| Pembauran Identitas yang Subkultural |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 10 Juni 2012 01:28 |
|
Pertunjukan yang berlangsung atas kerjasama antara Taman Budaya Sumatera Barat dan Erasmus Huis tersebut, menjadi bagian program tur Internationaal Danstheater yang juga tampil dan memberikan lokakarya di Jakarta dan Bandung selama sepuluh hari sepanjang bulan Juni. Di antaranya di Erasmus Huis, Ballet Sumber Cipta dan Taman Ismail Marzuki. Delapan penari yang memainkan “Subways” ialah Sebastian Maurice, Alexander Carbonaro, Kaia Vercammen, Mohamed Naaleye, Theta Tazelaar, Aina Clostermann Climent, Nicky van Cleef, dan Cammile Pidou. Jalan Urban Lampu menyala sejak awal, seorang penari dengan setelan jas muncul dari sudut panggung seraya menyapa seseorang lewat ponsel. Selanjutnya, muncul kejadian yang sama dengan penari yang berbeda, sehingga kesibukan menelpon berlangsung cukup lama. Gerakan step pada kaki sesuai dengan ritme yang teratur mengawali tarian “Subways”. Kemudian, seorang penari perempuan menari sembari merias diri. Tarian terhenti ketika ia meminta semua ponsel penari lainnya. Kegiatan masyarakat urban dimanifestasikan dalam gerakan yang apik. Bentuk-bentuk formasi yang segar dan komunikatif memerlihatkan betapa kebudayaan hari ini membaur bersama tradisi lama yang telah berkembang sebelumnya sehingga orang-orang menciptakan budaya mereka sendiri untuk bergaul dengan orang lain. Para penari berguling, berputar, membentuk formasi, kemudian bercakap-cakap kembali seraya mengikuti hentakan musik. Pada bagian tertentu, penonton disuguhkan gerakan tari India yang diramu sedemikian rupa sehingga tampak lebih enerjik. Penari bertepuk tangan, melompat, berputar, mundur dengan langkah yang anggun, berlari, berbaring dan menghentakkan kaki. “It’s really important,” ujar salah satu penari (Alexander Carbonaro) sesaat sebelum ponselnya diraih penari lain. kemudian mereka berkerumun dan menyebar. Saat penari sendirian, yang lain muncul mengikuti ritme musik. Kepala mereka bergerak tak wajar, kaki melangkah pelan, dan mimik wajah tampak tak beraturan. Alunan musik India ciptaan De Wereldband kembali menghentak, dan serta merta para penari berseliweran seraya tiga penari perempuan berbalut karangan bunga di leher turut menarikan gaya tarian Hawai dan menguasai panggung. Suasana berubah ketika gambar pada layar di latar belakang panggung berganti biru dengan deretan ubur-ubur yang memberi kesan eksotis pada beberapa pasang penari. Dengan lincah dan gemulai, mereka melompat menggamit pasangannya. Lalu, tiga pasang penari berjumpalitan bersama sepatu highheels-nya. Sepatu itu seperti menyatu dengan kaki-kaki si penari. Tarian tap, swing dan tango mengambil alih tanpa mengusik keutuhan tari yang telah terbangun sejak awal pertunjukan. Penari-penari itu berjingkat, berputar dan melompat ke pelukan pasangannya. Seperti sebuah kisah drama tragedi percintaan perselingkuhan, tunduk kepada cinta, dan pasangan gay bercerita lewat tarian modern tersebut. Mohamed Naaleye, salah seorang penari, sempat nge-rap diikuti dentuman hip-hop. Sementara itu, penari-penari lain tetap teratur mengikuti alunan hip-hop tersebut dengan gerak tarian jalanan. Mereka menari dengan gembira, dibantu dengan sedikit teriakan. Secara bergantian, pinggul mereka turut bergoyang. Sampai mereka memutuskan untuk telungkup, pinggul mereka tetap bergoyang dan menghentak dengan cantik. Dengan segala kemungkinan gerak tari, termasuk tarian belly pun diwujudkan di atas panggung. Sesekali mereka berteriak dan saling menggamit tangan dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan pasangan tari masing-masing. Ketika salah seorang penari (Mohamed Naaleye) tidak menangkap tubuh pasangannya, musik terhenti, dan penari lain kecewa. Kisah drama kembali terjadi, dan si penari merasa bersalah karena membiarkan pasangannya jatuh tersungkur di lantai. Penari lain menyingkir, dia pun mengungkapkan rasa bersalahnya lewat tarian tanpa musik. Dia melepas sepatunya, dan menggeliat seraya membelakangi penonton. Lalu bahunya menyentak. Tak lama berselang, De Wereldband pun bersedia membantunya dengan bunyi musik yang geram. Selanjutnya, penari-penari lain muncul dengan balutan kain di kepala dan sepatu kets. Tarian jalanan pun mereka tampilkan seraya berteriak dan bertepuk tangan. Tak berlangsung lama, tarian marching pun mengambil tempat di atas panggung yang ditandai oleh bunyi peluit. Dengan ketegasan bentuk, para penari memadukannya bersama gerak breakdance. Semula penonton berpikir pertunjukan usai ketika para penari menutupnya dengan gerak laku hormat. Tak dinyana, tepuk tangan penonton terhenti saat para penari melakukan gerak tarian yang penuh dengan ketegasan dan kecepatan. Sentakan tangan dan kaki menyatu bersama penghormatan terakhir yang menutup pertunjukan tari “Subways”. “Kami menutupnya dengan gaya marching Amerika yang berkembang di era tahun 70-an,” tutur Jan Linkens, Pengarah Artistik pertunjukan “Subways”. Dia juga mengatakan bahwa melalui tarian ini, Internationaal Danstheater berusaha menyampaikan betapa manusia tidak dapat lepas dari ponsel atau jaringan sosial. Manusia membutuhkan ponsel untuk terhubung dengan dunia luar di sekitarnya sehingga terbentuk kebudayaan baru. Meskipun tidak gampang, melalui “Subways” Jan Linkens berusaha menyatukan bentuk-bentuk tari yang beragam dari pelbagai bangsa dalam kesatuan bentuk yang utuh. Tarian ini berbicara tentang kondisi kota metropolitan di Belanda yang terbangun atas pelbagai subkultur: India, Latin, Hawai, Rumania, Afrika, China, Amerika dan banyak lagi. “Subways” memadukan secara bersama-sama gaya, tarian, tradisi, kebiasaan, dan citraan. Setiap orang dapat menciptakan dunianya sendiri lewat tarian. Tarian tersebut hasil koreografi dari Niels van der Steen, Nishant Bhola, Koen Brouwers, Roemjana de Haan dan Joshua Trebi yang memang masing-masingnya memiliki gaya tarian yang berbeda-beda. Jan Linkens juga mengungkapkan bahwa, penari-penari yang dihadirkan berasal dari pelbagai kebangsaan dan dengan gaya tarian yang berbeda-beda. “Di sana letak kesulitan penggarapan tarian ini, bagaimana cara mereka bekerjasama dan memadukan gaya tarian yang beragam.” Setelah program ini, kata dia, penari-penari tersebut akan pulang ke negara masing-masing. “Di sini, kami ingin memberikan bentuk tarian yang aktual dan sejati,” katanya mengakhiri. Euforia Penonton Remaja Lebih dari apa yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Internationaal Danstheater selama lebih dari limapuluh tahun berdiri, tarian merupakan bentuk ekspresi remaja masa kini yang saling mengenal satu sama lain dan berbaur dalam corak baru. Perwujudan itu tersiar keseluruh dunia melalui internet dan mencetuskan perkembangan baru. Orang-orang menghidupkan identitas uniknya dengan memadukan kebudayaannya dengan budaya lainnya. Ratusan penonton yang kebanyakan remaja muda-mudi itu pun berteriak histeris. “Lihat, itu Sebastian!” ujar salah seorang penonton saat menyaksikan sosok penari muncul di awal pertunjukan “Subways”. Tak disangka-sangka, saat pertunjukan usai, penonton remaja berhamburan menuju panggung. Mereka berteriak histeris. Mereka berkerumun dengan perasaan senang dan meraih penari-penari tersebut untuk berfoto bersama. Bak artis dan idola, meskipun pada akhirnya para penari bule sedikit ‘risih’, seperti tak ada sekat di antara mereka untuk berkomunikasi. Peristiwa tersebut berlangsung lama, bahkan tidak terjadi pada pertunjukan tari domestik yang pernah dipentaskan di Taman Budaya Sumatera Barat. Aih!.
DELVI YANDRA
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 248 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


PERTUNJUKAN TARI KONTEMPORER “SUBWAYS” INTERNATIONAAL DANSTHEATER
