Senin, 20 May 2013
Pembauran Identitas yang Subkultural PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 10 Juni 2012 01:28

PERTUNJUKAN TARI KONTEMPORER “SUBWAYS” INTERNATIONAAL DANSTHEATER

Salah satu jalan yang dapat menyatukan bangsa-bangsa ialah melalui jalan tari. Pelbagai identitas budaya yang bera­gam diekspresikan dalam rangkaian gerak tari kon­templatif. Ada semacam perenungan demikian yang dilakukan oleh Internationaal Danstheater (Amsterdam - Belanda) melalui “Subways” di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Kamis (7/6) malam lalu.

Pertunjukan yang ber­langsung atas kerjasama antara Taman Budaya Suma­tera Barat dan Erasmus Huis tersebut, menjadi bagian program tur Internationaal Danstheater yang juga tampil dan memberikan lokakarya di Jakarta dan Bandung selama sepuluh hari sepanjang bulan Juni. Di antaranya di Erasmus Huis, Ballet Sumber Cipta dan Taman Ismail Marzuki.

Delapan penari yang me­mainkan “Subways” ialah Se­bas­tian Maurice, Alexander Carbonaro, Kaia Vercammen, Mohamed Naaleye, Theta Tazelaar, Aina Clostermann Climent, Nicky van Cleef, dan Cammile Pidou.

Jalan Urban

Lampu menyala sejak awal, seorang penari dengan setelan jas muncul dari sudut panggung seraya menyapa seseorang lewat ponsel. Selan­jutnya, muncul kejadian yang sama dengan penari yang berbeda, sehingga kesibukan menelpon berlangsung cukup lama. Gerakan step pada kaki sesuai dengan ritme yang teratur mengawali tarian “Subways”.

Kemudian, seorang penari perempuan menari sembari merias diri. Tarian terhenti ketika ia meminta semua ponsel penari lainnya. Kegi­atan masyarakat urban dima­ni­festasikan dalam gerakan yang apik. Bentuk-bentuk formasi yang segar dan komu­nikatif memerlihatkan betapa kebuda­yaan hari ini membaur bersama tradisi lama yang telah berkem­bang sebelumnya sehingga orang-orang mencip­takan budaya mereka sendiri untuk bergaul dengan orang lain.

Para penari berguling, berputar, membentuk formasi, kemudian bercakap-cakap kembali seraya mengikuti hentakan musik. Pada bagian tertentu, penonton disuguhkan gerakan tari India yang di­ramu sedemikian rupa sehingga tampak lebih enerjik. Penari bertepuk tangan, melompat, berputar, mundur dengan langkah yang anggun, berlari, berbaring dan menghentakkan kaki.

It’s really important,” ujar salah satu penari (Alexander Carbonaro) sesaat sebelum ponselnya diraih penari lain. kemudian mereka berkerumun dan menyebar. Saat penari sendirian, yang lain muncul mengikuti ritme musik. Kepa­la mereka bergerak tak wajar, kaki melangkah pelan, dan mimik wajah tampak tak beraturan.

Alunan musik India cipta­an De Wereldband kembali menghentak, dan serta merta para penari berseliweran seraya tiga penari perempuan berbalut karangan bunga di leher turut menarikan gaya tarian Hawai dan menguasai panggung. Suasana berubah ketika gambar pada layar di latar belakang panggung berganti biru dengan deretan ubur-ubur yang memberi kesan eksotis pada beberapa pasang penari. Dengan lincah dan gemulai, mereka melom­pat menggamit pasangannya.

Lalu, tiga pasang penari berjumpalitan bersama sepatu highheels-nya. Sepatu itu seperti menyatu dengan kaki-kaki si penari. Tarian tap, swing dan tango mengambil alih tanpa mengusik keutuhan tari yang telah terbangun sejak awal pertunjukan.

Penari-penari itu ber­jingkat, berputar dan melom­pat ke pelukan pasangannya. Seperti sebuah kisah drama tragedi percintaan perse­lingkuhan, tunduk kepada cinta, dan pasangan gay bercerita lewat tarian modern tersebut.

Mohamed Naaleye, salah seorang penari, sempat nge-rap diikuti dentuman hip-hop. Sementara itu, penari-penari lain tetap teratur mengikuti alunan hip-hop tersebut de­ngan gerak tarian jalanan. Mereka menari dengan gem­bira, dibantu dengan sedikit teriakan. Secara bergantian, pinggul mereka turut bergo­yang. Sampai mereka memu­tuskan untuk telungkup, pinggul mereka tetap bergo­yang dan menghentak dengan cantik.

Dengan segala kemung­kinan gerak tari, termasuk tarian belly pun diwujudkan di atas panggung. Sesekali mereka berteriak dan saling menggamit tangan dan men­jatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan pasangan tari masing-masing. Ketika salah seorang penari (Mohamed Naaleye) tidak menangkap tubuh pasa­ngannya, musik terhenti, dan penari lain kecewa. Kisah drama kembali terjadi, dan si penari merasa bersalah karena membiarkan pasa­ngan­nya jatuh tersungkur di lantai.

Penari lain menyingkir, dia pun mengungkapkan rasa bersalahnya lewat tarian tanpa musik. Dia melepas sepatunya, dan menggeliat seraya membelakangi penon­ton. Lalu bahunya menyentak. Tak lama berselang, De We­reld­band pun bersedia mem­bantunya dengan bunyi musik yang geram.

Selanjutnya, penari-penari lain muncul dengan balutan kain di kepala dan sepatu kets. Tarian jalanan pun mereka tampilkan seraya berteriak dan bertepuk ta­ngan. Tak berlang­sung lama, tarian marching pun meng­ambil tempat di atas pang­gung yang ditandai oleh bunyi peluit. Dengan ketegasan bentuk, para penari mema­dukannya bersama gerak break­dance.

Semula penonton berpikir pertunjukan usai ketika para penari menutupnya dengan gerak laku hormat. Tak dinya­na, tepuk tangan penonton terhenti saat para penari melakukan gerak tarian yang penuh dengan ketegasan dan kecepatan. Sentakan tangan dan kaki menyatu bersama penghor­matan terakhir yang menutup pertunjukan tari “Subways”.

“Kami menutupnya dengan gaya marching Amerika yang berkembang di era tahun 70-an,” tutur Jan Linkens, Penga­rah Artistik pertunjukan “Subways”. Dia juga menga­takan bahwa melalui tarian ini, Internationaal Dansthe­ater berusaha menyampaikan betapa manusia tidak dapat lepas dari ponsel atau jari­ngan sosial. Manusia membu­tuhkan ponsel untuk terhu­bung dengan dunia luar di sekitarnya sehingga terbentuk kebudayaan baru.

Meskipun tidak gampang, melalui “Subways” Jan Lin­kens berusaha menyatukan bentuk-bentuk tari yang bera­gam dari pelbagai bangsa dalam kesatuan bentuk yang utuh. Tarian ini berbicara tentang kondisi kota metro­politan di Belanda yang terba­ngun atas pelbagai subkultur: India, Latin, Hawai, Rumania, Afrika, China, Amerika dan banyak lagi.

“Subways” memadukan secara bersama-sama gaya, tarian, tradisi, kebiasaan, dan citraan. Setiap orang dapat menciptakan dunianya sendiri lewat tarian. Tarian tersebut hasil koreografi dari Niels van der Steen, Nishant Bhola, Koen Brouwers, Roemjana de Haan dan Joshua Trebi yang me­mang masing-masingnya me­miliki gaya tarian yang berbe­da-beda.

Jan Linkens juga mengung­kapkan bahwa, penari-penari yang dihadirkan berasal dari pelbagai kebangsaan dan dengan gaya tarian yang berbeda-beda. “Di sana letak kesulitan penggarapan tarian ini, bagaimana cara mereka bekerjasama dan memadukan gaya tarian yang beragam.”

Setelah program ini, kata dia, penari-penari tersebut akan pulang ke negara ma­sing-masing. “Di sini, kami ingin memberikan bentuk tarian yang aktual dan sejati,” katanya mengakhiri.

Euforia Penonton Remaja

Lebih dari apa yang per­nah dilakukan sebelumnya oleh Internationaal Dansthe­ater selama lebih dari lima­puluh tahun berdiri, tarian merupakan bentuk ekspresi remaja masa kini yang saling mengenal satu sama lain dan berbaur dalam corak baru. Perwujudan itu tersiar kese­luruh dunia melalui internet dan mencetuskan perkem­bangan baru. Orang-orang menghidupkan identitas unik­nya dengan memadukan kebu­dayaannya dengan budaya lainnya.

Ratusan penonton yang kebanyakan remaja muda-mudi itu pun berteriak histe­ris. “Lihat, itu Sebastian!” ujar salah seorang penonton saat menyak­sikan sosok penari muncul di awal pertunjukan “Subways”.

Tak disangka-sangka, saat pertunjukan usai, penonton remaja berhamburan menuju panggung. Mereka berteriak histeris. Mereka berkerumun dengan perasaan senang dan meraih penari-penari tersebut untuk berfoto bersama. Bak artis dan idola, meskipun pada akhirnya para penari bule sedikit ‘risih’, seperti tak ada sekat di antara mereka untuk berkomunikasi. Peristi­wa tersebut berlangsung lama, bahkan tidak terjadi pada pertunjukan tari domestik yang pernah dipentaskan di Taman Budaya Sumatera Barat. Aih!.

 

DELVI YANDRA
(Penggiat di Teater Rumah Teduh dan Studio Merah)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy