Senin, 20 May 2013
Romantisme-Heroik yang Estetik PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 03 Juni 2012 01:30

CATATAN ATAS PENTAS DRAMA RAKUGO, TAKARAZUKA, BUTOH, DAN KABUKI

Tiga tiang utama yang menjadi satu aspek yang sangat penting dalam per­siapan seorang aktor yakni: pikiran, kehendak, perasaan. Sutradara mesti teliti dalam memperhatikan etika dan estetika aktor terutama hal-hal yang berkaitan dengan pemeranan di atas pang­gung—apalagi pemahaman yang berkaitan dengan pen­dekatan kultural.

Pemahaman masing-ma­sing penonton dalam me­nangkap maksud sebuah pertunjukan berbeda-beda. Isu-isu kemanusiaan dan roman­tisme-heroik sering muncul pada banyak pertunjukan drama Jepang seperti Rakugo, Takarazuka, Kabuki, Bunraku, Noh, Kyougen dan Butoh. Apalagi jenis-jenis drama tersebut disampaikan dengan cara dan media (alat) yang berbeda-beda.

Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Sastra Je­pang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang menampilkan drama Jepang di ruang publik dalam rangka penilaian terhadap mata kuliah ‘kajian drama Jepang’, di Ruang Studio Pusat Ke­giatan Mahasiswa Universitas Andalas, Padang, Kamis (31/5) lalu—yang pertama kali diwujudkan dalam bentuk pentas drama sejak tahun 2009.

Pada permulaan, di­tam­pilkan tiga pertunjukan Rakugo yang terkenal sejak zaman Edo, yang masing-masingnya ditampilkan oleh tiga Ra­kugoka dengan judul tiap pentasnya yakni “Hazukashi”, “Shirakawa Hime”, “Mi­chi­chan No Inaka”. Dengan posisi duduk bersimpuh (seiza) dan berpakaian tradisional Je­pang, Dewira Zulia mulai bercerita sebanyak empat kegiatan dalam judul pen­tasnya “Michichan No Inaka” yang di antaranya tentang piknik, gempa, dan sakit gigi, dari sudut penceritaan yang berbeda-beda antara ayah, ibu dan anak serta karakter pendukung seorang dokter. Dewira dibantu dengan alat berupa kipas lipat (sensu) dan saputangan (tenugui). Tanpa musik latar ia mampu mem­bius penonton untuk ikut tertawa terpingkal-pingkal.

Rakugo merupakan seni bercerita tradisional Jepang yang dilakukan sendirian (monolog), berisi cerita humor yang dibangun dari dialog dengan klimaks cerita yang tidak terduga. Cerita dapat dikisahkan dengan sedemi­kian rupa sehingga di akhir cerita ada klimaks yang membuat penonton tertawa (disebut Otoshibanashi). Ber­dasarkan daerah pemen­ta­sannya, Rakugo terdiri dari dua versi, yakni Edo Rakugo (Rakugo versi Edo) dan Ka­migata Rakugo (Rakugo versi Kyoto-Osaka) yang bisa lang­sung dikenali dari perbedaan tata cara dan perlengkapan panggung.

Tak kalah menariknya juga ditampilkan pertunjukan Takarazuka berjudul “Mecca Kucca Kimochi”. Kisahnya bercerita tentang seorang pangeran dari zaman Meiji yang tiba-tiba menemukan pintu untuk masuk ke zaman modern. Di sana, ia dicela karena berpakaian aneh dan di sana juga ia jatuh cinta dengan seorang anak sekolah bernama Sizuka. Kaisar panik dan mengutus pengawalnya untuk mencari pangeran. Ternyata pintu tersebut dijaga oleh Kappa—makhluk air dalam mitologi Jepang yang biasanya digambarkan mirip manusia, tubuhnya sebesar setengah tubuh anak-anak, kulitnya bersisik dengan warna dominan hijau hingga kuning atau biru. Putri dan dua pengawal menemukan pintu tersebut dan ikut ter­sesat di zaman modern. Se­mentara itu, pangeran jatuh hati kepada Sizuka. Ia ter­jebak kisah cinta segitiga. Akhirnya pangeran memutus­kan untuk pulang. Kappa yang mengetahui keputusan pa­ngeran itu, diam-diam mem­berikan pintu tersebut. Ak­hirnya Sizuka memilih Junai sebagai pasangannya.

Takarazuka merupakan pertunjukan teater musikal di Jepang yang secara kese­luruhan dimainkan oleh ak­tris wanita yang belum me­nikah. Tetapi pertunjukan Takarazuka di sini dimainkan oleh mahasiswa dan dengan perpaduan musikal yang terbatas.

Teater jenis ini mulai dipentaskan di Kota Taka­razuka sejak tahun 1914. Pertunjukan Takarazuka me­rupakan perpaduan sandiwara dengan tari dan nyanyi. Cerita merupakan adaptasi novel, opera musikal, atau film dari Barat yang dipentaskan de­ngan kostum indah dan set panggung yang mewah.

Selanjutnya ditampilkan pula pertunjukan Butoh ber­judul “Kodomo No Sekai: Bunraku” yang bercerita ten­tang kondisi kekinian anak-anak yang tergerus oleh per­kembangan zaman yang di­sutradarai oleh Benny Su­marna. Butoh adalah nama kolektif untuk berbagai ma­cam kegiatan, teknik dan motivasi untuk tari, dan kinerja gerakan. Gerakan ini biasanya melibatkan citra lucu dan aneh, topik tabu, lingku­ngan yang ekstrim atau tidak masuk akal, dan secara tra­disional dengan tata riasan tu­buh berwarna putih dengan gerak lambat yang terkontrol. Asal-usul Butoh telah di­kaitkan dengan legenda ta­rian Jepang: Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno.

Terakhir ditampilkan pen­tas Kabuki berjudul “Kaguya Hime” yang me­ngisahkan tentang Putri Kaguya yang lahir dari dalam ruas pohon bambu. Karakter dimainkan secara terbalik dan dengan tata rias mencolok dan kos­tum yang mewah. Tokoh laki-laki dimainkan oleh perem­puan, begitu juga sebaliknya.

Putri Kaguya menjadi sorotan oleh pelbagai ka­langan termasuk para sa­murai. Intrik dan cara kotor pun dilakukan untuk meraih hati Putri Ka­guya. Memang, motivasi awal teater adalah politik karena teater yang lari dari isu-isu politik akan menurun mu­tunya. Teater yang tidak melakukan pengo­lahan watak, apalagi yang memotret ke­kuasaan secara stereotip, akan terjerumus pada kekenesan dan slo­ganistis.

Tetapi setidaknya, maha­siswa Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas telah berusaha mem­perkenalkan kultur Jepang melalui pentas drama yang menarik. Tabik!

 

DELVI YANDRA
(Penggiat di Teater Rumah Teduh dan Studio Merah)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy