| Janganlah Menjadi Ulat Bulu, Jadilah Kupu-kupu |
|
|
|
| Rabu, 20 Juni 2012 03:46 | |||
|
Menarik sekali pidato perkenalan Sdr. Drs Rusdi Lubis, MSi, Ketua Pengurus Daerah IV Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Provinsi Sumatera Barat dalam pelantikan tanggal 1 Juni 2012 di Auditorium Gubernuran Padang. Di antaranya dia menganalogikan sikap para pensiunan, seperti judul tulisan ini, “Janganlah Menjadi Ulat Bulu, Tapi Jadilah Kupu-Kupu”. Seperti diketahui ulat bulu adalah suatu makhluk yang tidak disenangi, melihatnya saja orang jijik, apalagi bila bersentuhan dengan bulunya orang merasa gatal, orang menghindar dan tidak mau mendekatinya. Para pensiunan adalah orangtua, pegawai negeri yang telah menyelesaikan tugasnya secara formal. Anggota PWRI terdiri dari pensiunan Pegawai Negeri Sipil, Pegawai BUMN/BUMD dan Pejabat Negara.Mereka sangat kaya dengan pengalaman di berbagai bidang. Namun tentu diharapkan tetap bermanfaat ditengah-tengah masyarakat. Kehadirannya sangat dibutuhkan, bukan sebaliknya orang menghindar darinya, karena sikap dan tingkah lakunya. Justeru itu tamsilan Ketua PWRI, jadilah sebagai kupu-kupu, melihat saja orang senang, apalagi memiliki koleksi kupu-kupu yang telah diawetkan, seperti yang dipajang di hotel-hotel berbintang di Jakarta, Makasar dan sebagainya. Bahkan katanya di Thailand secara khusus dibudidayakan kupu-kupu tersebut yang dinamakan butterfly garden. Suatu perumpamaan yang sangat mengena dan cocok dengan orang tua-tua, terutama para pensiunan. Secara resmi mereka telah mengakhiri pengabdiannya sebagai pegawai negeri, namun sebagai anggota masyarakat dia dituntut untuk terus berkiprah dalam segala kegiatan yang dimungkinkan. Seorang jenderal bangsa asing pernah mengatakan the oldest soldier never die atau prajurit tua tidak pernah mati. Hal itu menunjukkan orang tua-tua tetap gigih dalam kehidupannya dan tidak mau berpangku tangan. Apa yang bisa dikerjakan tetap dilakukan. Ajaran aga ma memotivasi “ sebaik-baik manusia, bermanfaat terhadap orang lain”. Juga hadist yang lain menyebutkan bahwa “sebaik-baik manusia, panjang umurnya, banyak amal kebaikannya”. Tentu mafhum mukhalafahnya (penafsiran terbalik), sejelek-jelek manusia, panjang umurnya, selalu jahat perbuatannya. Namun dalam kenyataan secara alami orang tua sudah mulai lemah fisiknya, sakit-sakitan apalagi dari segi mental. Justru itu perlu diupayakan bagaimana setelah pensiun selalu memiliki kesehatan yang prima. Prof Dr Subroto dalam bukunya Subroto Tak Kenal Lelah mengungkapkan bahwa tidak mudah untuk hidup sehat dan produktif dalam usia 80 tahun. Kuncinya menurut beliau adalah hati atau qolbu harus bersih, hindari bergunjing, berfikir positif, jangan sombong dan angkuh dan jaga keseimbangan. Ada empat dimensi agar hidup seimbang, yaitu 1). dimensi spiritual, 2). dimensi intelektual, 3). dimensi fisikal dan 4). dimensi sosial. Semua harus seimbang, jangan ada yang missing. Bila dicermati kiat yang disampaikan Prof. Subroto tersebut sangat tepat sekali. Dimensi spiritual, agar kita selalu mengamalkan ajaran agama dengan konsisten, seperti shalat dan puasa, tidak saja yang wajib tetapi juga yang sunah, zakat, zikir, do’a dan sebagainya yang merupakan ibadah mahdah. Di samping itu juga ibadah-ibadah ghairu mahdah, yang berkaitan dengan kegiatan kemasyarakatan (muamalat) juga harus mendapatkan perhatian. Dimensi intelektual, agar kita selalu menambah ilmu dan belajar, baik dengan membaca, mengikuti ceramah melalui berbagai media. Beberapa tahun yang lalu di bulan Ramadhan, jam 03.00 dinihari, penulis pernah mengikuti tafsir Misbah yang disampaikan Prof Qurais Syihab. Dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan pemirsa, beliau mengemukakan bahwa untuk mencegah kepikunan, biasakan membaca. Otak kita ini seperti pisau semakin diasah semakin tajam, mengasahnya dengan membaca dan belajar. Tetapi bila tidak diasah pisau tersebut akan berkarat. Agaknya perlu dibiasakan di usia tua ini untuk selalu membaca. Setidaknya membaca itu sekitar 2 jam setiap hari, mulai dari Al-Qur’an, terjemah dan tafsirnya, koran dan buku-buku lainnya. Dimensi fisikal tentu mendorong kita agar selalu berolah raga. Sesuai dengan usia orang pensiun, jangan olahraga yang berat-berat, dan mahal tetapi cukup dengan jalan kaki, 3 atau 4 kali seminggu, selama setengah sampai satu jam. Kecuali pensiunan yang berkemampuan, dan masih memiliki kebugaran, dapat bermain golf, tenis, bulutangkis dan sebagainya. Olahraga tersebut harus teratur dan terukur. Di samping itu memakan makanan yang sehat dan bergizi yang seimbang. Tentunya tidak berlebihan. Juga tidak kurang pentingnya mengontrol kesehatan secara periodik. Yang terakhir dimensi sosial. Hal ini sangat penting, berinteraksi sesama dan bersilaturahim. Bila menuruti pada pesan Rasullullah, “barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rezekinya hendaklah dia bersilaturahim”. Saling membantu dan nasehat menasehati, hablum minannas disamping hablum minallah Beberapa bulan yang lalu di saat penulis mengajar pada Diklatpim III Diklat Regional I Bukittinggi, sempat dikemukakan tentang upaya menjaga kebugaran di hari tua ini karena peserta pada waktunya akan memasuki masa pensiun. Dalam sesi diskusi salah seorang peserta ada yang mengusulkan ditambah dengan dimensi ekonomi dan keluarga. Saran yang demikian boleh-boleh saja, dan dapat dipahami dengan pertimbangan bahwa masalah ekonomi sangat perlu diperhatikan. Jumlah nominal pensiun tentu tidak sama dengan penghasilan sewaktu masa aktif. Namun berkaitan dengan jumlah uang sangat relatif tergantung bagaimana seseorang mengelolanya. Apalagi pada umumnya para pensiunan tidak banyak lagi mempunyai tanggung jawab dalam membiayai anak-anak. Bahkan bila anak-anak sudah berpenghasilan, mereka yang memperhatikan orangtuanya. Di samping itu orang tua juga tidak banyak lagi memiliki kebutuhan. Walaupun demikian seorang yang bijaksana tentu harus memikirkan hari-hari mendatang. Justru itu perlu adanya prinsip hidup berhemat, dengan mempersiapkan biaya untuk merawat kesehatan dan kebutuhan yang tidak terduga lainnya. Selanjutnya dimensi keluarga juga perlu menjadi perhatian utama bagi setiap orang, tidak terkecuali bagi pensiunan. Keluarga yang dimaksudkan, tentu tidak saja anak-anak dan cucu-cucu, tetapi juga ibu bapak, bagi mereka yang orang tuanya masih hidup. Kalau sudah meninggal dunia, tentu selalu mendo’akan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang tertera dalam surat Al Ahqaf (46) ayat 15 yang berbunyi: “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya yang telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa : Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtua ku dan agar aku dapat berbuat kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim”. Jadi seseorang itu dituntut agar selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan dan berdoa untuk orang tuanya serta selalu berbuat kebajikan yang diredhai dan kebaikan tersebut akan mengalir kepada anak cucunya. Dapat dipahami bahwa seseorang haruslah memperhatikan dua aspek keatas dan kebawah, atau orang tua dan anak cucunya. Bila orang tua masih hidup dia berikan perhatian dan pengabdian, sedangkan terhadap anak cucu diberikan pendidikan dan keteladanan, tanpa intervensi dalam keluarga anaknya. Memang disadari zaman telah berubah, suasana dan cara pendidikan di masa lalu tentu tidak sama dengan sekarang. Namun secara umum tentu nilai-nilai dalam keluarga kita di Minang masih tetap diupayakan sepanjang masih cocok dengan kondisi masa kini. Masa depan generasi mendatang akan sangat tergantung dengan berbagai upaya yang dipersiapkan oleh orangtua masa kini. Kemajuan informasi teknologi sangat mendorong kemajuan dalam berbagai bidang. Namun bagaimana pemanfaatan informasi teknologi itu sangat perlu pengawasan dari orang tua, termasuk juga kakek dan nenek bila mereka masih dapat memahami. Di Ranah Minang pengertian keluarga, tidak sama dengan di Barat, yang terbatas pada ayah ibu dan anak-anak, yang disebut dengan nucler family (keluarga batih), tapi keluarga bisa termasuk kakek nenek, paman, bibi dan sebagainya. Ayat yang dikemukan di atas juga menjiwai kehidupan masyarakat Minang, yaitu memperhatikan orang tua dan tidak mengabaikan anak cucu. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa falsafah hidup masyarakat Minangkabau adalah, “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. Dengan melengkapi 2 dimensi terakhir, diharapkan agar orang tua khususnya para pensiunan akan semakin sejahtera lahir dan bathin dalam menghabiskan hari tuanya. Jadi sangatlah tepat ajakan Ketua PWRI Sumatera Barat tersebut, agar setiap pensiunan khususnya anggota PWRI tetap bermanfaat untuk orang lain dan menjadikan wadah organisasi ini untuk berbakti kepada masyarakat. Jika fisik masih sehat serta potensial jangan sekadar MC (mengasuh cucu) saja, karena hal itu merupakan pemanfaatan yang sangat minimalis. Bila sisa umur digunakan untuk kepentingan orang banyak, insya Allah kehidupan akan berkah. Semoga dengan niat ikhlas dan amal yang tulus, kiranya semua aktifitas akan merupakan ibadah di sisi Allh SWT.
MUCHTIAR MUCHTAR
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 288 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


