Minggu, 19 May 2013
Prancis Terlalu Hormati Spanyol PDF Cetak Surel
Senin, 25 Juni 2012 01:36

DONETSK, HALUAN — Spanyol memastikan satu tempat di babak semifinal Piala Eropa 2012. Dua gol yang dicetak oleh Xabi Alonso membuat Spanyol menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0. Bermain di Donbass Arena, Minggu (24/6) dinihari WIB, Spanyol tampil tanpa penyerang murni. Namun mereka sukses membuka keunggulan lebih dulu lewat Alonso di menit ke-19.

Jelang akhir laga, Spanyol menggandakan keung­gulannya. Alonso kembali mencetak gol dan kali ini lewat eksekusi penalti. Hasil ini mengantarkan Spanyol akan menghadapi Portugal di semifinal Piala Eropa 2012, Xabi mengaku tidak akan takut menghadapi kapten A Seleccao, Cristiano Ronaldo.

“Tim ini fenomenal dan secara pribadi saya sangat puas dengan dua gol ini,” kata Alonso seperti dilansir Sky Sports.

“Kami tidak memiliki banyak peluang tapi kami benar-benar mengontrol pertandingan,” lanjutnya. Di babak empat besar, Spanyol akan meladeni Portugal, Rabu (27/6/2012) mendatang. Saat ditanya soal kemungkinan bertemu Ronaldo, penyerang andalan Portugal yang juga rekannya di Real Madrid, Alonso mengaku tidak khawatir.

“Pertandingan selanjutnya (semifinal--red) adalah yang terpenting. Kami semua mengenal siapa Ronaldo, tetapi kami tidak takut,” ucapnya.

“Kami sekarang di semifinal dan tentu saja semua pertandingan di babak ini adalah soal hidup dan mati,” ujar mantan pemain Liverpool ini. Oleh sang pelatih Prancis,  Laurent Blanc, kekalahan ini diakuinya sebagai hasil atas duel yang sangat menyulitkan. Dan atas kekalahan Les Bleus, Blanc menyebut ada sesuatu yang hilang dari timnya.

Blanc mengaku menyesal dengan kekalahan tersebut. Ia menyebut seperti ada “sesuatu yang hilang” dari anak asuhnya. “Selalu ada sesuatu yang hilang ketika Anda kalah dalam sebuah pertandingan. Saya tak mengerti apakah itu penguasaan (bola) atau kemampuan teknik,” ujar Blanc seperti dilansir Sky Sports.

Meski demikian, pelatih yang sebelumnya menangani Bordeaux selama tiga musim ini menyebut Prancis telah bermain dengan sangat baik. Dan karena hal tersebut, dia merasa Les Bleus pantas mendapat kredit sendiri meski ia juga tak yakin apakah timnya layak lolos ke semifinal.

“Anak-anak telah bermain dengan segala kemampuan yang dimiliki dan memang sangat sulit untuk menghadapi Spanyol. Kami berhasil membuat sayap kiri mereka tak berkutik, di mana posisi tersebut adalah titik kekuatan mereka,” ujarnya.

Pada pertandingan itu, Prancis dihadapkan dengan gaya sepakbola tiki-taka ala Spanyol. Semua lawan seakan akan mempunyai ketakutan berlebih untuk meladeninya.

Rata-rata tim yang menghadapi Spanyol memilih untuk memainkan anti-teori dari tiki-taka itu sendiri, yaitu sepakbola pasif atau sejenis sepakbola negatif yang memilih untuk menunggu untuk diserang, bertahan dengan sangat rapat, memastikan tidak ada bola yang lolos untuk ditendang lawan dan melakukan serangan balik yang cepat pada saat yang tepat.

Prancis, tim yang juga mempunyai potensi untuk memainkan tiki-taka, walaupun dengan gaya yang agak berbeda, sayangnya tidak berani untuk beradu tiki-taka itu sendiri melawan Spanyol. Prancis terlalu menghormati Spanyol, Prancis terlalu tidak percaya akan kemampuan tim mereka sendiri bahwa mereka adalah salah satu tim di turnamen ini dengan kemampuan menyerang yang baik melalui poros Samir Nasri-Frank Ribery-Karim Benzema, ditopang Alou Diarra dan Yohan Cabaye di lini kedua.  (h/mat/net)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: