| Setelah Pengurus Berdamai, Hendak Kemana Lagi PSSI? |
|
|
|
| Sabtu, 16 Juni 2012 03:09 | |||
|
Sepakbola, senantiasa membetot semangat dan andrenalin publik. Berkejaran di tengah lapangan rumput untuk satu buah boleh oleh 22 orang pemain senantiasa menjadi tontonan yang menegangkan sekaligus menjadi hiburan. Sepakbola di belahan Eropa benar-benar sudah menjadi industri, tak sekedar sebuah cabang olahraga biasa. Bola diurus sebagaimana mengurus sebuah perusahaan yang listing di lantai bursa. Tetapi sejak belasan tahun ini sepakbola kita di Indonesia sepertinya jalan di tempat dan masih urusannya pertandingan formal dan hampir tak disentuh sebagai sebuah industri. Dan yang membikin kita jadi jengkel, justru tiap kali bertanding dengan kesebelasan asing, kita tetap saja jadi pecundang.Urusan sepakbola menjadi makin carut marut ketika diantara pengurus top organisasi sepakbola PSSI berebut pengaruh dan bertengkar hebat. Sudahlah urusan bola di lapangan membikin kita mengkal akan hasilnya, maka perangai para pengurus sepakbola kita lebih membikin kita murka. Maka syukurlah apabila pekan lalu, sudah ada kesepakatan bersama diantara pihak-pihak yang bertikai di tubuh PSSI. Janji para pengurus itu: ini akan dijadikan momentum untuk memulai suatu babak baru. Permulaan yang dimaksud sudah dapat kita lihat dan dengar dengan adanya kesepakatan damai atau Nota Kesepahaman (MoU) antar-kelompok yang bertikai di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (7/6). MoU itu ditandatangani oleh Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin, perwakilan Indonesia Super League (ISL) Djoko Driyono dan Komite Penyelamat Sepak Bola (KPSI) La Nyala Mattilitti, setelah dimediasi Tim Task Force AFC yang dipimpin Wakil Ketua AFC HRH Pangeran Abdullah Ibni Sultan Ahmad Shah. Kesepakatan damai ini disaksikan juga oleh anggota Exco FIFA Worawi Makudi, Sekjen AFC Dato‘ Alex Soosay, Direktur Pengembangan Asosiasi FIFA Thierry Regenass, dan Direktur Pengembangan dan hubungan Internasional dan Asosiasi James Johnson, serta pengurus FIFA Marco Leal. Setidak-tidaknya dapat kita harapkan bahwa kesepakatan damai ini sebagai langkah awal penyelesaian dari dualisme kompetisi dan konflik kepengurusan selama ini. FIFA dan AFC sendiri merasa prihatin atas munculnya kembali liga tandingan (breakaway) dan munculnya KPSI. AFC dalam hal ini akhirnya membuat putusan membentuk tim Task Force (Gugus Tugas) untuk menyelesaikan kisruh sepak bola di Tanah Air tersebut. Setelah melakukan pertemuan untuk kedua kalinya di Kuala Lumpur, akhirnya semua pihak setuju melakukan Mou dengan lima butir putusan itu. Dari butir-butir kesepakatan itu dapat pula kita rasakan bahwa para pihak yang bersengketa sudah sama-sama batulak ansua dan menjauhkan diri dari sikap kareh angok. Diantara kesepakatan itu adalah bahwa empat anggota Komite Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang dipecat dipulihkan kembali. Prosedur pengembalian ini akan ditentukan oleh Komite Bersama PSSI. Mereka adalah La Nyalla Mattalitti, Roberto Rouw, Erwin Dwi Budiawan, dan Tony Apriliani. Namun, prosedur pengembalian ini akan ditentukan oleh Komite Bersama PSSI. Sementara itu status ISL disepakati berada di bawah yurisdiksi PSSI secepatnya. Tentu saja ini menggebirakan karena penting untuk menangani masalah disiplin, administrasi pemain, dan transfer, dan penunjukkan perangkat pertandingan hingga satu-satunya liga profesional tingkat teratas dibentuk. Hingga saat itu, ISL bisa terus beroperasi secara otonom. Dan yang tidak kalah penting adalah kesepakatan para pihak membubarkan KPSI Dibubarkan. Semua pihak setuju bahwa KPSI akan dibubarkan dan menghentikan keberadaannya sebagai badan pengelola sepak bola nasional. Untuk mengakomodasi kehendak kedua pihak, rasanya kesepakatan itu sudah sampai pada titik yang benar yakni dibentuknya Komite Bersama PSSI. Komite ini merupakan gabungan dari unsur PSSI, ISL/KPSI untuk untuk mengevaluasi IPL dan ISL untuk secepatnya membentuk satu-satunya liga sepak bola tertinggi di Indonesia. Komite ini akan bekerja di bawah pengawasan dan bekerja sama erat dengan Gugus Tugas AFC Indonesia dan bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan FIFA dan AFC untuk memeriksa statuta PSSI dan masalah keorganisasian lainnya. Maka, harapan kita sekarang adalah bagaimana agar kesepakatan itu tidak tinggal tertulis di atas kertas tetapi benar-benar dapat diimplementasikan dan bisa membawa sepakbola Indonesia keluar dari lubang yang dalam. Sudah waktunya bangsa dengan penduduk hampir 300 juta ini memiliki satu tim sepakbola yang disegani dunia. Bravo PSSI!
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 231 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


