Minggu, 26 May 2013
Terowongan PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 24 Juni 2012 00:56

Di terowongan ini, sorak-sorai suara Adikku dan juga tubuh ringkihnya meng­hilang tiba-tiba, walaupun di ujung tero­wongan ada cahaya yang belum pernah ia lalui sebelumnya, tapi aku yakin ia tahu jalan pulang. Ini sudah puluhan tahun ia tak kunjung datang, dan puluhan tahun juga aku duduk menan­tinya.

Dan gelap terowongan yang kami sukai berdua dahulu, beberapa tahun ke depan menjelma menjadi hantu yang siap mener­kamku saat Matahari terbenam, atau di malam-malam lengang setelah kehilangannya. Aku kesepian! Tiada Kau, Bapak, Ibu, Nenek dan Kakek.

Ah! Kembali pulang Adikku, ini aku bawakan bonekamu. Kutunggu kedatanganmu di mulut terowongan ini. Tempat kita biasa bermain dengan ikan senter. Kembalilah sayang!

***

Puluhan tahun lalu, aku masih ingat betul. Di kotak-kotak rumah kayu sederhana yang juga mengotak-ngotakkan harapan Ibu untuk segera keluar dari sini. Tempat yang dipilih Bapak untuk persembunyian anggota keluarga kami selama bertahun-tahun dari ancaman peluru. Aku dan adikku yang amat manis itu, —seorang perempuan kecil yang memiliki mata bundar dan hitam bulat sempurna di tengahnya— kami tentu memiliki banyak kenangan di tempat istimewa ini.

Ia lebih senang ber­main masak-masakan di halaman rumah, dan tentu saja aku menuruti kehen­daknya, dan ia akan segera melompat-lompat kegirangan sehingga rambut kepang duanya bergoyang ke kiri ke kanan. Terkadang kami bermain cumancik di dekat parak ubi, gelak tawa kami berderai-derai menyusup celah-celah rerimbun ubi-ubi yang bakal panen itu.

Tapi, sebetulnya kami lebih sering bermain di dekat terowongan, terowo­ngan tua yang sisi kiri dan kanannya mengalir air yang begitu jernih, sejer­nih wajah Bapak yang mirip sekali dengan Adikku, yang di dalam air itu terdapat ikan senter yang akan menetaskan telur-telurnya dengan indah. Seindah kisah masa kecil kita. Lebih indah dari keberhasilan seseorang menangkap babi, atau keberhasilan seseo­rang menembakkan pistol angin pada rusa yang sedang berlenggak-lenggok di rimba raya.

Bapak selalu saja memperingati kami ketika kaki-kaki kecil kami tengah bersatu dengan air di dalam banda kecil itu dan mencoba mencapai cahaya. Kadang aku di kiri, Adikku yang di kanan. Bila Bapak meli­hat kami mendekati ujung terowongan  bermegahkan cahaya terang, tangan kasarnya melambai-lambai ke arah kami. Memberi isyarat, dan aku, aku paling suka membaca mulut Bapak, “Jangan ke sana Murni, nanti hilang. Kembali, kembali ke mulut tero­wongan, bermain di situ saja.”. Karena kebiasan itu, aku pun bisa mem­baca mulut orang lain, meskipun ia bebe­rapa meter jauh dari tempatku berdiri.

Sedangkan Ibu, wanita yang tahu sekian banyak asam garam kehidupan baik dari Nenek ataupun yang beliau alami sendiri, sering berdongeng tentang cerita-ceritanya sewaktu muda dahulu, sehingga kami hanya mengenal dua orang pendongeng hebat di dunia, Nenek dan Ibu. Dan adikku itu, ia selalu saja merengek-rengek manja untuk diceritakan cerita yang sama berulang-ulang.

Di bawah cahaya lampu damar yang terlalu banyak barangkali dibuat oleh Kakek, kami sering tertidur dalam elusan tangan Ibu atau Nenek —ternyata setelah Kakek meninggal barulah kami tahu maksud damar yang dibuatkan banyak-banyak itu, agar kelak kami tak kegelapan, dan setelah kematian Kakek, Nenek pun banyak diam dan suka mencium-cium damar-damar yang ia simpan di kamarnya tanpa kami ketahui. Ibu prihatin, Bapak pun begitu. Apalagi kami, tiada lagi kami dapat mendengar cerita Nenek dan suaranya yang merdu di kala ia membaca Al-qur’an, atau ketika ia mengajari kami cara mengeja dan membaca huruf hijaiyah.

Ah! Adikku, bukankah di damar ini cerita kita banyak ia serap.

Bukankah sumbunya tak pernah habis, karena kakek terhebat kita menciptakannya dengan teknologi yang luar biasa.

Bukankah minyaknya seperti semangat Ibu yang ingin segera keluar dari keterasingan ini, mencoba bertahan namun akhirnya ia akan habis jua?

Bukankah?

Bukankah apinya seperti semangat Bapak untuk menjaga kita dari kejaran monyet-monyet nakal itu? Tentu aku tak berlebihan, benar begitu sayang?

Dan dalam hidupku sampai aku berusia lanjut ini, aku hanya mengenal tiga perempuan, kau Adikku, Ibu dan Nenek. Dan aku, aku  hanya mengenal dua laki-laki di dunia ini, Bapak dan Kakek. Tapi perihal suami dan anak-anakku. Aku tak tahu pasti, di relung mana ia tersimpan dalam diriku, juga hidupku barangkali.

***

Aku ingat betul, Adikku, kita sering ketakutan jika Bapak terlambat pulang, perihal Nenek suka bercerita tentang orang-orang yang hilang ketika malam tiba. Kita sering menggigil. Memeluk lutut erat-erat, meringkuk dan bersandar pada kaki-kaki meja dan gigi-gigi kita mengeluarkan bunyi takut, berusaha agar terhindar dari mata asing yang secara tiba-tiba dalam bayangan kita akan datang di balik pintu, atau mungkin ia sudah di dalam rumah sebelum kita masuk, kita keta­kutan dan berdoa dengan tangan yang dipaksa tengadah, terkadang kalau kita sangat ketakutan kita akan meniarap di bawah kolong tempat tidur. Memasang telinga, me­nung­gu suara orang yang kita kenal menyibakkan pintu rumah dan me­manggil-manggil nama kita satu persatu, dan kita segera berhamburan ke dalam pelukannya. Setelah mereka semua pulang, barulah kita keluar dari tempat per­sem­bunyian dan kembali ke halaman rumah, terowongan dan sesekali ke parak ubi melanjutkan permainan yang terpaksa kita hentikan. Tawa kita kembali berderai-derai, dan ketakutan yang kita alami barusan berubah jadi kisah yang begitu indah sayang.

Aku masih ingat adikku, peristiwa di malam yang begitu pekat, bintang bersembunyi di balik gumpalan awan raksasa. Kita begitu gigil dalam pelukan Bapak, dalam rangkulan tangan Bapak yang kuat, Ibu wajahnya berhujankan air mata. Nenek yang terba­ring kaku dengan wajah yang terbakar sebagian, benar-benar mengoyak-ngoyak hati kecil kita, mencabik-cabiknya begitu kasar. Ini kematian pertama yang kita saksi­kan dengan mata anak-anak kita adikku. Oh, damar yang ia letakkan di dekat wajahnya sebagai pelepas rindu untuk mendiang suaminya benar-benar menjadi penyebab kematiannya. Kakek, seketika wajah kakek berkelabat dalam benak kita. Ah, sepasang orang­tua yang begitu kita cinta. Dan kita adikku, berdiri di depan dua nisan itu, menabur bunga-bunga —bunga yang sengaja kita lepaskan dari tangkainya, bunga yang selalu dirawat Nenek dengan sepenuh hati, seperti merawat cucu-cucunya tiada henti, dan perlahan butiran hangat mengalir di mata kecil aku dan kau. Mereka telah bersatu dengan tanah, kemudian kita berlari ke arah Ibu dan Bapak, memegangnya erat-erat, agar mereka tak meninggalkan dua anak gadisnya. Dan mereka, memeluk kita dengan deraian air mata.

***

Bapak membawa kabar, bahwa keadaan di luar sana semakin genting, suara pistol melengking-lengking, prajurit-prajurit sering keluar masuk hutan, dan menangkap beberapa laki-laki yang ia temukan, sedangkan perempuan-perempuannya ia bunuh, bahkan diperkosa. Aku bisa menangkap ketakutan yang Bapak rasakan. Perlahan aku dekati lelaki yang mulai tua itu. Aku peluk ia erat-erat, dan berkata “Bapak, jangan pergi. Jangan tinggalkan kami dalam gelap ini.” Aku menangkap air mukanya yang cemas, ia gemetar, lebih gemetar dari diriku. Ia rangkul aku, kau pun begitu. Ibu, mengelap peluh di keningnya, perihal ia masuk ke dalam rumah dengan napas terengah-engah. “Prajurit! Prajurit, Pak! Prajurit menemukan aku, Pak! Untung saja aku bisa berlari lebih kencang dan mengendap-endap di pohon-pohon damar.” Ibu gemetar, bajunya basah oleh keringat. Bapak melepaskan pelukannya. Dan ia meminta kami meninggalkan mereka berdua, ada yang ingin mereka bicarakan. Terowongan, itulah tempat yang ingin kami kunjungi setelah Ibu dan Bapak meminta kami meninggalkannya.

Ya, kita berdua saja di sana —di terowongan itu. Hari mulai gelap. Dan kau, melawan pantang yang selalu Bapak takutkan. Kau menuju cahaya megah, saat aku kembali dari rumah membawa boneka kita. Aku memanggil-manggil namamu, kau tak mau menoleh lagi ke belakang, seperti terhipnotis cahaya yang berkilauan. Kau melompat-lompat dan menikmati setiap langkah kakimu. Dan kau, seperti dihisap waktu, hilang tanpa jejak. Sedangkan aku, berlutut dalam takut, memanggil-manggil Ibu dan Bapak dengan mata yang sembab. Aku benar-benar kehilangan dirimu. Setiap hari, aku hanya menunggu kepulanganmu di terowongan ini Adikku. Hari-hariku hambar. Hari-hariku sepi, aku meringkuk dalam sepi.

***

Aku mendapati Ibu dan Bapak tak pulang-pulang ke rumah kayu kita, sepanjang senja aku menantikan mereka muncul di setapak, berharap kedua tubuh yang suka kita peluk itu muncul dengan senyuman yang sumringah. Tapi, sepanjang penantianku, aku hanya bisa menemukan aroma anyir, barangkali mereka digantung di pohon-pohon damar.

Oh! Aku tak begitu berani memastikannya, karena aku yakin Ibu dan Bapak akan segera menemukanku dan mengajakku ke luar kota dan mencarimu. Kemudian kita akan melanjutkan kembali hidup kita yang belum berkesudahan. Kau tahu, Adikku? Sampai tua pun, aku tak pernah bisa menemukan mereka, barangkali hanya sobekan bajunya, atau patahan giginya, tapi itu tak pernah bisa.

Setiap pagi, siang dan senja, aku menantikan kepulanganmu dari cahaya terowongan. Aku sungguh tak pernah berani melintasi cahaya megah dari terowongan yang kau lalui itu.

Dan kini, aku putuskan kembali ke kenangan kita, ke rumah kita yang sudah dipenuhi lumut. Aku senantiasa duduk menunggumu muncul —ternyata kau tak pernah muncul lagi. Anak-anak dan suamiku meninggalkanku juga dalam sepi. Seperti kalian yang meninggalkanku satu demi satu dalam sepi seperti ini.

Aku tahu, kelak cahaya jua yang akan mempertemukan kita

Dengan cinta yang berbeda dan air mata yang tak sama!

Adikku, ini bonekamu!

 

 

Cerpen Oleh: HAKIMAH RAHMAH SARI

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: