Kamis, 20 Juni 2013
Mawi, Generasi Akhir Peniup Sarunai PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Kamis, 31 May 2012 03:05

Di Lakuak Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Senin (28/5) tampak arak-arakan ibu-ibu berbaris menjujung jamba. Di depannya marapulai berjalan teratur dengan perlahan. Lantas di barisan paling belakang seseorang sedang meniup serunai (alat musik tiup tradisional-red). Lagu yang dimainkannya ditingkah suara kendang.

Serasi, apik dan membuat suasana meriah. Langkah gontai marapulai seakan seirama dengan tiupan dan pukulan kendang.

Laki laki peniup serunai itu adalah Mawi (60), warga Kampung Talang TS Kenagarian, Kambang, Kecamatan Lengayang. Rombongan marapulai itu terus dibuntutinya. Tiupan serunai itu tidak terputus, seolah nafasnya begitu panjang. Berjalan sekitar 100 meter, tidak membuat suara serunai jadi sumbang.

Mawi adalah salah satu pewa­ris pusaka lama kesenian Minang­kabau dari beberapa orang saja pelestari yang ada di Lengayang. Tidaklah banyak orang yang tertarik me­warisinya. Dan tidak pula setiap orang berbakat untuk meniup alat musik yang tergolong tua di Mi­nang­kabau itu. Ia mewarisi ke­teram­pilan memain­kan serunai dari orangtua laki-lakinya. Di kel­uar­ganya, hanya dia pulalah yang berbakat untuk menyelamatkan kesenian itu.

Ketika berbincang-bincang dengan Haluan di Lakuak, Mawi menyebutkan, ia sendiri kesulitan untuk mencari generasi pelanjut kesenian serunai tersebut. “Untuk memainkan ini memang butuh bakat dan kemauan. Zaman seka­rang, anak-anak muda lebih senang memainkan gitar, piano atau alat musik impor lainnya,” kata Mawi.

Meski demikian ia tetap beru­saha mempertahankan serunai. Ia mengaku tidak menjadwalkan latihan secara rutin. Namun akibat banyaknya panggilan atau tawaran untuk mengisi perhelatan, teknik bermain dengan sendirinya tetap terjaga. “Yang terpenting menjaga kesehatan sebelum memainkan serunai. Terutama untuk mengiringi arak-arakan anak daro atau mara­pulai. Karena memakan waktu lama memainkannya. Misalnya saya minum air rebusan jahe,” katanya.

Ia beberapakali kalangkabut karena tukang kendang tidak mau tampil. Untuk memenuhi permin­taan perhelatan, ia harus mencari tukang kendang lainnya. Celakanya, tukang kendang pengganti adalah pemain baru yang tidak mengerti dengan ketukan kendang serunai. Butuh waktu dan ketabahan melatihnya.

Terkait serunai ia menyebutkan, memang ada perlakuan khusus saat tidak dimainkan atau ketika me­main­kannya. “Ujung serunainya tidak bisa terlalu kering bila dimainkan. Maka saat jeda me­ngiringi rombongan, biasanya saya membasahinya dengan air. Dengan demikian suara yang dihasilkan tidak buruk kualitasnya,” kata Mawi.

Masih terkait serunai, ia men­jelaskan tidak semua daerah serunainya sama. Misalnya di Nagari Kambang, ujung tempat keluarnya suara sedikit agak lebar dibandingkan serunai Surantiah atau Balai Selasa. Perbedaan lainnya terletak pada jumlah lobang. Lobang serunai Nagari Kambang berjumlah tujuh. Sementara di Surantiah atau Balai Selasa, lobang serunainya hanya empat. Perbedaan jumlah lobang ini juga memiliki makna tersendiri.

Khusus untuk Nagari Kambang, jenis lagu yang dimainkan tidak boleh diubah-ubah. Berdasarkan penuturan orang tuanya, untuk mengiringi rombongan baralek hanya diperbolehkan memankan irama bararak. Tujuannya supaya jenis irama itu tidak punah dan menjadi ciri khas serunai pengiring Nagari Kambang.

Mawi mengakui, sudah 30 tahun lebih kebutuhan keluarganya lebih banyak digantungkan kepada hasil dari meniup serunai. Peng­hasilan yang bisa diperoleh dari meniup serunai pengiring anak daro biasanya sekitar Rp200 ribu sekali main. Namun ada kalanya lebih.

Ada kalanya panggilan atau order sepi. Adapula yang justru padat. Akibat banyak yang meng­gelar pesta pernikahan, tidak jarang pula ia terpaksa harus menolak tawaran untuk main.

Selain untuk mengiringi arak-arakan, Mawi juga sering diundang untuk mengiringi permainan randai.

Alat musik ‘klasik’ Ranah­minang ini kini tidak memiliki pewaris secara alami. Kebe­radaan­nya di kampong-kampung, di nagari-nagari terancam punah. Anak-anak muda kita merasa malu bila memainkan alat musik yang satu ini. Anak muda kita takut disebut kuno dan ketinggalan zaman. (Laporan : Haridman Kambang)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy