| Romantisme-Heroik yang Estetik |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 03 Juni 2012 01:30 |
|
Tiga tiang utama yang menjadi satu aspek yang sangat penting dalam persiapan seorang aktor yakni: pikiran, kehendak, perasaan. Sutradara mesti teliti dalam memperhatikan etika dan estetika aktor terutama hal-hal yang berkaitan dengan pemeranan di atas panggung—apalagi pemahaman yang berkaitan dengan pendekatan kultural. Pemahaman masing-masing penonton dalam menangkap maksud sebuah pertunjukan berbeda-beda. Isu-isu kemanusiaan dan romantisme-heroik sering muncul pada banyak pertunjukan drama Jepang seperti Rakugo, Takarazuka, Kabuki, Bunraku, Noh, Kyougen dan Butoh. Apalagi jenis-jenis drama tersebut disampaikan dengan cara dan media (alat) yang berbeda-beda.Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang menampilkan drama Jepang di ruang publik dalam rangka penilaian terhadap mata kuliah ‘kajian drama Jepang’, di Ruang Studio Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Andalas, Padang, Kamis (31/5) lalu—yang pertama kali diwujudkan dalam bentuk pentas drama sejak tahun 2009. Pada permulaan, ditampilkan tiga pertunjukan Rakugo yang terkenal sejak zaman Edo, yang masing-masingnya ditampilkan oleh tiga Rakugoka dengan judul tiap pentasnya yakni “Hazukashi”, “Shirakawa Hime”, “Michichan No Inaka”. Dengan posisi duduk bersimpuh (seiza) dan berpakaian tradisional Jepang, Dewira Zulia mulai bercerita sebanyak empat kegiatan dalam judul pentasnya “Michichan No Inaka” yang di antaranya tentang piknik, gempa, dan sakit gigi, dari sudut penceritaan yang berbeda-beda antara ayah, ibu dan anak serta karakter pendukung seorang dokter. Dewira dibantu dengan alat berupa kipas lipat (sensu) dan saputangan (tenugui). Tanpa musik latar ia mampu membius penonton untuk ikut tertawa terpingkal-pingkal. Rakugo merupakan seni bercerita tradisional Jepang yang dilakukan sendirian (monolog), berisi cerita humor yang dibangun dari dialog dengan klimaks cerita yang tidak terduga. Cerita dapat dikisahkan dengan sedemikian rupa sehingga di akhir cerita ada klimaks yang membuat penonton tertawa (disebut Otoshibanashi). Berdasarkan daerah pementasannya, Rakugo terdiri dari dua versi, yakni Edo Rakugo (Rakugo versi Edo) dan Kamigata Rakugo (Rakugo versi Kyoto-Osaka) yang bisa langsung dikenali dari perbedaan tata cara dan perlengkapan panggung. Tak kalah menariknya juga ditampilkan pertunjukan Takarazuka berjudul “Mecca Kucca Kimochi”. Kisahnya bercerita tentang seorang pangeran dari zaman Meiji yang tiba-tiba menemukan pintu untuk masuk ke zaman modern. Di sana, ia dicela karena berpakaian aneh dan di sana juga ia jatuh cinta dengan seorang anak sekolah bernama Sizuka. Kaisar panik dan mengutus pengawalnya untuk mencari pangeran. Ternyata pintu tersebut dijaga oleh Kappa—makhluk air dalam mitologi Jepang yang biasanya digambarkan mirip manusia, tubuhnya sebesar setengah tubuh anak-anak, kulitnya bersisik dengan warna dominan hijau hingga kuning atau biru. Putri dan dua pengawal menemukan pintu tersebut dan ikut tersesat di zaman modern. Sementara itu, pangeran jatuh hati kepada Sizuka. Ia terjebak kisah cinta segitiga. Akhirnya pangeran memutuskan untuk pulang. Kappa yang mengetahui keputusan pangeran itu, diam-diam memberikan pintu tersebut. Akhirnya Sizuka memilih Junai sebagai pasangannya. Takarazuka merupakan pertunjukan teater musikal di Jepang yang secara keseluruhan dimainkan oleh aktris wanita yang belum menikah. Tetapi pertunjukan Takarazuka di sini dimainkan oleh mahasiswa dan dengan perpaduan musikal yang terbatas. Teater jenis ini mulai dipentaskan di Kota Takarazuka sejak tahun 1914. Pertunjukan Takarazuka merupakan perpaduan sandiwara dengan tari dan nyanyi. Cerita merupakan adaptasi novel, opera musikal, atau film dari Barat yang dipentaskan dengan kostum indah dan set panggung yang mewah. Selanjutnya ditampilkan pula pertunjukan Butoh berjudul “Kodomo No Sekai: Bunraku” yang bercerita tentang kondisi kekinian anak-anak yang tergerus oleh perkembangan zaman yang disutradarai oleh Benny Sumarna. Butoh adalah nama kolektif untuk berbagai macam kegiatan, teknik dan motivasi untuk tari, dan kinerja gerakan. Gerakan ini biasanya melibatkan citra lucu dan aneh, topik tabu, lingkungan yang ekstrim atau tidak masuk akal, dan secara tradisional dengan tata riasan tubuh berwarna putih dengan gerak lambat yang terkontrol. Asal-usul Butoh telah dikaitkan dengan legenda tarian Jepang: Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno. Terakhir ditampilkan pentas Kabuki berjudul “Kaguya Hime” yang mengisahkan tentang Putri Kaguya yang lahir dari dalam ruas pohon bambu. Karakter dimainkan secara terbalik dan dengan tata rias mencolok dan kostum yang mewah. Tokoh laki-laki dimainkan oleh perempuan, begitu juga sebaliknya. Putri Kaguya menjadi sorotan oleh pelbagai kalangan termasuk para samurai. Intrik dan cara kotor pun dilakukan untuk meraih hati Putri Kaguya. Memang, motivasi awal teater adalah politik karena teater yang lari dari isu-isu politik akan menurun mutunya. Teater yang tidak melakukan pengolahan watak, apalagi yang memotret kekuasaan secara stereotip, akan terjerumus pada kekenesan dan sloganistis. Tetapi setidaknya, mahasiswa Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas telah berusaha memperkenalkan kultur Jepang melalui pentas drama yang menarik. Tabik!
DELVI YANDRA
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 327 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


CATATAN ATAS PENTAS DRAMA RAKUGO, TAKARAZUKA, BUTOH, DAN KABUKI
