Kamis, 23 May 2013

Warning: substr() expects parameter 3 to be long, string given in /home/harianha/public_html/components/com_jomcomment/views.jomcomment.php on line 264
Taipan Indonesia Sudono Salim Meninggal PDF Cetak Surel
Senin, 11 Juni 2012 02:37

Padang, Haluan — Pen­diri PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (Indofood) dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Sudono Salim alias Liem Sioe Liong meninggal dunia. Salah satu pencetus Salim Group ini dikabarkan meninggal dunia di Singapura, Minggu (10/6) sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

“Iya meninggal dunia saya sudah dapat informasi,” ung­kap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, Minggu (10/6).

Namun, mantan Menteri Perdagangan ini tidak menge­tahui sebab meninggalnya bos Salim Grup tersebut. “Saya tidak mengetahui detailnya,” tutup Mari.

Pria kelahiran China pada 10 September 1915 semasa hidupnya dikenal dekat de­ngan Presiden RI periode 1966-1998, HM Soeharto. Bahkan, mereka sudah saling mengenal saat Soeharto masih bertugas di Semarang, Jawa Tengah.

Terkait tanggal lahir Sudo­no Salim, ternyata ensik­lopedia dalam jaringan (da­ring) hhtp://www.wikipedia.com mencatatnya dalam dua versi, yakni dalam bahasa Inggris (http://en.wiki­pedia.org/wiki/Sudono_Salim) tertulis lahir pada 16 July 1916.

Adapun dalam versi bahasa Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sudono_Salim) tercatat lahir pada 10 September 1915.

Setelah Soeharto lengser dari jabatan Presiden RI pada 1998, Sudono Salim memilih bermukim di Singapura. Hal itu mungkin lantaran kediamannya di Jakarta sempat menjadi sasaran amukan massa saat demontrasi reformasi 1998.

Ia adalah pendiri kerajaan bisnis Salim Group, yang meliputi Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, Indomaret, Indomarco.

Kerajaan bisnisnya saat ini di Indonesia dilanjutkan oleh putranya, Anthoni Salim, dan menantunya yang bernama Franky Welirang, suami dari Myra Salim.

Sudono Salim pernah tercatat menjadi orang terkaya ke-25 dari Asia Tenggara pada 2004 dengan nilai kekayaan sekira 655 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Majalah Forbes yang berkantor pusat di nomor 90, 5th Avenue, New York, NY 10011, AS, itu juga mencatat Sudono Salim, mulai masuk ke Indonesia saat masih bernama Hindia Belanda pada 1936. Saat itu, Liem bergabung dengan kakak iparnya, Zheng Xusheng, di Medan, Sumatera Utara, guna berbisnis kelapa sawit.

Selain itu, Liem dan Zheng kala itu mulai dikenal sebagai jagonya bisnis tembakau kualitas tinggi yang mampu memenuhi selera bursa dunia di Bremen, Jerman. Mereka tentu saja berbisnis pula di bidang rokok kretek.

Beberapa sumber menyebut keduanya juga berbisnis obat dan alat kesehatan, serta persenjataan yang ikut mendukung perjuangan pasukan pergerakan Indonesia melawan Belanda di awal kemerde­kaan Republik Indonesia. Namun, Sudono Salim sempat membantah pernah berbisnis senjata.

Namun, Liem tidak pernah membantah hubungan bisnisnya dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) lantaran Presiden RI periode 1966-1998, HM Soeharto (1921-2008), mengakui dekat dengannya sejak masih bertugas di Komando Daerah Militer (Kodam) Diponegoro, Jawa Tengah.

Soeharto dalam beberapa kesem­patan pertemuan dengan kalangan pebisnis nasional mengakui bahwa Liem dikenalnya saat mendukung perjuangan Indonesia, antara lain memasok kebutuhan obat dan tata kelola beras untuk TNI dan masya­rakat luas, utamanya di Jawa Tengah.

Buku “Kisah Sukses Liem Sioe Liong” garapan Eddy Soetriyono juga menorehkan hubungan Oom Liem dengan Soeharto sejak masa revolusi kemerdekaan RI.

Mereka tetap menjalin kontak, bahkan Soeharto dalam temu bisnis di Jimbaran, Bali, sekira setahun sebelum lengser selaku Presiden RI, banyak memperoleh gagasan dari Liem. Soeharto saat itu berkeinginan pengusaha nasional lebih banyak berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Hanya saja, setelah reformasi 1998 yang memicu berhentinya HM Soeharto dari jabatan Presiden RI, Oom Liem memilih bermukim di Singapura. Hal ini mungkin lantaran kediamannya di Jakarta dan Medan saat itu menjadi sasaran amukan massa yang menyebut diri pro-reformasi.

Saat krisis ekonomi melanda RI pada 1998, Sudono Salim tercatat memiliki utang bisnis mencapai 4,8 miliar dolar AS. Nilai utang ini mengguncang kerajaan bisnis yang didirikannya, antara lain Indofood, Indomobil, Indoce­ment, Indosiar, BCA, Indomaret, Indomar­co. Sejumlah perusahaan tersebut kini banyak yang beralih pemilik saham dominannya.

Di Kepulauan Riau, Salim Grup berkibar antara lain melalui PT Bintan Inti Industrial Estate di Kawasan Industri Lobam, serta Kawasan Wisata Terpadu Lagoi di Kabupaten Bintan, Kawasan In­dustri Batamindo dan Lapangan Golf Southlinks di Kota Batam, serta melalui Sembawang Shipyard di Kabupaten Karimun.

Tempat Pemakaman

Pihak keluarga hingga pukul 20.00 Minggu malam masih mem­bahas tempat peristirahatan ter­akhir atau pemakaman bagi almar­hum Sudono Salim.

“Masih dibahas keluarga lang­sung. Tunggu yang resmi saja,” kata Senior Liasion Manager PT Bintan Inti Industrial Estate, Jamin Hidajat, di Singapura, Minggu malam. “Belum ada keputusan apakah jenazah Liem akan dikremasi, dimakamkan, di mana dan kapan,” kata Jamin Hidayat. (h/naz/berbagai sumber)

Comments (1)Add Comment
0
turut berduka cita
written by string, Juni 15, 2012
org no 1 indonesia yg pantas diteladani dan wajib bg org di sekelilingnya memberi tempat teraman yaitu singapura

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: