| UPTD Museum Nagari Sumbar Masih Dilirik |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Rabu, 06 Juni 2012 02:41 |
|
Suasana sejuk terasa di dalam ruangan, aliran udara menghembus dari pintu kayu yang berukiran bunga-bunga dan mempunyai filosofi tersendiri. Tiang-tiang kayu besar menambah suasana alami. Bangunan bagonjong itu berisi benda-benda sejarah dari pakaian pengantin, alat-alat berburu, hingga naskah kuno. Terdapat dua lantai di ruang utama museum. Lantai atas berisi pakaian-pakaian pengantin, foto-foto sejarah, hiasan, replika makanan daerah, serta sejarah adat istiadat Minangkabau terpajang di dinding yang terbuat dari anyaman rotan. Lantai dasar berisikan benda-benda seperti, pedang, senapan, alat-alat untuk berburu, naskah kuno, Alquran kuno, serta binatang harimau dan beruang madu yang sudah diawetkan. Dalam Museum Adityawarman dikelompokkan ke dalam sepuluh macam jenis koleksi, yaitu: Geologika/Geografika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika /Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni Rupa dan Teknalogika. Seiring dengan majunya teknologi, di setiap sudut ruangan saat ini sudah terdapat CCTV, yang mengontrol pengunjung museum, serta untuk menjaga keamanan benda sejarah dari gangguan tangan-tangan jahil. Banyak pengunjung yang menggunakan kameranya untuk berfoto dengan latar museum. Dan banyak juga para fotogarfer memanfaatkan sesi foto model, dan pre wedding di sekitar museum. Museum yang dahulunya bernama Museum Aditiawarman saat ini sudah diganti dengan UPTD Museum Nagari Sumatera Barat. Nama Aditiawarman termasuk tokoh Minangkabau yang mempunyai sejarah dan pengaruh luar biasa di Ranah Minang. Museum ini diusulkan pertama oleh Azwar Anas, karena Sumatera Barat belum mempunyai museum yang mencakup skala provinsi. Pada tahun 1975-1976 dan dilanjutkan pembangunannya oleh Hasan Basri Durin, dan pada tanggal 16 Maret 1977 diresmikan oleh Syarief Thaib, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala Museum, Muasri mengatakan, saat ini intensitas pengunjung terus meningkat. Terutama pada hari-hari besar dan liburan. Sejak gempa pada 30 September 2009, beberapa bangunan mengalami kerusakan, dan terdapat sejumlah koleksi museum yang rusak. “Pada tahun 2010 dilakukan revitalisasi, ada beberapa yang rusak seperti keramik langka. Namun kini sudah direstorasi dengan kerjasama dengan UNESCO dan Pustaka Nasional. Terdapat 300 benda yang rusak,” ujarnya. Ditambahkannya, pada tahun 2011 ahli konservasi naskah memperbaiki naskah kuno yang sudah mulai dimakan rayap. Untuk memperbaikinya butuh waktu satu bulan lebih dan mengeluarkan dana cukup besar. UPTD Nagari Museum Sumatera Barat, juga memiliki satu keris langka yang terbuat dari batu. Selain itu para pengunjung banyak juga yang menghibahkan benda sejarah miliknya ke museum karena tidak terawat. “Pada tahun 2011, koleksi museum bertambah 32 koleksi dan pada 2012 ditambah lagi 18 koleksi. Untuk menambah koleksi ada tiga cara yang kami pakai yakni dengan hibah, ganti rugi, titipan, hasil galian arkeolog,” kata Muasri menambahkan. Dijelaskannya, untuk tahun ini museum ditargetkan menghasilkan pendapatan Rp75 juta. Sedangkan tahun yang lalu, diharapkan dengan bertambahnya koleksi, museum akan menjadi daya tarik untuk semua masyarakat. “Mudah-mudahan ke depannya museum ini terus berkembang dan arealnya jadi lebih luas sehingga semua benda seni, seperti seni rupa dan lain-lainya bisa ditampung lebih banyak dan bisa menjadi sebuah komplek budaya di Kota Padang,” tuturnya menyampaikan harapan. (h/rvo)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 275 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


UPTD Museum Nagari Sumatera Barat, berbentuk rumah gadang Minangkabau, serta dikelilingi pohon rindang, terletak di tengah kota di Jalan Diponegoro, Kota Padang.
