| Mawi, Generasi Akhir Peniup Sarunai |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Kamis, 31 May 2012 03:05 |
|
Laki laki peniup serunai itu adalah Mawi (60), warga Kampung Talang TS Kenagarian, Kambang, Kecamatan Lengayang. Rombongan marapulai itu terus dibuntutinya. Tiupan serunai itu tidak terputus, seolah nafasnya begitu panjang. Berjalan sekitar 100 meter, tidak membuat suara serunai jadi sumbang. Mawi adalah salah satu pewaris pusaka lama kesenian Minangkabau dari beberapa orang saja pelestari yang ada di Lengayang. Tidaklah banyak orang yang tertarik mewarisinya. Dan tidak pula setiap orang berbakat untuk meniup alat musik yang tergolong tua di Minangkabau itu. Ia mewarisi keterampilan memainkan serunai dari orangtua laki-lakinya. Di keluarganya, hanya dia pulalah yang berbakat untuk menyelamatkan kesenian itu. Ketika berbincang-bincang dengan Haluan di Lakuak, Mawi menyebutkan, ia sendiri kesulitan untuk mencari generasi pelanjut kesenian serunai tersebut. “Untuk memainkan ini memang butuh bakat dan kemauan. Zaman sekarang, anak-anak muda lebih senang memainkan gitar, piano atau alat musik impor lainnya,” kata Mawi. Meski demikian ia tetap berusaha mempertahankan serunai. Ia mengaku tidak menjadwalkan latihan secara rutin. Namun akibat banyaknya panggilan atau tawaran untuk mengisi perhelatan, teknik bermain dengan sendirinya tetap terjaga. “Yang terpenting menjaga kesehatan sebelum memainkan serunai. Terutama untuk mengiringi arak-arakan anak daro atau marapulai. Karena memakan waktu lama memainkannya. Misalnya saya minum air rebusan jahe,” katanya. Ia beberapakali kalangkabut karena tukang kendang tidak mau tampil. Untuk memenuhi permintaan perhelatan, ia harus mencari tukang kendang lainnya. Celakanya, tukang kendang pengganti adalah pemain baru yang tidak mengerti dengan ketukan kendang serunai. Butuh waktu dan ketabahan melatihnya. Terkait serunai ia menyebutkan, memang ada perlakuan khusus saat tidak dimainkan atau ketika memainkannya. “Ujung serunainya tidak bisa terlalu kering bila dimainkan. Maka saat jeda mengiringi rombongan, biasanya saya membasahinya dengan air. Dengan demikian suara yang dihasilkan tidak buruk kualitasnya,” kata Mawi. Masih terkait serunai, ia menjelaskan tidak semua daerah serunainya sama. Misalnya di Nagari Kambang, ujung tempat keluarnya suara sedikit agak lebar dibandingkan serunai Surantiah atau Balai Selasa. Perbedaan lainnya terletak pada jumlah lobang. Lobang serunai Nagari Kambang berjumlah tujuh. Sementara di Surantiah atau Balai Selasa, lobang serunainya hanya empat. Perbedaan jumlah lobang ini juga memiliki makna tersendiri. Khusus untuk Nagari Kambang, jenis lagu yang dimainkan tidak boleh diubah-ubah. Berdasarkan penuturan orang tuanya, untuk mengiringi rombongan baralek hanya diperbolehkan memankan irama bararak. Tujuannya supaya jenis irama itu tidak punah dan menjadi ciri khas serunai pengiring Nagari Kambang. Mawi mengakui, sudah 30 tahun lebih kebutuhan keluarganya lebih banyak digantungkan kepada hasil dari meniup serunai. Penghasilan yang bisa diperoleh dari meniup serunai pengiring anak daro biasanya sekitar Rp200 ribu sekali main. Namun ada kalanya lebih. Ada kalanya panggilan atau order sepi. Adapula yang justru padat. Akibat banyak yang menggelar pesta pernikahan, tidak jarang pula ia terpaksa harus menolak tawaran untuk main. Selain untuk mengiringi arak-arakan, Mawi juga sering diundang untuk mengiringi permainan randai. Alat musik ‘klasik’ Ranahminang ini kini tidak memiliki pewaris secara alami. Keberadaannya di kampong-kampung, di nagari-nagari terancam punah. Anak-anak muda kita merasa malu bila memainkan alat musik yang satu ini. Anak muda kita takut disebut kuno dan ketinggalan zaman. (Laporan : Haridman Kambang)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 298 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


Di Lakuak Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Senin (28/5) tampak arak-arakan ibu-ibu berbaris menjujung jamba. Di depannya marapulai berjalan teratur dengan perlahan. Lantas di barisan paling belakang seseorang sedang meniup serunai (alat musik tiup tradisional-red). Lagu yang dimainkannya ditingkah suara kendang.
