| Petani Cemas Hama Menyerang |
|
|
|
| Selasa, 22 May 2012 01:45 | |||
|
Hama pengerek batang itu mewabah di tiga kecamatan. SOLOK, HALUAN—Selain ancaman kekeringan, serangan hama pengerek batang mulai mewabah di tiga kecamatan (Kubung, Bukit Sundi, IX Koto Sei Lasi) Kabupaten Solok. Para petani cemas hasil panen tahun ini bakal jeblok. “Tanaman yang semula hijau subur, kini mulai rusak. Pertumbuhannya pun tak normal,” ujar Iskandar (45), petani di Jorong Subarang, Nagari Kotobaru, Kecamatan Kubung, kemarin. Menurutnya, bila dilihat lebih dekat, hama berupa serangga kecil berwarna putih dan bisa terbang. Cenderung hinggap bagian batang, dan balik daun. Bagian tanaman yang dihinggapi, ada bintik-bintik. Beberapa hari kemudian akan menjadi layu, hingga memerah. Iskandar telah menyemprotkan pestisida, namun belum terlihat perubahan pada tanaman. Petani lain, Anas (50), asal Guguksarai, Kecamatan IX Koto Sei Lasi, juga mengeluhkan hal serupa. Sawah garapannya terserang hama pengerek batang dan perusak daun. Dia mensinyalir hama kali ini sejenis hama wereng. Selain di Kubung dan IX Sei Lasi, juga menyerang belasan hektare areal pesawahan di beberapa nagari, Kecamatan Bukit Sundi. Seperti yang lain, antisipasi yang dilakukan petani dengan menyemprotkan pestisida. Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Tanaman Pangan Kabupaten Solok Darman ketika dikonfirmasi, mengaku belum menerima laporan atas mewabahnya hama di tiga kecamatan tersebut. Meski demikian, dia berjanji segera turun ke lapangan memastikan keadaan. Menurutnya, penggerek batang adalah hama yang ulatnya hidup dalam batang padi. Hama ini berubah menjadi ngengat berwarna kuning atau coklat, biasanya 1 larva. Berada dalam 1 anakan. Ngengat aktif di malam hari. Larva betina menaruh 3 massa telur sepanjang 7-10 hari masa hidupnya sebagai serangga dewasa. “Massa telur penggerek batang kuning berbentuk cakram dan ditutupi oleh bulu-bulu berwarna coklat terang dari abdomen betina. Setiap massa telur mengandung sekitar 100 telur,” ujarnya. Penggerek batang, sebutnya, merusak pertanaman padi pada semua fase tumbuh, sejak persemaian sampai matang. Bila tanaman masih muda, anakan yang rusak berwarna coklat dan mati. Kondisi ini disebut sundep. Bila kerusakan terjadi pada fase pembentukan malai, maka malai berwarna putih dan disebut beluk. “Penggerek batang dapat menyebabkan merosotnya hasil padi karena anakan yang rusak oleh sundep tidak dapat menghasilkan gabah,” tuturnya. “Masyarakat kita imbau agar perhatikan kebersihan areal pesawahan, pilih bibit yang unggul, serta melakukan pola penanaman serentak. Hindari kebiasaan penanaman padi secara terus menerus, sesekali selingi dengan palawija,” sarannya. Lebih jauh disebutkan, tanaman padi saat musim kemarau sangat rentan terhadap serangan hama penggerek batang. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang mendukung untuk berkembangnya populasi hama penggerek batang ini. Perkembangan hama penggerek batang ini akan semakin pesat ketika didukung oleh cuaca yang panas dan kondisi air yang tergenang. (h/net)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 145 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


