Jumat, 31 Oktober 2014
Membangun Optimisme PDF Cetak Surel
Rabu, 30 May 2012 03:58

IAIN IB MENJADI UIN IB

Wacana tentang perubahan STAIN dan IAIN menjadi UIN sebenarnmya sudah lama muncul, yakni  secara serius dimulai pada tahun 1999. STAIN Malang mengajukan usul perubahan status kelem­bagaan menjadi bentuk uni­versitas sejak tahun tersebut,  dan berhasil diperoleh SK Presiden tentang perubahan itu pada tahun 2004 bersa­maan dengan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dua tahun kemudian setelah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002. Perubahan men­jadi UIN   oleh  tiga PTAIN tersebut, selang  bebe­rapa tahun  kemudian disusul oleh IAIN yang lain, yaitu IAIN  Riau menjadi UIN Syarif Qasim Riau, IAIN Bandung menjadi UIN Sunan Gunung Jati Bandung dan IAIN Maka­ssar  menjadi UIN Alaudiin Makassar. Kini di antara 53 PTAIN di seluruh Indonesia,  enam di antaranya telah beru­bah bentuk menjadi universitas.  

Oleh karena itu, jika IAIN Walisongo Sema­rang dan mungkin IAIN atau STAIN lainnya, termasuk IAIN Imam Bonjol Padang berkehendak pula  mengubah lembaganya menjadi bentuk universitas, telah tersedia pengalaman yang cukup. Kira­nya penga­laman itu menjadi bahan berharga, baik untuk menyu­sun konsep, strategi,  atau implementasi  selanjutnya.

Langkah Strategi Perubahan IAIN Menjadi UIN

Berbicara tentang  urgensi perubahan, oleh karena me­nyangkut hal yang bersifat rasional obyektif atau bersifat  filosofis  dari perubahan itu sendiri, maka kliranya tidak banyak berbeda antara STAIN/IAIN  satu dengan STAIN/IAIN  lainnya. Sedangkan yang ber­kaitan dengan  strategi dan apalagi implikasi, sekalalipun di antara masing-masing  perguruan tinggi memiliki kesamaan, maka masih ter­dapat perbedaan, oleh karena kondisi dan sutuasi yang ber­beda. Sebagai misalan : mem­persiapkan dan memproses Perubahan STAIN Menjadi UIN  Sejak awal menerima amanah untuk  mempin STAIN Malang mulai pada awal tahun 1998, Prof Imam Sup­rayogo sudah berpikir untuk melakukan perubahan dari STAIN Malang menjadi UIN Malang. Segera  setelah  beliau dilantik, Kemudian beliau  membentuk tim untuk menyu­sun Rencana Strategis Pengem­bangtan STAIN Malang 10 tahun ke depan. Dalam naskah rencana strategis pengem­bangan itu, telah ditargetkan, bahwa  perubahan kelemba­gaan itu terjadi  pada sekitar tahun 2004. Ternyata persis pada pertengahan tahun itu, berhasil keluar Surat Kepu­tusan Presiden nomor 50 Tahun 2004 tentang peru­bahanh STAIN Malang men­jadi UIN Malang.

Pada saat itu  telah disa­dari  bahwa perubahan kelem­bagaan tidak akan mungkin selesai diproses dalam waktu singkat. STAIN Malang men­tar­getkan,  bahwa  proses  perubahan itu akan  memer­lukan  waktu selama enam tahun, dan ternyata benar, pada pertengahan tahun 2004, rencana tersebut  menjadi kenyataan. Selama itu, selain  berusaha keras melengkapi berbagai persyaratan yang diperlukan, juga melakukan  konsolidasi internal  maupun  eksternalnya. Rasanya  tugas  itu  amat berat, oleh karena STAIN Malang tidak seba­gaimana IAIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta, yang sama-sama mengusulkan perubahan status kelembagaan menjadi UIN, keduanya sudah menyan­dang nama besar dan  keper­ca­yaan  yang sedemikian tinggi.

Hal itu sangat berbeda dengan  STAIN Malang  yang ketika itu baru saja berubah statusnya dari fakultas ca­bang IAIN Sunan Ampel Surabaya menjadi STAIN Malang  se­hingga  keberadaannya belum dikenal oleh  banyak orang. Oleh karenanya, proses  peru­bahan kelembagaan itu bukan  pekerjaan gampang. Sebab ditengah usaha melakukan perubahan itu selalu diliputi  oleh suasana pro dan kotra antara mereka yang me­nyetujui perubahan dan yang menolak dengan argumenta­sinya masing-masing. Mereka yang menyetujui memandang bahwa perubahan itu adalah merupakan keniscayaan ma­na­kala PTAIN ingin me­nampakkan ajaran Islam yang diklaim sebagai bersifat uni­versal. Selama itu, PTAIN dengan  fakultas-fakultasnya, yaitu  Ushuluddin,  dakwah,  tarbiyah,  syari’ah dan  adab, dipandang sebagai institusi  yang  melakukan kajian dan menghasilkan tenaga-tenaga yang hanya relevan dengan pembinaan dan pengembangan keagamaan dalam pengertian terbatas. PTAIN dengan  be­be­rapa bidang studinya itu,  menjadikan  para alumninya   hanya dianggap mampu mem­berikan sumbangan yang   terbatas pada upaya me­ma­jukan bangsa.

Tantangan Alih Status IAIN Menjadi UIN

Lulusan PTAIN pada um­um­nya hanya  menjadi guru agama, pegawai kementerian agama, dan instansi  lain yang terbatas.  Baru  kemudian se­te­lah ada perubahan, — pasca reformasi,  yaitu  sete­lah  adanya keterbukaan iklim politik, berhasil  membuka peluang bagi luilusan PTAIN  memasuki posisi penting dalam partai politik dan bahkan duduk sebagai anggota parlemen.  Sedangkan mereka yang kurang menyetujui peru­bahan, mereka khawatir tugas-tugas tafaqquh fidien semakin langka. Selain itu, dengan perubahan IAIN men­jadi UIN dikhawatirkan prog­ram studi yang telah lama dibina dan  dikembangkan menjadi sepi peminat.

Padahal kehadiran PTAIN pada awalnya adalah untuk melahirkan alumni yang memiliki keahlian dan kope­ntensi ilmu keagamaan. Maka dikhawatirkan  di masa depan, lembaga yang akan melahirkan ulama,  setelah  IAIN  berubah menjadi UIN tidak aka nada lagi. Kekha­watiran  lainnya akan mela­hirkan lulusan yang serba setengah-setengah, yaitu penguasaan agama tidak matang,  sedangkan ilmu umumnya  juga kurang meya­kinkan.   Kesulitan  lain yang dihadapi adalah terkait de­ngan birokrasi di berbagai kekementerian. Perubahan dari IAIN menjadi UIN harus melalui  rekomendasi atau persetujuan beberapa kemen­terian, yaitu disamping kemen­terian agama juga kemen­terian pendidikan nasional, Menpan, Sekretari Negara, dan  baru akhirnya  diter­bitkan Surat   Keputusan Presiden. Mendapatkan reko­mendasi dari satu kemen­terian  ke kementerian beri­kutnya, menurut pengalaman  ternyata  tidak mudah,  dan memerlukan  waktu  yang cukup lama. Itulah  maka perlunya kesungguhan, keu­letan dan kesabaran.

Seterusnya pada kasus STAIN Malang yang beralih status menjadi UIN Malang dijumpai bahwa, alasan Filo­sofis Perubahan Menjadi UIN segera setelah mengalami perubahan dari Fakultas Tarbiyah cabang  IAIN Sunan Ampel menjadi STAIN Ma­lang, maka di kalangan dosen  tumbuh kegelisahan  terhadap lingkup kajian Islam. Sebagai sekolah tinggi, STAIN Malang hanya memiliki dua jurusan, yaitu jurusan tarbiyah dan syariah. Dalam berbagai diskusi yang dilaksanakan pada waktu itu muncul kesa­daran bahwa ajaran Islam sebenarnya bersifat universal. Namun universalitas itu tidak terasakan tatkala PTAIN hanya berbentuk sekolah tinggi. Dengan bentuk  sekolah tinggi, maka terasakan benar bahwa wadah atau institusi  tersebut  tidak akan men­cukupi untuk mengembangkan ajaran Islam yang bersifat universal. Jika masih tetap dipertahankan, maka Islam hanya akan dipahami dari perspektif yang terbatas, yaitu hanya menyangkut aspek-aspek  yang bersifat ritual. Islam sebagai ajaran yang bersifat universial mestinya memiliki  wilayah kajian  yang luas, menyangkut per­soalan ilmu pengetahuan, kehidupan pribadi dan sosial, keadilan, dan kerja pro­fes­sional sebagai tuntutan zaman modern,  dan juga tidak me­ninggalkan kegiatan ritual untuk membangun kehidupan spiritual yang kokoh. Selain itu, muncul kesadaran bahwa sejarah Islam tatkala meraih puncak kejayaannya  adalah ketika  tidak memilah-milah antara ilmu umum dan ilmu modern. Ilmu dipandang seba­gai satu kesatuan. Dalam melakukan kajian, maka mestinya selalu menjadikan al Qurán  dan hadits nabi yang merupakan ayat-ayat qawliyah dan hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis yang  merupakan  ayat-ayat kawniyah sebagai sumber ilmu pengetahuan. Selanjut­­nya,  bangunan keilmuan yang kajiannya selalu mendasarkan pada kedua sumber ilmu tersebut,  maka dipandang sebagai ilmu pengetahuan Islam yang lebih  sempurna.  Berangkat dari sejarah pula, ditemukan bahwa kehadiran perguruan tinggi Islam di Indonesia pada awalnya ada­lah untuk melahirkan ulama’ yang intelek dan intelek yang ulama. Jargon  ini diter­jemahkan  bahwa PTAIN hendaknya melahirkan se­orang yang ahli di bidang agama (Islam) sekaligus ilmu-ilmu modern. Ahli di bidang sains sekaligus  mampu me­ma­hami al Qurán dan hadits nabi serta pemikiran Islam yang selama ini berkembang, —fiqh, tauhid, akhlak, ta­sawwuf, tafsir dan lain-lain. Sementara  orang  memang  pesimis terhadap pikiran  besar itu bisa diwujudkan

Modal Dasar Perubahan Kelembagaan IAIN Menjadi UIN

Melalui diskusi panjang  maka  lahir  tekat dan sema­ngat  bersama untuk mewu­judkannya (baca: alih status IAIN menjadi UIN).  Melalui diskusi panjang pula, akhirnya ditemukan metafora berupa sebatang pohon untuk meng­gambarkan keterkaitan antara  ilmu yang  diposisikan  seba­gai alat seperti bahasa asing, —Arab dan Inggris, filsafat, dasar-dasar ilmu sosial dan ilmu alam. Selanjutnya, sete­lah ilmu alat dikembangkan maka  disusul kajian-kajian ilmu yang selama ini masuk rumpun kajian Islam, yaitu  al Qurán dan hadits nabi, pemikiran Islam, dan sirah nabawiyah. Semua maha­siswa, apapun jurusannya, wajib mengikuti program kajian tersebut. Mengikuti pandangan al Ghazali, maka  mengkaji rumpun ilmu  terse­but,  sebagai fardhu kifayah. Selanjutnya,  semua maha­siswa sebagaimana fakultas atau jurusan yang dipilih,  mengkaji ilmu yang selama ini disebut sebagai ilmu um­um atau ilmu modern, seperti ilmu psikologi, ekonomi, hu­manbiora dan budaya, tar­biyah, syariah dan sains dan teknologi. Kajian al Qurán, hadits dan pemikiran Islam mengantarkan mahasiswa meraih predikat sebagai calon ulama’ sedangkan  mengkaji ilmu modern untuk menda­patkan identitas sebagai calon seorang intelek. Itulah maka diharapkan,  lulusan UIN menjadi seorang  calon ulama dan sekaligus calon intelek.

Untuk melahirkan  sosok ulama dan sekaligus intelek, selama itu yang menjadi  batu sandungan, sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Prof. Mukti Ali (alm) sewaktu menjabat sebagai Menteri Agama adalah  berupa le­mahnya penguasaan maha­siswa terhadap dua bahasa asing —Arab dan Inggris. Selain itu, Mantan  Menteri Agama di awal Orde Baru tersebut juga pernah melon­tarkan stateman bahwa: “tidak pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren”.   Atas dasar statemen tersebut dan seka­ligus sebagai bagian dari upaya  mengembankan ke­mam­puan bahasa Arab dan Bahasa Inggris, maka lembaga PTAIN perlu melengkapi kelembagaannya (IAIN/STA­IN) dengan Ma’had al Aly.

Akhir sekali yang ingin digarisbawahi dalam tulisan ini adalah bahwa, alih status IAIN Imam Bonjol menjadi UIN Imam Bonjol merupakan refleksi sikap optimisme tentang perubahan. Di mana filosofi yang digunakan adalah “Think Big, Start Small, Do Now” (berfikir tentang hal yang besar, mulai dari hal-hal yang kecil dan lakukan mulai dari sekarang). Kemu­dian proposal alih status IAIN-IB menjadi UIN-IB telah dipersiapakan dan sampai di Jakarta untuk dibahas oleh tim peninjau maka, tinggal berjuang meyakinkan penentu kebijakan (Kementerian Aga­ma dan Kementerian Pendi­dikan Kebudayaan) untuk mempertimbangkan dan melo­loskan usulan tersebut.

Pada masa yang sama do’a semua pihak yang berke­pen­tingan (seluruh civitas aka­demika IAIN Imam Bonjol Padang, pemerintah daerah baik kota maupun propinsi Sumatera Barat, seluruh komponen ma­syarakat dan tokoh adat ; ninik mamak, cadiak pandai serta perantau) terhadap alih status IAIN Imam Bonjol Padang menjadi UIN Imam Bonjol Padang sangatlah diharapkan. Mengi­ngat perjua­ngan perlu diba­rengi do’a. Selanjutnya, kalau­pun IAIN Imam Bonjol Padang akan mengalami alih status menjadi Uin Imam Bonjol Padang maka, ianya akan mengakar pada ABS-SBK. Hal ini sesuai dengan semangat perubahan yang dilakukan, di mana ikon bu­da­ya (ABS-SBK) yang akan men­jadi karakter Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang ke depan. Insya Allah. Amin.

 

REZA FAHMI
(Dosen Psikologi Umum IAIN Imem Bonjol Padang dan
Direktur Dafa Research Institute)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy