Selasa, 21 May 2013
Dari Lopak, Lembaran Rupiah Pun Mengalir PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Sabtu, 23 Juni 2012 03:08

Lopak, demikian orang di Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan menyebut kerupuk yang terbuat dari ubi. Maka Yunia (34), warga Seberang Tarok Lakitan, saban hari membantu pendapatan keluarga dengan membuat lopak. Sudah 15 tahun ia menekuni pekerjaan sebagai tukang buat lopak. Alhasil, Nia (panggilan akrabnya) dapat me­ngantongi keuntungan Rp350 ribu tiap pekan.

Dalam sepekan, Nia menghabiskan 3-4 karung ubi atau ketela batang. Untuk menghabiskan tiga sampai empat karung itu, Nia tidak membutuhkan tenaga kerja lain. Hanya saja dalam waktu waktu tertentu, suaminya Darwis (45) ikut menguliti ubi dan memarutnya hingga jadi halus.

Bahan dasar berupa ubi, didapatkan Nia dari petani yang ada di sekitar Lengayang dengan harga paling rendah Rp35 ribu perkarung (karung pupuk-red). Manakala ubi di Lengayang sulit, Niapun tidak mencarinya ke kecamatan tetangga, misalnya Ranah Pesisir dan Sutera.

Setiap hari Nia menguliti lebih setengah karung ubi untuk selan­jutnya diparut, kemudian meng­hasilkan ratusan lopak. Hasil parutan kemudian airnya dikurangi itulah yang dijadikannya adonan pembuat lopak. Adonan ditam­bahkan garam dan daun kunyit secukupnya. Lalu peralatan lainnya adalah kompor minyak, alat kuku­san, piring dan potongan plastik seukuran piring pula.

Diambilnya adonan sekitar 50 gram, kemudian diletakkan ke atas piring yang telah dialas plastik. Tujuan diberi plastik supaya mudah mengangkatnya dari piring. Jari lentik Nia kemudian tampak dengan lincah membuat lopak hampir sebesar piring. Hanya butuh waktu semenit, satu lembar lopak siap, untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam kukusan.

Mana yang sudah matang di­ang­katnya, sembari menggantinya dengan yang baru. Demikian terus berulang-ulang hingga akhirnya adonan habis dan telah menjadi lopak. Ketika lopak dikeluarkan dalam kukusan, Nia hanya menung­gu beberapa saat dan setelahnya menjemur di atas jemuran yang dibuatnya sangat sederhana.

“Namun perlu diingat, agar produksi bagus atau lopak tidak asam, maka jangan biarkan ubi parutan menunggu satu malam untuk dikerjakan. Jika perlu sejam setelah dikurangi airnya, adonan langsung dikerjakan. Begitu pula menjemurnya, jangan tunggu hingga besok. Jika tidak, lopak akan terasa asam dan tidak gurih,” katanya menjelaskan.

Lantas bagaimana dengan pemasaran. Rupanya, setelah 15 tahun membuka usaha ini, Yunia tidak kesulitan memasarkan pro­duk­sinya. “Saya tidak menjual lopak yang siap dimakan, namun menjual lopak mentah ke pelanggan. Di sekitar Lengayang banyak pelanggan yang datang langsung ke rumah untuk membeli lopak,” katanya.

Ibu satu orang anak ini menye­butkan, bahkan ia kesulitan me­menuhi permintaan konsumen, apalagi bila bahan baku sulit didapat. “Lopak biasanya dijadikan berbagai penganan selain dimakan langsung. Misalnya dijadikan lopak kuah, lopak mie dan lain lain. Alhamdulillah, hasilnya lumanyan. Setiap minggu bisa memperoleh keuntungan minimal Rp350 ribu,” katanya menjelaskan.

Hasan Basri (45) warga Lakitan Utara, salah satu konsumen Yunia kepada penulis mengakui, lopak buatan Yunia sangat gurih. Bahkan ketika dijadikan lopak kuah, maka banyak diserbu pembeli. “Saya setiap minggu memesan 100 lembar lopak, lopak ini saya jadikan lopak kuah,” katanya. (Laporan  Harid­man Kambang)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy