Selasa, 21 Oktober 2014
BPBD Bangun 142 Rumah untuk Korban Abrasi PDF Cetak Surel
Selasa, 05 Juni 2012 02:32

Masyarakat juga dibuatkan shelter untuk menghindari kemungkinan tsunami.

PASBAR, HALUAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Pasaman Barat melalui anggaran bantuan BNPB Pusat  realisasikan membangun 142 unit  rumah layak huni bagi  warga Jorong Pondok Sasak  Kecamatan Sasak Ranah Pasisie Pasbar,  yang menjadi korban abrasi pantai beberapa waktu lalu.

Pembuatan rumah yang dilaksanakan secara swakelola,   bersama bakti TNI Kodim 0305 Pasaman itu, totalnya menelan anggaran Rp3,550 miliar. ”Insya Allah sekarang kondisi sudah mencapai sekitar 75 persen, dalam  waktu dekat pengerjaanya akan rampung,” ujar Kepala BPBD Pasbar Asgiarman SH, M.Si  didampingi Sekretaris  Drs. Yunadi dan Kasi Rehabilitasi BPBD Jhon Edwar, ST menjawab Haluan Senin, (4/6) di ruang kerjanya Simpang Ampek Pasbar.

Dijelaskan, pembangunan rumah layak huni yang dana murni bersumber dari bantuan BNPB Pusat itu  dilaksanakan bukan pada lokasi lama, tetapi pada Jorong Padang Laban dengan areal lokasi sekitar 17 hektare yang bebas dari zona garis merah.

“Pokoknya jauh dari zona merah rawan tsunami,” jelas Asgiarman. Dengan demikian, diharapkan setelah rumah selesai, maka warga yang tinggal di zona merah rawan abrasi pantai agar menempati rumah barunya yang telah dibuatkan oleh BPNB melalui BPBD Pasbar.

BPBD Pasbar juga mengusulkan anggaran ke pemerintah pusat untuk membangun 8 unit shelter untuk seluruh jorong kawasan pesisir di Pasbar.  Usulan anggaran yang diajukan BPBD Pasbar itu yakni Rp138 miliar pada tahun 2013 nanti.

Shelter itu tersebar pada Jorong Pesisir sepanjang 25 km, yakni meliputi jorong di Sasak, Aia Bangih, Maligi, Mandiangin, Katiagan dan Sikilang. Masih dalam pengajuan anggaran itu, sebut Jhon Edwar juga akan dibuatkan jembatan evakuasi, rehab jembatan pasca bencana serta penambahan kendaraan pemadam kebakaran.

Pelihara Hutan

Untuk antisipasi bencana, BPBD mengajak semua pihak berperan menjaga hutan sehingga dapat mencegah datangnya bencana alam akibat hutan yang semakin gundul. Asgiarman mengatakan, salah satu upaya untuk mencegah bencana alam adalah menjaga habitat penyangga kawasan hutan, daerah aliran sungai serta kawasan yang memiliki kecuraman cukup tinggi.

“Upaya untuk mencegah kerusakan alam harus dilakukan secara berkesinambungan dan terstruktur dengan mensinergikan instansi terkait. Melibatkan seluruh lapisan masyarakat sangat penting untuk mencegah timbulnya korban jiwa dan materi apabila terjadi bencana,”kata dia.

Dia mengatakan, 11 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman Baratmerupakan daerah rawan bencana. Untuk itu, masyarakat diminta agar tetap waspada terutama dari ancaman banjir dan longsor. “Sebagai daerah perbukitan dan laut bencana yang terus mengancam adalah longsor. Daerah rawan longsor mulai dari Kecamatan Talamau, Kecamatan Gunung Tuleh, Kecamatan Sungai Aua, Kecamatan Ranah Batahan, dan Kecamatan Parit Koto Balingka,” kata dia.

Selain longsor, bencana banjir juga mengancam karena wilayah Pasaman Barat dialiri sungai-sungai besar yang bermuara di Muara Sasak. Sungai yang rawan meluap yakni sungai Batang Pasaman dan Batang Sikabau. Kedua sungai itu setiap tahun selalu meluap dan merendam ribuan rumah warga terutama saat musim hujan.

Lebih jauh dia mengatakan, abrasi pantai juga selalu mengancam rumah nelayan yang berada di sepanjang tepian pantai, mulai dari Katiagan Kinali, Kecamatan Sasak, Sikilang sampai Aia Bangih Kecamatan Sungai Beremas.

Untuk mengatasi bencana itu, lanjut dia, BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum selalu berkoordinasi dan berupaya mengatasinya. Dari segi alat berat, Dinas PU siap siaga jika sewaktu-waktu ada longsor terjadi. “Untuk itu kami berharap semua pihak dapat menjaga hutan sehingga akan mampu meminimalisir terjadinya longsor dan banjir,” harapnya. (h/nir)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy