Jumat, 24 May 2013
Janganlah Menjadi Ulat Bulu, Jadilah Kupu-kupu PDF Cetak Surel
Rabu, 20 Juni 2012 03:46

Menarik sekali pidato perkenalan Sdr. Drs Rusdi Lubis, MSi, Ketua Pengurus Daerah IV Persatuan Wre­datama Republik Indonesia (PWRI) Provinsi Sumatera Barat dalam pelantikan tang­gal 1 Juni 2012 di Auditorium Gubernuran Padang. Di antar­a­nya dia menganalogikan sikap para pensiunan, seperti judul tulisan ini,  “Janganlah Menjadi Ulat Bulu, Tapi Jadilah Kupu-Kupu”.

Seperti diketahui ulat bulu adalah suatu makhluk yang tidak disenangi, melihat­nya saja orang jijik, apalagi bila bersentuhan dengan bulunya orang merasa gatal, orang menghindar dan tidak mau mendekatinya. Para pensiunan adalah orangtua, pegawai negeri yang telah menyelesaikan tugasnya seca­ra formal. Anggota PWRI terdiri dari pensiunan Pega­wai Negeri Sipil, Pegawai BUMN/BUMD dan Pejabat Negara.

Mereka sangat kaya de­ngan pengalaman di berbagai bidang. Namun tentu diha­rapkan tetap bermanfaat ditengah-tengah masyarakat. Kehadirannya sangat dibu­tuhkan, bukan sebaliknya orang menghindar darinya, karena sikap dan tingkah lakunya. Justeru itu tamsilan Ketua PWRI, jadilah sebagai kupu-kupu, melihat saja orang senang, apalagi memiliki koleksi kupu-kupu yang telah diawetkan, seperti yang dipa­jang di hotel-hotel berbintang di Jakarta, Makasar dan sebagainya. Bahkan katanya di Thailand secara khusus dibudidayakan kupu-kupu tersebut yang dinamakan butterfly garden.

Suatu perumpamaan yang sangat mengena dan cocok dengan orang tua-tua, teru­tama para pensiunan. Secara resmi mereka telah meng­akhiri pengabdiannya sebagai pegawai negeri, namun seba­gai anggota masyarakat dia dituntut untuk terus berkiprah dalam segala kegiatan yang dimungkinkan. Seorang jende­ral bangsa asing pernah me­nga­takan the oldest soldier never die atau prajurit tua tidak pernah mati. Hal itu menun­jukkan orang tua-tua tetap gigih dalam kehidupannya dan tidak mau berpangku tangan. Apa yang bisa dikerjakan tetap dilakukan. Ajaran aga­ ma memotivasi “ sebaik-baik manusia, bermanfaat terhadap orang lain”. Juga hadist yang lain menyebutkan bahwa “sebaik-baik manusia, panjang umurnya, banyak amal kebai­kannya”. Tentu mafhum mu­kha­lafahnya (penafsiran ter­balik), sejelek-jelek manusia, panjang umurnya, selalu jahat perbuatannya. Namun dalam kenyataan secara alami orang tua sudah mulai lemah fisik­nya, sakit-sakitan apalagi dari segi mental. Justru itu perlu diupayakan bagaimana sete­lah pensiun selalu memiliki kesehatan yang prima.

Prof Dr Subroto dalam bukunya Subroto Tak Kenal Lelah mengungkapkan bahwa tidak mudah untuk hidup sehat dan produktif dalam usia 80 tahun. Kuncinya menurut beliau adalah hati atau qolbu harus bersih, hindari bergunjing, berfikir positif, jangan sombong dan angkuh dan jaga keseim­bangan.

Ada empat dimensi agar hidup seimbang, yaitu 1). dimensi spiritual, 2). dimensi intelektual, 3). dimensi fisikal dan 4). dimensi sosial. Semua harus seimbang, jangan ada yang missing. Bila dicermati kiat yang disampaikan Prof. Subroto tersebut sangat tepat sekali. Dimensi spiritual, agar kita selalu mengamalkan ajaran agama dengan konsis­ten, seperti shalat dan puasa, tidak saja yang wajib tetapi juga yang sunah, zakat, zikir, do’a dan sebagainya yang merupakan ibadah mahdah.

Di samping itu juga iba­dah-ibadah ghairu mahdah, yang berkaitan dengan kegia­tan kemasyarakatan (mua­malat) juga harus mendapatkan perhatian. Di­men­si intelektual, agar kita selalu menambah ilmu dan belajar, baik dengan membaca, mengikuti ceramah melalui berbagai media. Beberapa tahun yang lalu di bulan Ramadhan, jam 03.00 dini­hari, penulis pernah mengikuti tafsir Misbah yang disam­paikan Prof Qurais Syihab.

Dalam memberikan jawa­ban terhadap pertanyaan pemirsa, beliau menge­mu­kakan bahwa untuk mencegah kepikunan, biasakan mem­baca. Otak kita ini seperti pisau semakin diasah semakin tajam, mengasahnya dengan membaca dan belajar. Tetapi bila tidak diasah pisau terse­but akan berkarat. Agaknya perlu dibiasakan di usia tua ini untuk selalu membaca. Setidaknya membaca itu sekitar 2 jam setiap hari, mulai dari Al-Qur’an, terjemah dan tafsirnya, koran dan buku-buku lainnya.

Dimensi fisikal tentu men­dorong kita agar selalu berolah raga. Sesuai dengan usia orang pensiun, jangan olahraga yang berat-berat, dan mahal tetapi cukup dengan jalan kaki, 3 atau 4 kali seminggu, selama setengah sampai satu jam. Kecuali pensiunan yang berkemampuan, dan masih memiliki kebugaran, dapat bermain golf, tenis, bulu­tangkis dan sebagainya. Olah­raga tersebut harus teratur dan terukur.

Di samping itu memakan makanan yang sehat dan bergizi yang seimbang. Ten­tunya tidak berlebihan. Juga tidak kurang pentingnya me­ngon­trol kesehatan secara periodik. Yang terakhir dimen­si sosial. Hal ini sangat penting, berinteraksi sesama dan bersilaturahim. Bila menuruti pada pesan Rasul­lullah, “barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dimudahkan  rezekinya hendaklah dia bersilaturahim”. Saling membantu dan nasehat menasehati, hablum minannas disamping hablum minallah

Beberapa bulan yang lalu di saat penulis mengajar pada Diklatpim III Diklat Regional I Bukittinggi, sempat dikemukakan tentang upaya menjaga kebugaran di hari tua ini karena peserta pada waktunya akan memasuki masa  pensiun. Dalam sesi diskusi salah seorang peserta ada yang mengusulkan ditam­bah dengan dimensi ekonomi dan keluarga.

Saran yang demikian bo­leh-boleh saja, dan dapat dipahami dengan pertim­bangan bahwa masalah eko­nomi sangat perlu diper­hatikan. Jumlah nominal pensiun tentu tidak sama dengan penghasilan sewaktu masa aktif. Namun berkaitan dengan jumlah uang sangat relatif tergantung bagaimana seseorang mengelolanya. Apa­lagi pada umumnya para pensiunan tidak banyak lagi mempunyai tanggung jawab dalam membiayai anak-anak. Bahkan bila anak-anak sudah berpenghasilan, mereka yang memperhatikan orangtuanya.

Di samping itu orang tua juga tidak banyak lagi me­miliki kebutuhan. Walaupun demikian seorang yang bijak­sana tentu harus memikirkan hari-hari mendatang. Justru itu perlu adanya prinsip hidup berhemat, dengan memper­siapkan biaya untuk merawat kesehatan dan kebutuhan yang tidak terduga lainnya.

Selanjutnya dimensi keluarga juga perlu menjadi perhatian utama bagi setiap orang, tidak terkecuali bagi pensiunan. Keluarga yang dimaksudkan, tentu tidak saja anak-anak dan cucu-cucu, tetapi juga ibu bapak, bagi mereka yang orang tuanya masih hidup. Kalau sudah meninggal dunia, tentu selalu mendo’akan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang tertera dalam surat Al Ahqaf (46) ayat 15 yang berbunyi: “Dan kami perintahkan kepa­da manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya yang telah mengan­dungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menya­pihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa : Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtua ku dan agar aku dapat berbuat kebai­kan yang akan mengalir sam­pai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim”.

Jadi seseorang itu dituntut agar selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan dan berdoa untuk orang tuanya serta selalu berbuat kebajikan yang diredhai dan kebaikan tersebut akan mengalir kepa­da anak cucunya. Dapat dipa­hami bahwa seseorang harus­lah memperhatikan dua aspek keatas dan kebawah, atau orang tua dan anak cucunya.

Bila orang tua masih hidup dia berikan perhatian dan pengabdian, sedangkan terhadap anak cucu diberikan pendidikan dan keteladanan, tanpa intervensi dalam keluar­ga anaknya. Memang disadari zaman telah berubah, suasana dan cara pendidikan di masa lalu tentu tidak sama dengan sekarang. Namun secara u­mum tentu nilai-nilai dalam keluarga kita di Minang masih tetap diupayakan sepanjang masih cocok dengan kondisi masa kini.

Masa depan generasi men­datang akan sangat tergantung dengan berbagai upaya yang dipersiapkan oleh orangtua masa kini. Kemajuan infor­masi teknologi sangat men­dorong kemajuan dalam ber­bagai bidang. Namun bagai­mana pemanfaatan informasi teknologi itu sangat perlu pengawasan dari orang tua, termasuk juga kakek dan nenek bila mereka masih dapat memahami.

Di Ranah Minang penger­tian keluarga, tidak sama dengan di Barat, yang terbatas pada ayah ibu dan anak-anak, yang disebut dengan nucler family (keluarga batih), tapi keluarga bisa termasuk kakek nenek, paman, bibi dan sebaga­inya.

Ayat yang dikemukan di atas juga menjiwai kehidupan masyarakat Minang, yaitu memperhatikan orang tua dan tidak mengabaikan anak cucu. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa falsafah hidup masyarakat Minangkabau adalah, “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. Dengan melengkapi 2 dimensi terakhir, diharapkan agar orang tua khususnya para pensiunan akan semakin sejahtera lahir dan bathin dalam menghabiskan hari tuanya.

Jadi sangatlah tepat aja­kan Ketua PWRI Sumatera Barat tersebut, agar setiap pensiunan khususnya anggota PWRI tetap bermanfaat untuk orang lain dan menjadikan wadah organisasi ini untuk berbakti kepada masyarakat. Jika fisik masih sehat serta potensial jangan sekadar MC (mengasuh cucu) saja, karena hal itu merupakan peman­faatan yang sangat minimalis. Bila sisa umur digunakan untuk kepentingan orang banyak, insya Allah kehi­dupan akan berkah.

Semoga dengan niat ikhlas dan amal yang tulus, kiranya semua aktifitas akan meru­pakan ibadah di sisi Allh SWT.

 

MUCHTIAR MUCHTAR
(Anggota PWRI Kota Padang)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy