| Minoritas di Antara Minoritas |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 24 Juni 2012 01:11 |
|
Menurut data statistik dari situs departemen luar negeri Vietnam jumlah umat Islam di Vietnam berjumlah 70.700 ribu jiwa. Data lain menyebutkan, jumlahnya antara 80.000 ampai 90.000 orang, atau kurang 1 permil jumlah penduduk. Dua pertiga pemeluk Islam oyang asli Vietnam berasal dari suku minoritas Cham yang banyak hidup di daerah Selatan seperti di Provinsi Binh Thuan, Ninh Thuan, An Giang, Tay Ninh, Dong Nai, dan Ho Chi Minh City. Khusus di Ho Chi Minh City (dulu bernama Saigon), kota terbesar di Vietnam yang berpenduduk sekitar 10 juta jiwa, terdapat sekitar 10.000 pemeluk Islam, namun di ibukota negara Hanoi jumlahnya sangat sedikit, tak sampai seribu jiwa dari sekitar 8 juta penduduk kota itu. Sebagian besar adalah para ekspatriat (pekerja asing) dan diplomat dan staf kedutaan dari negara-negara Indonesia, Malaysia, India serta perwakilan negeri-negeri Arab dan Afrika Utara. Di seluruh Vietnam terdapat sekitar 100 masjid, lebih 99 persen ada di Selatan. Di Kota Hanoi dan seluruh kawasan Utara hanya ada satu masjid. Itulah Masjid Al-Noor yang dibangun awal abad ke-20 oleh komunitas kecil pedagang pedagang Arab, India, dan orang-orang Melayu yang tinggal di kota itu. Permohonan perwakilan negara-negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) di Vietnam untuk dapat membeli tanah bagi membangun sebuah masjid yang lebih besar di Hanoi tidak pernah dijawab oleh Pemerintah Partai Komunis negeri itu. Sejarah masuknya Islam Vietnam pernah dikritik karena menjadi negara yang tidak ramah–bahkan represif—terhadap pemeluk agama, terutama bagi penganut Islam. Padahal, Vietnam termasuk negeri paling pertama di Asia yang bersentuhan dengan Islam. Disebutkan, pada tahun 650 Khalifah Ustman bin Affan sudah mengirim utusan resmi yang pertama ke daerah Vietnam sekarang yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Tang di Cina. Bukti lain menyebutkan bahwa sebenarnya Islam masuk ke Vietnam mulai akhir abad ke-11, yang dibawa oleh para pedagang India, Arab dan Persi yang singgah ke kawasan itu. Namun jumlah pemeluk Islam di Vietnam mulai meningkat ketika Kesultanan Malaka memperluas wilayah di saat Kerajaan Champa runtuh pada tahun 1471. Namun Islam belum menjadi agama yang dikenal secara luas di kalangan Cham sampai pertengahan abad ke-17. Islam baru mulai dikenal dan jumlah pemeluknya bertambah ketika sekitar pertengahan abad ke-19, banyak Muslim Cham beremigrasi dari Kamboja dan menetap di daerah Sungai Mekong. Pada awal abad ke-20, ketika Vietnam menjadi jajahan Perancis, kaum Melayu Islam mulai memiliki pengaruh kuat pada orang Cham, dan masjid-masjid serta madrasah banyak didirikani di daerah Selatan. Sejak masa itu, para ulama Melayu mulai memberi khutbah di masjid-masjid dalam bahasa Melayu, dan mulai banyak orang belajar ke madrasah-madrasah yang didirikan oleh orang Malayu Cham. Setelah kemerdekaan Vietnam, terutama selama masa perang (1957-1975), kehidupan orang-orang Islam relatif terisolasi bahkan disisihkan. Nasib mereka bertambah malang setelah perang berakhir dan seluruh Vietnam dikuasai Partai Komunis. Tahun pertama masa Republik Sosialis Vietnam yang ditandai reunifikasi (penyatuan kembali seluruh Vietnam), kehidupan umat Islam makin tertekan. Mereka dilaporkan memang tidak mengalami kekerasan fisik, namun banyak masjid ditutup oleh pemerintah dan orang-orang Islam dilarang berhubungan bahkan berbicara dengan orang asing. Tekanan tersebut membuat banyak di antara penduduk Muslim Vietnam yang kemudian memilih meninggalkan negeri mereka. Setelah berdirinya Republik Sosialis Vietnam pada tahun 1976, tercatat sekitar 55.000 muslim Cham beremigrasi ke Malaysia, dan 1.750 orang lainnya diterima sebagai imigran oleh Negara Yaman. Terjadinya gelombang imigrasi yang hebat dari para Muslim Vietnam ini tidak lepas dari perubahan politik dan kekuasaan di negara itu. Mereka yang tetap tinggal, disebutkan memang tidak mendapatkan penganiayaan dan kekerasan. Namun mereka tidak dapat beribadah menurut keyakinannya dan mengklaim bahwa masjid-masjid banyak yang ditutup oleh pemerintah. Setelah Doi Moi Kehidupan orang Islam di Vietnam membaik sejak Pemerintah Sosialis melancarkan kebijakan Doi Moi (Renovasi) tahun 1986, dan negeri itu mulai membuka diri terhadap dunia luar dan investasi asing. Sejak itu, orang asing yang datang ke Vietnam mulai diizinkan untuk berbicara dengan Muslim pribumi dan melakukan ibadah shalat bersama mereka. Kelompok atau komunitas Muslim mulai dibolehkan mengorganisasikan diri mereka, dan masjid-masjid diizinkan kembali untuk digunakan sebagai tempat ibadah, dan madrasah-madrasah juga dibolehkan memberikan pelajaran agama Islam. Di Ho Chi Minh City sudah berdiri sebuah Yayasan Islam sejak tahun 1991. Sementara di An Gian, provinsi di perbatasan dengan Kamboja, organisasi umat Islam serupa sudah terbentuk pula sejak tahun 2004. Organisasi komunitas Islam ini mempunyai peran melayani dan menfasilitasi berbagai urusan umat Islam di selantan Vietnam tersebut. Misalnya mengumpulkan dana untuk kegiatan dakwah dan pendidikan umat Islam sampai mencarikan beasiswa dan mengirim pelajar-pelajar muslim ke berbagai negara. Organisasi dan Yayasan Islam itu melakukan hubungan dengan negara-negara Islam dan organisasi Islam internasional, terutama untuk mendapatkan kesempatan pendidikan melalui beasiswa bagi pemuda-pemuda Muslim Vietnam. Di antara negara yangmenampung pelajar Islam Vietnam adalah Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, Libya dan Mesir. Selain di sekolah agama, mereka juga belajar di perguruan atau universitas umum. Negara yang menampung mahasiswa Vietnam terbanyak adalah Malaysia dengan 50 pelajar dan mahasiswa –30 di antaranya belajar di Universitas Islam Antarbangsa. Sementara di Saudi terdapat 15 orang, di Libya 5 orang, di Mesir 3 orang. Sebagian mereka ada yang telah lulus dan kembali ke negara mereka. Mereka yang berhasil memperoleh ilmu terapan, rata-rata mendapatkan pekerjaan di berbagai perusahaan yang beragam. Namun mereka yang bersekolah atau kuliah di bidang agama, yang memperoleh ilmu syariah dan dakwah, umumnya sulit mendapatkan pekerjaan di lembaga pemerintah dan swasta. Mereka inilah yang memerlukan bantuan negara-negara dan organisasi Islam internasional untuk bekerja di bidang dakwah, seperti menjadi imam masjid dan mubaligh, yang tentu saja perlu mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka. Duta Besar RI di Hanoi, Mayerfas, mengakui bahwa umat Islam di Vietnam kini sudah mulai bebas menjalankan agama mereka. Sejak sepuluh tahun terakhir, sejumlah masjid baru diizinkan dibangun atas bantuan negara-negara dan organisasi Islam internasional. Masjid terbesar di Vietnam kini terdapat di Xuan Loc, Provinsi Dong Nai, Vietnam Selatan. Masjid yang dibuka sejak tahun 2006 itu pembangunannya dibiayai oleh Arab Saudi. Namun di Kota Hanoi sendiri, bahkan di seluruh kawasan Vietnam Utara, hanya terdapat satu masjid sebagai sarana ibadah umat Islam yang rata-rata adalah keturunan asing, diplomat dan staf kedutaan negara-negara Islam. Masjid Al-Noor yang terletak di kawasan padat kota tua Hanoi itulah satu-satunya tempat “reuni” kaum muslimin setiap hari Jumat. Menurut Mayerfas, Komite Masjid Al-Noor yang terdiri dari perwakilan negara-negara anggota OKI pernah mengajukan kepada pemerintah Vietnam untuk dapat membeli tanah bagi membangun masjid baru yang lebih besar dan representatif. “Namun, surat tersebut tidak (belum) dijawab oleh pemerintah Vietnam,” kata Mayerfas.
Laporan: HASRIL CHANIAGO Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


ISLAM DI VIETNAM