Rabu, 19 Juni 2013
28 Perusuh di Batam Jadi Tersangka PDF Cetak Surel
Rabu, 20 Juni 2012 03:59

BATAM,HALUAN — Aparat kepolisian menetapkan 28 orang tersangka  dalam kasus bentrokan dua kelompok di Planet Holiday Hotel, Senin (18/6) lalu.  Dari 28 tersangka yang sudah ditahan itu satu diantaranya pimpinan kelompok, Basri. Sementara pimpinan kelompok lainnya Tony Fernando,  Manager Operasional dan Pemasaran PT HMI hingga saat ini masih dalam pengejaran polisi.

Kapolda Kepri, Brigjen Yotje Mende mengatakan ke-28 tersangka saat ini masih menjalani pemerik­saan di Mapolresta Barelang. Polisi masih mendalami kasus itu dan mengejar tersangka lainnya.

“28 orang telah kita tetapkan sebagi tersangka termasuk Basri yang merupakan pimpinan kelom­pok yang diserang tersebut. Semen­tara Toni Fernando dan kelom­poknya yang melakukan penyerangan ke hotel planet masih kita kejar,” katanya.

Kapolda lantas meminta kepa­da Toni untuk bersikap kooperatif. Polisi dengan satu bintang di pundaknya itu menghimbau agar Toni segera menyerahkan diri ke pihak kepolisian secara sukarela agar bentrokan tidak semakin membesar dan mem­perburuk keadaan.

“Untuk Tony saat ini sudah kami tetapkan sebagai DPO dan kami harap dia bisa datang dan berani untuk menyelesaikan masalah agar tidak simpang siur sehingga mem­buat masyarakat lain tidak nya­man” tegasnya lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya bentrokan berdarah ini dipicu perebutan lahan PT Hyundai Metal Indonesia (HMI) di Batuampar oleh kubu Toni Fernando (Manager Operasional dan Pemasaran PT HMI) dengan kubu PT Lord Way Accommodation Engineering (LWAE) yang didukung Basri. Pada 14 Juni lalu sengketa lahan seluas 4.300 meter persegi antara PT LWAE dengan PT HMI diputus di Penga­dilan Negeri (PN) Kota Batam.

Dalam putusannya, PN Batam memenangkan sebagian gugatan PT LWAE. Namun pihak PT HMI langsung menyatakan banding atas putusan tersebut, mengingat ba­nyak fakta persidangan yang diabaikan pengadilan.  Namun setelah putusan pengadilan itu diduga pihak PT LWAE langsung menguasai lahan PT HMI  dengan menurunkan ratusan orang ke lokasi, sengketa lahan tersebut. Tidak puas dengan aksi massa itu, kelompok PT HMI melakukan serangan balik ke massa kelompok LWAE yang berada di Hotel Planet tersebut.

Akibat serangan itu, seorang warga tewas dan 11 lainnya luka. Namun demikian kini, Polri me­ngaku telah melakukan dialog dengan pihak terkait dan akan menuntaskan kasus ini melalui mekanisme hukum.

“’Situasi Batam sudah kon­dusif,aktifitas warga berjalan dengan normal sebagai mana biasa. Tadi malam sudah ada pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan aparat pemerintahan di sana. Sudah menyepakati masing-masing akan menjaga, tidak akan saling menye­rang lagi,”’ kata Kapolda.

105 Brimob Kelapa Dua

Sehari pascabentrokan, Polresta Barelang terus memperketat penga­manan. Selain menerjunkan anggota Polresta Barelang dan Polda Kepri juga mendapatkan bantuan pasu­kan dari Mabes Polri,  Polresta Tanjungpinang, Polres Bintan, Polres Tanjungbalai Karimun dan anggota TNI Yonif 134/TS.

Wakapolresta Barelang, AKBP Misbahul Munauwar mengatakan, selain Mabes Polri mengirim 105 pasukan Brimob, pihaknya juga mendapatkan tambahan pasukan, masing-masing 27 pasukan dari Polres Tanjungpinang, 30 dari Polres Bintan, 30 dari Tanjungbalai Kari­mun, serta 60 pasukan dari TNI Yonif 134 TS. “Tambahan pasukan ini bergabung, untuk melakukan pengamanan seluruh wilayah Kota Batam,” ujar Misbahul.

Selanjutnya, kata Misbahul, seluruh pasukan tersebut dibagi dalam enam kelompok. Mereka akan melakukan pengamanan ke seluruh tempat di Kota Batam dengan sistem patroli keliling.

Kabag Ops Polresta Barelang, Kompol Anton Sujarwo saat me­mim­pin apel sebelum pelaksanaan patroli gabungan mengingatkan, agar semua pasukan yang tergabung dalam pengamanan kota, bertindak wajar dan tidak berlebih-lebihan.

“Ini sifatnya pengamanan saja, sehingga teman-teman dapat men­jaga sikap dan tidak berlebihan,” ujarnya di depan seluruh pasukan pengaman yang siap melakukan patroli.

Kapolres Karimun AKBP Benya­min Sapta di Tanjung Balai Kari­mun mengatakan 30 personel atau satu pleton pengendalian massa (dalmas) itu itu dilengkapi tameng dan tongkat serta perlengkapan antihuru hara lainnya.

Menurut dia, pengiriman perso­nel itu merupakan respons Polres Kari­mun atas permintaan Polresta Barelang. Ia berharap dengan penam­bahan pasukan dalmas dapat mem­perkuat serta membantu personel Polresta maupun Polda Kepri untuk mencegah kerusuhan susulan.

Pantauan di lapangan aparat kepolisian dan dibantu TNI bersen­jata lengkap berjaga-jaga  sejumlah titik, seperti di  Center Ocarina, seputaran Batuampar dan sejumlah Rumah Sakit, tempat korban dirawat

Komandan Kodim 0316 Batam,  Letkol Czi Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan,  TNI AD akan mela­kukan peningkatkan pengamanan sehingga kerusuhan itu tidak terulang kembali.

Tembak di Tempat

Anggota Komisi I DPRD Batam  geram dengan pelaku kerusuhan tersebut. Wakil rakyat ini menge­cam aksi premanisme yang menye­babkan satu orang tewas. Untuk mencegah kekisruhan kem­bali, mereka merekomendasikan kepada polisi agar pelakunya ditembak di tempat.

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Helmy Hemilton menga­takan aksi-aksi preman tidak boleh mendapat tempat sehingga harus ditindak tegas. “Kita minta kepoli­sian tembak di tempat kalau ada anggota atau kelompok yang ingin berbuat onar di Batam,” kata Helmi, kemarin.

Helmy melanjutkan perintah tembak di tempat kepada perusuh adalah hal yang wajar. Apalagi kata dia, Batam merupakan kota indus­tri dan investasi. “Jadi harus kita jaga bersama baik dari segi keama­nan,” ucapnya. (h/hk)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: