| Sendal Datuk Mulai Ditinggal |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Rabu, 20 Juni 2012 04:10 |
|
Akhir-akhir ini, dalam sehari, ia hanya bisa melepas satu hingga dua pasang sendal datuk saja. Padahal, beberapa tahun lalu, rata-rata penjualan sendal datuk hasil karyanya ini bisa mencapai 30 pasang perhari. “Maraknya penjualan sendal buatan pabrik, ditambah lagi dengan harga yang murah, menyebabkan sendal datuk ini tak lagi dilirik masyrakat,” ujarnya miris. Meski demikian, saat ini Bukhari yang mempunyai dua orang karyawan tersebut tetap mengerjakan pembuatan sendal datuk tersebut. Namun produk yang sendal kulit yang dibuatnya ini tidak lagi dipasarkan di Sumbar, tapi dikirim ke daerah Jambi, Bengkulu, Pekanbaru dan beberapa daerah tetangga lainnya. Untuk bahan baku kulit, Bukhari khusus mendatangkannya dari Bukittinggi. Sedangkan untuk bahan alasnya, didatangkan dari pulau Jawa. “Di daerah luar, permintaan sendal datuk ini masih tinggi. Sedangkan kita sendiri, masyarakat Minangkabau sudah tak mau lagi memakai sendal datuk ini,” jelas Bukhari sembari menimang-nimang sebuah sendal datuk yang baru saja diselesaikannya. Sungguh disayangkan, lanjut ayah lima anak ini lagi, penghargaan masyarakat Minangkabau terhadap hasil kerajinan tangan daerah sudah mulai menipis. Kebanyakan mereka lebih memilih produk pabrikan ketimbang hasil buatan pengrajin lokal. Dibandingkan dengan harga sendal pabrikan, sendal datuk memang mematok harga yang sedikit tinggi. Untuk sepasang sendal datuk, bisa dihargai Rp 75 ribu rupiah. (h/hel)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 257 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


Beberapa tahun lalu, sendal datuk, yang merupakan salah satu karya tangan pengrajin kulit di MinangKabau sempat menguasai penjualan sendal di wilayah Sumatera Barat ini. Namun sekarang, keadaan mulai berbalik arah. Sendal datuk ini tidak lagi digemari oleh masyarakat Minangkabau. Hal ini dibuktikan dengan penurunan jumlah penjualan yang dialami oleh para pengrajin sendal datuk itu sendiri.
