Minggu, 26 May 2013
Mengintegrasikan Minangkabau di Perantauan PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 03 Juni 2012 01:25

Karatau madang dahulu, babungo babuah balun, ma­rantau bujang da­hulu, di kam­puang baguno balun.

Itulah ungkapan orang Minangkabau yang turut men­dorong mereka pergi merantau. Karena mereka belum bisa memberikan sesuatu untuk kampung halaman secara mendalam, maka mereka pergilah merantau. Alasan dan tujuan mereka pergi merantau memang bermacam-macam. Ada yang bertujuan memenuhi keperluan ekonomi dan ada juga yang bermaksud me­nambah ilmu pengetahuan. Namun setiap perantau Mi­nangkabau pastilah ber­hu­bungan juga kampung ha­lamannya pada suatu masa. Walaupun mereka sudah tua dan beranak cucu, dan sudah berjaya di rantau mereka tetap ingin mengabdikan diri mereka untuk kampung ha­laman, baik secara moril maupun secara materil.

Begitu pula kesan men­dalam yang kami jumpai ketika bertemu dengan se­orang tokoh Minang­kabau, Dato Haji Kaharudin bin Momin generasi kedua  di Gom­bak, Selangor Malaysia. Beliau sebelumnya pernah menjawat Wakil Menteri Besar Negeri Selangor. Beliau ini sedang merancang sebuah Rumah Adat Minangkabau di kawasan Gom­bak, yang akan ditegakkan pada tanah seluas dua hektare.

Menurut informasi  yang kami (Ikatan Keluarga Mi­nangkabau Malaysia/IKMM)  terima dari  beliau bahawa rumah adat Minangkabau itu dirancang  dengan sistem terintegrasi antara kawasan bisnis, sosial dan budaya. Alasan beliau bersama peran­tau Minangkabau lain untuk membangun rumah adat itu ialah untuk menunjukkan kecintaan, wadah  untuk membantu seluruh warga Minangkabau baik yang di kampung halaman maupun yang ada di Malaysia.

Pengakuan Dato Kaha­rudin, pembangunan ini ada­lah untuk meninggikan marwah masyarakat Minangkabau  secara keseluruhan, yang dalam sejarahnya pernah jaya. Beliau menyebut beberapa nama seperti  Hatta, Syahrir, dan Natsir sebagai tokoh Minangkabau yang hebat.  Beliau mengaku sangat sedih sekali ketika rumah adat Pagaruyung terbakar, kon­disinya yang sangat mem­prihatinkan. “Sebagai orang Minangkabau saya sangat sedih”, kata beliau.

Beliau menginginkan agar kita membuat “satu Mi­nang­kabau” untuk mebangun negeri dan seluruh Mi­nang­kabau. Semestinya orang Minangkabau satu, baik yang dirantau mau­pun yang di­kampung halaman.  Untuk mendorong kesatuan itu be­liau sendiri sudah menye­diakan rumah beliau  di ka­wasan Gombak untuk di­tempati oleh para mahasiswa Minangkabau yang belajar di Malaysia.

Beliau bersedia menam­pung mereka yang belajar di Malay­sia, dengan syarat mesti salat berjemaah di sana.  Selain itu beliau juga meran­cangkan beasiswa untuk para mahasis­wa Minangkabau yang datang dari Sumatra Barat. Untuk di kampung halaman beliau bersa­ma keturunan Minangkabau di Malaysia juga ikut membantu salah satu pesantren di Padang Panjang, yang saat ini sedang berkembang.

Kecintaan Dato Haji Ka­ha­rudin Momin, tentu bukan satu-satunya, sebagaimana kebiasaan perantau Minang­kabau pun begitu: “Setinggi-tinggi terbang bangau pu­langnya ke kubangan juga”. Walaupun para perantau meghabiskan masanya di rantau, dan beranak pinak di rantau orang, tetapi ke­cin­taannya, hatinya, tetap ter­tambat di kampung halaman. Sebab asal usul tidak akan bisa dialihkan walaupun masa terus berubah dengan cepat.  Mungkin itu juga yang dirasakan oleh Rais Yatim  dan beberapa tokoh Minang­kabau lainnya di  Malaysia.

Ketika Ikatan Keluarga Mahasiswa Minangkabau (IKMM) ini menghelat Se­minar Hamka di Malaysia maka tokoh-tokoh perantau ini dengan mudahnya me­ngucurkan bantuan ribuan ringgit. Manakala bantuan Pemerintah Daerah dan tokoh Minangkabau tidak sebanding dengan semangat yang di­lancarkan oleh anak-anak muda yang terlibat dalam acara itu. Bahkan Panitia acara ketika dilancarakan Seminar Hamka tahun per­tama  tahun 2009, mereka justru pening memikirkan akomodasi untuk pejabat kita yang datang ke Malaysia.

Apa yang kita lihat di Malaysia juga dilakukan oleh para perantau di tempat-tempat lain di Indoensia seperti Sulit Air Sepakat di Jakarta, komunitas pariwisata di Jakarta, dan berbagai ikatan keluarga Minangkaau di kota-kota lain. Semangat semacam itu bisa diikuti setiap hari melalui jejaring sosial, seperti di rantau.net. Mereka selalu prihatin ter­hadap masa depan Mi­nang­kabau, dan tidak bosan-bosannya  memberikan ma­sukan demi keelokan Minang­kabau. Tetapi kadang-kadang mereka juga sangat kecewa dengan  sikap dingin, sekedar formalitas dari para elit  Minangkabau, terutama para pejabat-pejabat daerah yang tidak begitu peduli dan tidak mem­perhatikan betul siner­gisitas dari para perantau yang bersemangat itu.

Perlu kita merenungkan kenapa tokoh-tokoh perantau kita begitu gelisah melihat kampung halaman mereka, pada hal mereka sudah senang di rantau. Sebahagian mereka juga sudah pesniun, sudah sukses secara ekonomi dan sebenarnya hidup lebih tenang. Tetapi kenapa mereka mau mencurahkan pikiran, hati, dan harta mereka untuk Minang­kabau? Jawaban itu mesti kita periksa dalam adagium dan ungkapan-ungkapan yang ada dalam budaya itu sendiri. Paling tidak seperti yang dikemukakan di atas: hati mereka sudah tertambat di Minangkabau.

Selain itu mereka ingin mewariskan identiti mereka yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Identiti adalah suatu bahagian penting dalam hidup manusia. Sebab dalam adat Minangkabau identiti menjadi sangat pentin untuk menapaki masa depan.

Harapan, semangat yang tabasuik dan bergelora di rantau hendaknya juga ada di kalangan elit Mi­nang­kabau di kampung. Jangan hanya perantau yang peduli dengan budaya, dengan ke­baikan kampung halaman sementara para elit di kam­pung ber­tenang-tenang saja, dan tidak mau kerja keras. Para elite jangan hanya disibukkan dengan urusan politik semata, sementara rayat selalu me­nunggu.  Para elit mesti sadar dengan ke­tingalan-ketinggalan dan ma­sa depan negeri me­reka.  Pa­ra elit jangan terlalu si­buk berpidato kian kemari se­mentara hasilnya terlalu se­dikit dinikmati rakyatnya.

 

WANNOFRI  SAMRY

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: