| Karikatur-Latahisme Menguak Budaya Latah |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 24 Juni 2012 01:01 |
|
Dua pementasan itu ditampilkan dalam dua sesi—sore dan malam, yang sekaligus merayakan usia Galang Dance Company yang ke-21 dan peresmian nama baru dari Galang Dance Company menjadi Galang Performing Art. Selain pementasan teater tari, ada juga pameran foto—yang mana foto-foto tersebut merupakan dokumentasi pertunjukkan yang telah digelar oleh Galang Performing Art sejak awal berdirinya, termasuk pertunjukkan tari bertajuk “Penantian” (2007 dan 2009) dan “Tuduang” (1997). Di dalam KBBI, latah [ks] berarti gangguan syaraf sehingga cenderung meniru ucapan atau perbuatan orang lain; berlaku seperti orang gila; meniru-niru gaya dan cara hidup orang lain; [kb] sampah dari daun-daun dsb yang membusuk di bawah pohon-pohonan. Dalam pertunjukkan Galang Performing Art, latah telah bergeser maknanya—tentunya yang dimaksud ‘latah’ di sini adalah ‘latah’ dalam pengertian yang pertama di atas. Dengan gerak laku yang dilatah-latahkan, karikatural, kartunal dan komikal, dua pertunjukkan tersebut berusaha menguak budaya latah yang menggerogoti negeri ini. Negeri Bu(d)aya Latah Panggung merupakan ruang-ruang persegi yang dalam lingkup besar dibatasi oleh garis putih lurus yang terhubung dari bibir panggung hingga latar belakang panggung. Di dalamnya, terdapat sebuah level dengan satu pintu di atasnya, bangku panjang, layar berbentuk kubus yang digantung sedemikian rupa, dan pintu reflektif di latar belakang panggung. Nuansa berwarna merah jambu mendominasi pertunjukkan sesi pertama ini. “Negeri Bu(d)aya Latah” dimulai dengan tarian sederhana yang ditampilkan oleh Deslenda dan Desi di atas level berikut pakaian, kancing baju besar berwarna merah dan rok bercorak kotak-kotak yang dikenakan oleh keduanya. Mereka menari dengan gerak yang sederhana dan komikal. Tuntas satu tarian, mereka masuk ke pintu lalu menoleh ke penonton kembali, “selamat malam bapak, ibu, saraso sasuaro,” ujar Deslenda berusaha menyapa. Baginya, dalam pertunjukkan tersebut, latah (Deslenda juga menyebutkan [bahasa Jawa] ‘mlaku’) bernilai seni. Ia berkomunikasi dengan penonton lalu duduk di bangku panjang di tengah-tengah panggung, dan berceloteh panjang lebar mengenai kelatahan yang kerap berkelindan di dalam kehidupan kita. Mulai dari kelatahan mengenai Korea, sepakbola, warung cepat saji, kursi impor, Shinta dan Jojo hingga persoalan toilet di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Semuanya dikemas di televisi kita dan menjadi komoditas sehari-hari, dan deslenda meraciknya menjadi pertunjukkan gerak yang apik. Deslenda berusaha mengungkapkan bahwa latah juga memerlukan etika sehingga ada kode etik yang menaungi kelatahan itu sendiri. Agar kelatahan menjadi sempurna, kelatahan harus terbentuk dengan tidak sepenuhnya meniru sehingga terpenuhi latahnya. Selanjutnya, ia beralih ke kubus. Seperti di layar televisi, ia kembali berceloteh mengenai bagaimana media akan menuliskan karyanya yang dipentaskan tersebut. Deslenda mencoba menggarisbawahi bahwa media juga menjadi pintu gerbang munculnya kelatahan itu. bersama Desi, ia terus menari dan berpose. Gerakan karikatural tersebut juga dimanifestasikan dengan cara yang latah. Akhirnya, Deslenda memutuskan untuk mengatakan ‘ampek!’ yang bermaksud carut marut dalam bahasa keseharian. Selanjutnya, terdengang gumaman, dan Deslenda berkata, “terkadang saya sangat prihatin ketika beribadah dan berdoa,” ungkapan itu dilanjutkan dengan gerak tarian. Desi pun ikut menari di sekitaran kubus, bangku panjang dan level. Menari dengan latah.
Latah Selanjutnya, gelap melingkupi panggung pertunjukkan. Saluang berdengung disambut pentikan kecapi yang dimainkan oleh Susandra Jaya. Lampu menyala. Sebuah meja panjang dengan tiga penari berbaris di atasnya. Empat penari lain bersimpuh di lantai dengan gerakan berulang-ulang. Pada sudut lain, sebuah kursi digantung sedemikian rupa. Warna merah menyala mendominasi pertunjukkan kedua yang bertajuk “Latah”. Para penari ialah Rahmy, Febby, Nurrahmania, Intania, Annisa, Merry dan Riana. Mereka adalah siswi-siswi SMKN 7 Padang yang gemar menekuni dunia tari. Di awal pertunjukkan, tiga penari di atas meja saling menunjuk-nunjuk sesuatu, bersenggolan, bercakap-cakap tak jelas lalu melompat ke lantai dan berkata, “alaaahhh mah!” Lalu, semua penari bergerak latah. Mereka berguling, menggetarkan pinggul dan anggota tubuh lainnya, memukul sarawa galembong dalam rangkaian gerakan silat, menggerakkan jari, merentangkan tangan, mengelus perut, berjingkat, berlari, menyentuh payudara, berteriak, berputar, menyepak, merasa lega, ekspresi terkejut, maju dan mundur lalu membentuk formasi diikuti oleh hentakan gendang dan bunyi talempong yang keseluruhannya merupakan wujud dari kelatahan. Formasi-formasi itu dibagi lagi ke dalam kelompok kecil penari seperti formasi 4-3, 2-5, 2-2-3, dan 2-2-2-1. Mereka juga menciptakan kejadian lewat drama yang komikal—sebuah peristiwa latah, sambil tertawa, mencela, menangis, menggerutu, meniru kelatahan iklan di televisi, dan bercakap-cakap tak jelas. Musik mengambil alih, “Candonyo pimpiang tumbuah di lereang, angin nan kancang sinan bakisah” dimaksudkan bahwa budaya latah telah menjadi akar dan diikuti oleh siapa saja baik secara langsung maupun tak langsung. Seperti yang juga disampaikan lewat sepenggal kalimat “di sinan raso ka lamak di siko raso kasero”. Pelbagai celetukan seperti ‘apa susahnya ngomong’, ‘what your ah’, loe gue…’, ‘wani piro’, ‘like this’ dan ‘tekongkang [bahasa Minang]’ (terjatuh) juga merupakan bagian dari pertunjukkan “Latah” ini. Pada bagian tertentu, dua penari berkomat-kamit dan disumpal mulutnya dengan goreng paha ayam oleh penari lain. Lalu beberapa penari silih berganti keluar masuk panggung dengan menawarkan kelatahan-kelatahan tertentu. Segalanya nyaris disampaikan secara terang (verbal) oleh para penari tanpa menawarkan solusi atas persoalan itu. Tetapi apa artinya pertunjukkan seni tanpa kedalaman, tanpa disertai riak-riak yang kontemplatif. Untuk usia sebuah kelompok yang beranjak dewasa seperti Galang Performing Art, sudah saatnya tidak sekedar memikirkan bentuk saja tetapi juga kedalaman dari pertunjukkan itu sendiri. Titik pijak sebuah pemikiran dan gagasan yang berangkat dari suatu tantangan kreatif dalam kehidupan dapat memperkaya nilai sebuah pertunjukkan. Deslenda sebagai seorang koreografer perempuan Sumatera Barat yang memiliki selera humor telah banyak menggelar pertunjukkan tari di pelbagai kota di tanah air dengan berusaha membaca akar tradisi kebudayaan Minangkabau yang diimplementasikannya ke dalam bentuk gerak. Bersama Galang Performing Art, ia mengusung suatu gaya yang khas dan segar dalam khazanah pertunjukkan tari di Sumatera Barat. Rusli Marzuki Saria, dalam orasinya di sela-sela pertunjukkan malam itu mengatakan, bahwa tari, teater dan musik telah melintas batas seperti apa yang disebut saat ini sebagai performing art. Tidak ada lagi pengkotakan terhadap tari, teater dan musik. Media tak mampu lagi menjadi alat ucap ekspresi. Rusli sebagai seorang penyair mencoba menghayati karya seorang koreografer. 21 tahun usia Galang Performing Art, suatu masa yang panjang dengan pelbagai tantangan yang kelak akan berseliweran di sekitarnya. Selamat ulang tahun.
DELVI YANDRA
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 375 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


CATATAN ATAS DUA PERTUNJUKAN GALANG PERFORMING ART
