Rabu, 19 Juni 2013
Kecerdasan Anak Bermula dari Meja Makan PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 27 May 2012 00:33

Dari sepiring nasi yang dimakannya, bayi bisa belajar banyak hal yang mencerdaskan.

Di balik kegiatan makan (yang tampaknya sepele), ternyata ada banyak hal yang bisa digali. Bahkan, dimulai dari kegiatan makan dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu minum ASI.

Bagi bayi 6 bulan yang baru mengenal makanan padat, ada sederet keteram­pilan yang harus ia kuasai dan dilatih terus menerus. Kete­rampilan tersebut antara lain keterampilan makan, meru­pakan hasil dari serang­kaian penguasaan dan kontrol terha­dap anggota tubuhnya, untuk digerakkan dengan sadar, sesuai keinginan atau kehen­daknya.

Melalui kegiatan mengisi perut yang dilakukan rutin setiap hari, anak sebetulnya juga melatih keterampilan yang sudah dimiliki, sekaligus mengembangkan keteram­pilan-keterampilan baru.

Pada bayi dan anak usia balita, sekitar 70% dari wak­tu bangun mereka digunakan untuk melakukan kegiatan makan. Selama kegiatan ini, akan terjadi interaksi antara anak dengan orang yang mem­bantunya dalam mengurus berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari, terutama ayah dan bundanya.

Tapi, kapan kita dapat memanfaatkan kegiatan ma­kan sebagai ajang belajar bagi si kecil? Di sinilah dibutuhkan kejelian orangtua untuk meng­amati saat-saat di mana anak menunjukkan perhatian penuh terhadap kegiatan makan.

Minat belajar makan bayi biasanya dimulai saat ia berusaha memegang makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Itulah momen atau kesempatan emas! Biarkan anak bereksplorasi dengan makanannya. Biarkan dia memegang dan meremas-remas bubur atau biskuitnya atau , apa pun yang ingin dilakukannya terhadap maka­nannya.

Menentukan apa yang mau dimakan menunjukkan keman­dirian anak. Namun peningkatan kemandirian anak  perlu disikapi dengan tepat dan bijak. Pemiki­ran ini baik terutama  bila dalam rangka pengembangan keman­dirian dan sikap asertif serta membangun rasa percaya diri anak.

Tapi hati-hati, orangtua juga bisa mengondisikan anak menjadi pemilih makanan (picky eater) bila setiap saat Orangtua menuruti keinginan anak makan makanan yang itu-itu saja.

Dalam menentukan sendiri makanannya, mungkin orang­tua tak selalu dapat meme­nuhinya, karena menu makan di rumah berbeda setiap hari. Tak apa, anak juga harus tahu variasi makanan dan orang­tua ingin balita makan dengan tepat.  Orangtua harus pintar menyiasati sambil terus me­ngem­bangkan kemandirian anak dalam memilih maka­nannya.

Siapkan beberapa maka­nan yang bisa anak pilih. Misalnya mi goreng yang dilengkapi sayur dan protein,  beberapa lauk lain dan olahan sayur lain. Saat anak memilih mi goreng, Orangtua sudah memberikan kelengkapan gizi karena terdiri dari kar­bo­hidrat, lemak, serat dari sayur dan protein dari telur atau bakso ikan. (h/dla)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: