggelar pameran fotografi di Hawaii, AS. Indra Utama, pengajar ISI Padangpanjang dan University of Malaya menilai, sertifikasi kompetensi untuk menentukan kualifikasi seseorang dalam bidang-bidang tertentu memang diperlukan. "Saya kira, inilah mungkin yang menjadi tujuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkait rencana membuat sertifikasi kompetensi seniman dan budayawan Indonesia untuk menentukan kualifikasi kesenimanan seseorang berdasarkan kompetensi yang dimilikinya," kata Indra Utama, "Dan jika tujuannya demikian, kita perlu mendukung." Zelfeni Wimra, penulis cerita kumpulan cerpen Pengantin Subuh, mengatakan, ide sertifikasi untuk seniman dan budayawan, bagus, tapi belum matang karena Mendikbud tidak memaksimalkan sosialisasinya. "Saya setuju dengan adanya corak khusus dalam mekanisme sertifikasi seniman dan budayawan ini. Minimal bertujuan untuk mengumpulkan data base seniman dan budayawan Indonesia. Selama ini seniman/budayawan itu "berkeliaran" saja di negara ini. Siapa mereka? Berapa jumlah mereka? Apa perjuangan mereka? Seolah tak tersentuh kebijakan negara," kata penulis yang akrab disapa Bimo ini. Dengan sertifikasi, seniman dan budayawan kukuh secara struktural atau stratifikasi sosial negara. Akan ada hak dan kewajiban dalam proses pendidikan seni dan kebudayaan yang tertulis, jaminan sosial, dan lain-lainnya. "Jadi terlebih dahulu kita dengarkanlah Mendikbud ini. Kalau ternyata tidak ada dampak baiknya, hanya untuk membungkam barisan seniman dan budayawan yang selama ini berdiri di barisan kritis, mari pula kita tolak ide ini. Kita turunkan dia (bila perlu)," tambahnya. Esha Tegar Putra, penyair beberapa waktu lalu diundang Komunitas Salihara Jakarta untuk membacakan puisinya, menolak keras rencana sertifikasi seniman dan pekerja seni itu. "Saya tak setuju. Seperti pegawai negeri saja. Biasanya dalam tahapan sertifikasi ada sertifikat-sertifikat yang dikumpul sebagai bahan persyaratan. Dari setiap iven yang pernah saya ikuti semisal Temu Sastrawan Indonesia sampai lain sebagainya," ucap Esha sembari mempertanyakan, apakah seniman nanti akan dibuatkan juga pangkat dan golongannya berdasarkan hasil sertifikasi tersebut. Bingung Beberapa seniman yang dimintai pendapatnya, tak sedikit pula yang bingung dengan rencana Kemdikbud ini. Mereka mengaku tak mengerti maksud sertifikasi terhadap seniman dan pekerja seni. Tya Setiawati, pegiat Teater Sakata Padang Panjang, mengaku bingung dan kurang faham tujuan dan rencana pemerintah ini. Baginya, seniman adalah profesi yang unik dan independen. Keberadaannya dihargai atas karya-karyanya yang diapresiasi masyarakat. "Jika kebijakan ini (proyek sertifikasi) tetap dilaksanakan, standarnya bagaimana? Apakah ada jaminan seniman yang sudah bersertifikasi akan terus berkarya? Saya kira kebijakan ini justru akan melemahkan 'kebebasan berekspresi' seniman. Masih banyak persoalan infrastruktur kesenian yang harus dibenahi dan ini mungkin lebih penting," kata perempuan sutradara teater ini. Tapi justru Yusril Katil, pimpinan Komunitas Hitam-Putih Indonesia yang bermarkas di Padang Panjang ini, tidak mempermasalahkan sertifikasi bagi seniman dan pekerja seni. "Kalau saat ini Kemdikbud menganggap seniman adalah bagian dari profesi yang ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa, ya kenapa tidak? Saya pikir tidak ada masalah kalau senimana disertifikasi dan pemerintan memberikan apresiasi buat seniman berprestasi yang telah ikut mengharumkan nama bangsa. Bukankah selama ini para seniman ikut mendukung dan mengusulkan agar para maestro seni diberi penghargaan. Mungkin namanya waktu itu bukan sertifikasi," kata Yusril yang juga pengajar di ISI Padang Panjang. Syuhendri, pendiri Teater Noktah Padang, menilai cukuplah para guru saja yang kena sertifikasi. Untuk seniman, berikan saja kebebasan melahirkan karya yang berkualitas."Jika sertifikasi berkaitan dengan karya saya setuju. Kompetisi karya-karya sehat akan muncul," kata Syuhendri singkat. Iyut Fitra, penyair yang berdomisili di Kota Payakumbuh juga mengaku bingung bingung untuk bisa menerima rencana Kemdikbud ini. Menurutnya, seniman dan budayawan tidak tergantung kepada sertifikasi atau apapun penamaan-penamaan lain yang justru akan mengklasifikasikan sesuatu kepada yang tidak jelas. "Apa standarisasi untuk memberikan sertifikasi dan kompetensi tersebut? Bukankah nanti justru akan menimbulkan dilema baru? Saya cemas nanti akan ada dua kubu seniman seperti persoalan di tubuh PSSI. Ada seniman serifikasi dan yang tidak. Ada seniman pemerintah dan non-pemerintah. Untuk Sumatra Barat, saya pikir, pemerintah silakan tegaskan saja dana kesenian lewat dewan kesenian kalau memang ingin memperhatikan seniman," kata Iyut Fitra. Abdul Hadi WM, pengajar di Universitas Paramadina Jakarta, menjelaskan, seniman, seperti ilmuwan, ulama, cendekiawan, pendeta, filosof dan pemikir, tak perlu sertifikat. Yang mereka perlukan adalah penghargaan terehadap karya mereka, apresiasi, dan penyediaan ruang yang leluasa untuk memaerken, mempertunjukkan, menyiarkan dan menerbitkan karya mereka. "Mereka lebih memerlukan banyaknya pusat kesenian, penerbitan buku dan sarjana yang dengan ikhlas mau mencatat dan membahas karya mereka untuk diajarkan di lembaga pendidikan," kata kritikus sastra yang juga penyair ini.
Laporan: NASRUL AZWAR Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


SERTIFIKASI SENIMAN DAN BUDAYAWAN