Rabu, 22 May 2013
Petani Cemas Hama Menyerang PDF Cetak Surel
Selasa, 22 May 2012 01:45

Hama pengerek batang itu mewabah di tiga kecamatan.

SOLOK, HALUAN—Selain an­caman kekeringan, se­rangan hama pengerek batang mulai mewabah di tiga keca­matan (Kubung, Bukit Sundi, IX Koto Sei Lasi) Kabupaten Solok. Para petani cemas hasil panen tahun ini bakal jeblok.

“Tanaman yang semula hi­jau subur, kini mulai rusak. Per­tumbuhannya pun tak normal,” ujar Iskandar (45), petani di Jo­rong Subarang, Nagari Koto­ba­ru, Kecamatan Ku­bung, ke­ma­rin.  Me­nu­rutnya, bila dilihat lebih dekat, hama berupa serangga kecil ber­warna putih dan bisa terbang. Cenderung hinggap bagian batang, dan balik daun. Bagian tanaman yang dihing­gapi, ada bintik-bintik. Be­berapa hari kemudian akan menjadi layu, hingga me­merah. Iskandar telah men­yem­protkan pestisida, namun belum terlihat perubahan pada tanaman.

Petani lain, Anas (50), asal Gu­guksarai, Kecamatan IX Koto Sei Lasi, juga menge­luhkan hal serupa. Sawah garapannya terserang hama pengerek ba­tang dan perusak daun. Dia mensinyalir hama kali ini se­jenis hama wereng.

Selain di Kubung dan IX Sei Lasi, juga menyerang be­lasan hektare areal pesa­wahan di beberapa nagari, Kecamatan Bukit Sundi. Se­perti yang lain, antisipasi yang dil­akukan petani dengan me­nyemprotkan pestisida.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Tanaman Pa­ngan Kabupaten Solok Dar­man ketika dikonfirmasi, me­ngaku belum menerima lapo­ran atas mewabahnya hama di tiga kecamatan ter­sebut. Mes­ki demikian, dia berjanji segera turun ke la­pangan me­mastikan keadaan.

Menurutnya, penggerek batang adalah hama yang ulatnya hidup dalam batang padi. Hama ini berubah menjadi ngengat berwarna kuning atau coklat, biasanya 1 larva. Berada dalam 1 anakan. Ngengat aktif di malam hari. Larva betina menaruh 3 massa telur sepan­jang 7-10 hari masa hidupnya sebagai serangga dewasa.

“Massa telur penggerek batang kuning ber­bentuk cak­ram dan ditutupi oleh bulu-bulu berwarna cok­lat te­rang dari abdomen betina. Setiap massa telur mengandung sekitar 100 telur,” ujarnya.

Penggerek batang, sebut­nya, merusak pertanaman padi pada semua fase tumbuh, sejak persemaian sam­pai ma­tang. Bila tanaman masih muda, anakan yang rusak berwarna coklat dan mati. Kondisi ini disebut sundep. Bila kerusakan terjadi pada fase pembentukan malai, maka malai berwarna putih dan disebut beluk.

“Penggerek batang dapat menyebabkan mero­sotnya hasil padi karena anakan yang rusak oleh sundep tidak dapat menghasilkan gabah,” tu­turnya.

“Masyarakat kita imbau agar perhatikan kebersihan areal pesawahan, pilih bibit yang unggul, serta melakukan pola penanaman serentak. Hindari kebiasaan pena­naman padi secara terus me­nerus, sesekali selingi dengan palawija,” sarannya.

Lebih jauh disebutkan, tanaman padi saat musim kemarau sangat rentan ter­hadap serangan hama peng­gerek batang. Hal ini dise­bab­kan karena kondisi lingkungan yang mendukung untuk ber­kembangnya populasi hama penggerek batang ini. Per­kembangan hama penggerek batang ini akan semakin pesat ketika didukung oleh cuaca yang panas dan kondisi air yang tergenang. (h/net)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: