Rabu, 01 Oktober 2014
Mengenal Patahan “Besar” Sumatera PDF Cetak Surel
Senin, 21 May 2012 01:43

Terbentuknya Patahan “Besar” Sumatera bermula sejak jutaan tahun lampau saat Lem­peng (Samudra) Hindia-Australia menabrak secara menyerong bagian barat Sumatera yang menjadi ba­gian dari Lempeng (Benua) Eu­rasia.

Tabrakan me­nye­rong ini memicu mun­culnya dua kom­ponen gaya. Komponen per­tama ber­sifat tegak lurus, menyeret ujung Lempeng Hin­dia ma­suk ke bawah Lempeng Sumatera. Batas kedua lem­peng ini sampai kedalaman 40 kilo­meter umumnya mem­punyai sifat regas dan di beberapa tem­pat terekat erat.

Suatu saat, tekanan yang terhimpun tak sanggup lagi ditahan se­hingga mengha­silkan gempa bumi yang berpusat di se­kitar zona pe­nun­jaman atau zona sub­duksi. Setelah itu, bidang kontak akan merekat lagi sampai suatu saat nanti kem­bali terjadi gempa bu­mi besar. Gempa di zona inilah yang kerap me­micu terjadinya tsu­na­mi, seba­gaimana terjadi di Aceh pada 26 De­sember 2004.

Adapun komponen kedua berupa gaya horizontal yang sejajar arah palung dan me­nyeret bagian barat pulau ini ke arah barat laut. Gaya inilah yang menciptakan re­takan memanjang sejajar ba­tas lempeng, yang ke­mu­dian dikenal sebagai Pata­han Besar Suma­tera. Geolog Katili dalam The Great Su­ma­tran Fault (1967) me­nyebutkan, retakan ini ter­bentuk pada periode Miosen Tengah atau sekitar 13 juta tahun lalu.

Lempeng Bumi di bagian barat Patahan Sumatera ini senan­tiasa bergerak ke arah barat laut dengan kece­patan 10 milimeter per tahun sam­pai 30 mm per tahun relatif ter­hadap bagian di ti­murnya. Seba­gai­mana di zona sub­duksi, bi­dang Patahan Su­ma­tera ini sampai keda­laman 10 kilometer-20 km terkunci erat se­hingga terjadi aku­mulasi tekanan.

Suatu saat, tekanan yang terkumpul sudah demikian besar sehing­ga bidang kon­tak di zona patahan tidak kuat lagi menahan dan kemudian pecah. Ba­tuan di kanan-kirinya melenting tiba-tiba dengan kuat se­hingga terjadilah gem­pa bumi besar. Setelah gempa, bidang patahan akan kem­bali merekat dan terkunci lagi dan me­ngumpulkan te­kanan elas­tik sampai suatu hari nanti terjadi gem­pa bumi besar lagi.

Pusat gempa di Pa­tahan Sumatera pada umumnya dangkal dan dekat dengan permu­kiman. Dampak energi yang dilepas dirasakan sa­ngat keras dan bia­sanya sangat merusak. Apalagi gempa bumi di zona patahan selalu di­sertai gerakan hori­zontal yang me­nye­babkan retaknya tanah yang akan merobohkan ba­ngunan di atasnya. Topografi di se­panjang zona patahan yang dikepung Bukit Barisan juga bisa memicu tanah long­sor. Adapun lapisan tanah yang dilapisi abu vulkanik se­makin memperkuat efek gun­cangan gempa.

Beberapa tempat di Pa­tahan Besar Sumatera me­rupakan pula zona lemah yang ditembus magma dari dalam bumi. Ge­taran gempa bumi bisa menye­babkan air per­mukaan ber­sentuhan de­ngan magma. Karena itu, pada saat gempa bumi, kerap terjadi letupan uap (letupan freatik) yang dapat diikuti munculnya gas be­racun, se­bagaimana terjadi di Suoh, Lampung, pada 1933. (h/kcm)


Newer news items:
Older news items: