| Warga Siberut Siapkan Diri |
|
|
|
| Selasa, 29 May 2012 01:37 |
|
ANCAMAN GEMPA DAN TSUNAMI PADANG, HALUAN — Warga Muaro Siberut, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang telah mengetahui edaran gubernur Sumbar ikut mempersiapkan diri dari ancaman gempa dan tsunami. Bahkan sebagian mereka telah mempersiapkan berbagai keperluan vital, seperti stok makanan dan pakaian, yang telah ditempatkan di atas perbukitan. Ini dilakukan, agar mereka tidak kelaparan saat mengevakuasi diri dari ancaman gempa dan tsunami.Namun saat ini, beberapa titik di perbukitan Siberut sangat jauh dari sumber air bersih, maupun air minum. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu kesehatan penduduk saat evakuasi, dan diharapkan bisa diatasi secepatnya oleh pemerintah dan pihak terkait lainnya. “Antara satu titik dengan titik pemukiman warga lainnya di perbukitan Siberut sangatlah jauh. Percuma saja warga menyediakan stok makanan yang banyak, jika stok air minum itu sendiri sangat langka. Ini perlu jadi perhatian serius oleh pemerintah,” ujar Adi Hamdani, Ketua Yayasan Penanggulangan Bencana Ready Mentawai yang bermukim di Muaro Siberut, ketika dihubungi Haluan, Senin (28/5). Tak hanya stok air yang langka, tapi warga Muaro Siberut juga membutuhkan penerangan. Saat ini, kondisi pemukiman dan pusat evakuasi di kawasan perbukitan sangat gelap gulita pada malam hari dan rentan terjadinya pencurian. Kondisi gelap gulita itu terjadi mulai dari kaki perbukitan, jalur evakuasi hingga puncak perbukitan. “Tak adanya penerangan, dikhawatirkan bisa menghambat proses evakuasi warga jika terjadi gempa berpotensi tsunami pada malam hari. Apalagi Siberut merupakan pusat lokasi megathrust yang berkemungkinan tsunaminya akan tiba dalam waktu yang cepat,” ujar Adi. Terkait rumor banyaknya warga Siberut yang telah melakukan pengungsian, menurut Adi, informasi tersebut sangatlah keliru. Ia mengakui memang banyak warga yang ke puncak perbukitan tiap harinya, namun bukan untuk mengungsi. “Tak adanya penerangan membuat pencurian sering terjadi. Oleh karena itu, setiap harinya warga silih berganti pergi ke perbukitan untuk mengecek dan menjaga perlengkapan dan stok makanan mereka agar tidak hilang,” jelas Adi. Adi menceritakan, pascagempa dan tsunami Aceh tahun 2004 lalu, warga Siberut banyak mendirikan rumah pemukiman dan pondok-pondok sebagai tempat evakuasi di kawasan perbukitan, dengan ketinggian 15 meter ke atas. Di rumah dan pondok itulah warga menempatkan stok makanan mereka. Pembangunan tempat evakuasi di perbukitan itu dibangun oleh swadaya masyarakat setempat. Namun saat ini warga banyak bingung dengan sederetan gempa yang terjadi, karena masyarakat setempat belum bisa membedakan gempa berpotensi dan tidak berpotensi tsunami. Jika ada gempa keras, dipastikan sebagian besar warga Siberut menuju ke lokasi perbukitan. Namun disaat merasakan gempa kecil dan sedang, warga sering bingung memutuskan untuk evakuasi atau tetap bertahan. Secara topografi, wilayah Siberut dipenuhi oleh sederetan perbukitan dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 15 meter hingga puluhan meter. Dalam kondisi normal, warga yang bermukim di tepi pantai hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk tiba di perbukitan yang berketinggian 15 meter.Untuk jalur evakuasi, sekitar 75 persen jalur evakuasi dari beton telah dibangun, walau hanya selebar dua meter. (h/wan) Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI

