| Dari Lopak, Lembaran Rupiah Pun Mengalir |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Sabtu, 23 Juni 2012 03:08 |
|
Bahan dasar berupa ubi, didapatkan Nia dari petani yang ada di sekitar Lengayang dengan harga paling rendah Rp35 ribu perkarung (karung pupuk-red). Manakala ubi di Lengayang sulit, Niapun tidak mencarinya ke kecamatan tetangga, misalnya Ranah Pesisir dan Sutera. Setiap hari Nia menguliti lebih setengah karung ubi untuk selanjutnya diparut, kemudian menghasilkan ratusan lopak. Hasil parutan kemudian airnya dikurangi itulah yang dijadikannya adonan pembuat lopak. Adonan ditambahkan garam dan daun kunyit secukupnya. Lalu peralatan lainnya adalah kompor minyak, alat kukusan, piring dan potongan plastik seukuran piring pula. Diambilnya adonan sekitar 50 gram, kemudian diletakkan ke atas piring yang telah dialas plastik. Tujuan diberi plastik supaya mudah mengangkatnya dari piring. Jari lentik Nia kemudian tampak dengan lincah membuat lopak hampir sebesar piring. Hanya butuh waktu semenit, satu lembar lopak siap, untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam kukusan. Mana yang sudah matang diangkatnya, sembari menggantinya dengan yang baru. Demikian terus berulang-ulang hingga akhirnya adonan habis dan telah menjadi lopak. Ketika lopak dikeluarkan dalam kukusan, Nia hanya menunggu beberapa saat dan setelahnya menjemur di atas jemuran yang dibuatnya sangat sederhana. “Namun perlu diingat, agar produksi bagus atau lopak tidak asam, maka jangan biarkan ubi parutan menunggu satu malam untuk dikerjakan. Jika perlu sejam setelah dikurangi airnya, adonan langsung dikerjakan. Begitu pula menjemurnya, jangan tunggu hingga besok. Jika tidak, lopak akan terasa asam dan tidak gurih,” katanya menjelaskan. Lantas bagaimana dengan pemasaran. Rupanya, setelah 15 tahun membuka usaha ini, Yunia tidak kesulitan memasarkan produksinya. “Saya tidak menjual lopak yang siap dimakan, namun menjual lopak mentah ke pelanggan. Di sekitar Lengayang banyak pelanggan yang datang langsung ke rumah untuk membeli lopak,” katanya. Ibu satu orang anak ini menyebutkan, bahkan ia kesulitan memenuhi permintaan konsumen, apalagi bila bahan baku sulit didapat. “Lopak biasanya dijadikan berbagai penganan selain dimakan langsung. Misalnya dijadikan lopak kuah, lopak mie dan lain lain. Alhamdulillah, hasilnya lumanyan. Setiap minggu bisa memperoleh keuntungan minimal Rp350 ribu,” katanya menjelaskan. Hasan Basri (45) warga Lakitan Utara, salah satu konsumen Yunia kepada penulis mengakui, lopak buatan Yunia sangat gurih. Bahkan ketika dijadikan lopak kuah, maka banyak diserbu pembeli. “Saya setiap minggu memesan 100 lembar lopak, lopak ini saya jadikan lopak kuah,” katanya. (Laporan Haridman Kambang)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 186 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


Lopak, demikian orang di Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan menyebut kerupuk yang terbuat dari ubi. Maka Yunia (34), warga Seberang Tarok Lakitan, saban hari membantu pendapatan keluarga dengan membuat lopak. Sudah 15 tahun ia menekuni pekerjaan sebagai tukang buat lopak. Alhasil, Nia (panggilan akrabnya) dapat mengantongi keuntungan Rp350 ribu tiap pekan.
