| CSF: Rio+20 Langgengkan Neolib |
|
|
|
| Rabu, 13 Juni 2012 02:55 | |||
|
JAKARTA, HALUAN — Forum Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim (CSF) mengkritik agenda pertemuan Rio+ 20 yang akan dilangsungkan di Brazil pada 13-23 Juni 2012. Agenda pertemuan Earth Summit tersebut tidak menjawab problem utama kerusakan bumi, justru akan melanggengkan sistem ekonomi neoliberal dengan sekedar menempelkan kata hijau tanpa merubah orientasi pembangunan yang eksploitatif.
Dalam siaran pers CSF,Selasa (12/6), Koordinator CSF Siti Maimunah mengingatkan, Ekonomi Hijau yang didengungkan justru mendorong perluasan privatisasi, komodifikasi dan finansialisasi sumber daya alam, merampas sumber-sumber kehidupan rakyat dan memperkuat penindasan terhadap perempuan serta menghancurkan keragaman hayati, termasuk Perdagangan karbon, tukar guling kawasan atau biodiversity offset yang mengemuka dalam perundingan-perundingan global. “Hal itu akan mengulang kegagalan deklarasi Pembangunan Berkelanjutan yang justru memperluas kerusakan lingkungan, percepatan pemanasan global dan membahayakan keselamatan penghuni bumi. Nelayan, Petani, Masyarakat adat, Buruh, Kamu Miskin kota, Perempuan, Pemuda dan anak-anak mengalami dan menjadi saksi menurunnya keselamatan rakyat dan kualitas lingkungan dari waktu ke waktu. Sementara hasil-hasil Perundingan internasional Perubahan Iklim tak menggembirakan karena selalu menghasilkan dokumen perundingan tanpa kewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca bagi negara-negara industri,” jelas Siti Maimunah. Oleh karena itu Forum Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim (CSF) menuntut perubahan orientasi pembangunan yang memastikan terjadinya pemajuan, perlindungan dan pemenuhan Hak Asasi Manusia, dan Hak Asasi Perempuan. Lewat pembalikan orientasi pembangunan berkelanjutan yang neoliberal dan terbukti gagal, bahkan menjadi pemicu krisis iklim yang kian memburuk dan mengancam keselamatan kolektif penduduk dunia. Ke arah perubahan sistem ekonomi, moda produksi dan konsumsi yang sejalan dengan batas daya dukung bumi. “Kami juga menolak Green Economy yang dibangun dalam kerangka sistem ekonomi neoliberal, dan akan mendorong perluasan privatisasi, komodifikasi dan finansialisasi sumber daya alam yang merampas sumber-sumber kehidupan rakyat dan menghancurkan keragaman hayati dengan skema dan pertimbangan apapun, termasuk perdagangan karbon, tukar guling kawasan atau biodiversity offset yang mengemuka dalam perundingan-perundingan global. Pemerintah harus menjamin akses yang adil terhadap sumberdaya alam khususnya bagi masyarakat lokal. “Ketiga, kami mendesak Pemerintah secara konsisten menjalankan Agenda 21 berdasarkan prinsip – prinsip yang tertuang dalam Deklarasi Rio, terutama keadilan gender dan pengakuan terhadap masyarakat adat, kehati-hatian dini, respon dan tanggung jawab sama tapi berbeda, “pelunasan utang ekologis” sebagai sebuah bentuk tanggungjawab atas yang telah dilakukan oleh negara-negara industri dan korporasi dan lembaga keuangan internasional terhadap negara miskin dan berkembang, serta memperkuat prinsip akses terhadap informasi, partisipasi publik, serta akses terhadap keadilan ekologi,” jelasnya. CSF juga menuntut Pemerintah tidak bekerjasama dengan perusahaan perusak lingkungan dan pelanggar HAM, serta lembaga keuangan internasional untuk pendanaan negosiasi dan pencitraan yang mengatasnamakan keberlanjutan ekosistem, pelestarian lingkungan dan pengentasan kemiskinan.”Kami mendesak Pengurus Negeri merealisasikan komitmen pembentukan konvensi mengenai Prinsip 10, prinsip 20, prinsip 22 Deklarasi Rio dan mendorong implementasi Pasal 65 ayat (2) UU No. 32 tahun 2009v tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” jelasnya. (dn/rel)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 111 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


