Senin, 20 May 2013

Warning: substr() expects parameter 3 to be long, string given in /home/harianha/public_html/components/com_jomcomment/views.jomcomment.php on line 264
Kape Raun Resto Susu Segar PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Senin, 25 Juni 2012 02:09

Salah satu kafe di kawasan Pasa Usang itu sekilas terlihat seperti kafe biasa. Dari luar, terlihat spanduk bertuliskan “Kape Raun Resto” berwarna merah, hitam dan kuning. Layaknya sebuah cafe, didalam­nya terdapat tiga buah meja petak dan satu meja panjang lengkap dengan kursinya. Namun, yang menarik dari cafe satu ini adalah menu yang disajikan tak lepas dari satu bahan baku, yakni susu murni.

Mulai dari roti susu, yoghurt susu, ice cream susu, bahkan stick susu dan pempek susu. Semuanya terbuat dari susu segar. Penge­lolanya, Yerni, adalah salah satu pentolan sarjana mem­bangun desa (SMD).

Menamatkan pendidikan di bidang peternakan, perempuan satu ini mengambil kesempatan untuk membuka usaha berbasis peternakan dengan memasukkan proposal ke Dinas Peternakan Sumbar untuk kemudian diteruskan ke Kementerian Pertanian RI.

“Proposal dimasukkan sekitar Maret 2010 lalu,” jelas Yerni, Sabtu (23/6). Dalam pembuatan proposal, Yerni membuat sebuah kelompok yang terdiri dari enam orang. Dengan berbagai ide unik dan menarik, setahun kemudian berhasi­lah kelompok Yerni mendapatkan dana sebesar Rp325 juta untuk membuka usaha.

Yerni dan kawan-kawan kemu­dian menyadari bahwa industri ternak tak hanya terbatas dalam budidaya dan jual beli sapi. Berini­siatiflah mereka untuk membuat setiap anggota membidangi usaha yang berbeda. Mulai dari budi daya sapi hingga pengolahan berbagai produk dari ternak.

“Untuk pengolahan kami kem­bangkan dengan pasteurisasi mem­buat olahan susu menjadi yoghurt, kefir dan ice cream. Awalnya hanya dengan tenda kecil, namun melihat antusias masyarakat yang cukup tinggi kemudian dikembangkan menjadi tempat sendiri seperti kafe ini,” tuturnya.

Kini, dengan menyajikan menu dengan bahan baku utama susu segar ini, Yerni bisa mencapai omset minimal Rp1 juta sehari.

“Sebenarnya permintaan lebih banyak lagi. Namun saat ini kita baru mampu menyediakan 100 liter sehari,” katanya. Sementara per­min­taan susu segar setiap hari mencapai 140 hingga 150 liter sehari.

“Pesanan banyak datang dari Kota Padang. Selain itu juga dari Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh bahkan Pekanbaru. Dari Pekanbaru bahkan mereka minta sediakan 500 liter sehari. Kita belum bisa sediakan karena produksi belum sampai segitu,” tambahnya.Tak hanya itu, kelompk Yerni juga menjalin kerjasama dengan Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) untuk memasarkan susu ke anak sekolah.

“Kami mulai dengan membe­rikan susu segar gratis kepada anak-anak sekolah. Setiap hari sekitar 60 liter, kami ambil dari Kape Raun Resto ini,” jelas Sekretaris PPSKI, Syafril. Syukur Iwantoro, Dirjen Peterna­kan dan Kesehatan Hewan Kemen­terian Pertanian  sepakat bahwa pola konsumsi susu masyarakat harus dialihkan dari susu olahan ke susu segar.

“Saat ini masyarakat sudah salah arah. Susu olahan baik bubuk maupun cair sudah kehilangan banyak nutrisi selama proses pengolahan. Sementara dalam susu segar semua kandungan dan nutrisi yang ada pada susu masih 100 persen,” jelasnya.

Namun saat ini, Syukur menga­kui saat ini pengembangan susu murni susu segar masih belum optimal, termasuk di Sumatera Barat.

“Kendala utamanya terkait distribusi dan bagaimana mengu­bah selera masyarakat yang sudah terlanjur terbiasa dengan susu olahan,” tambahnya.

Iklan, dijelaskan Syukur, menja­di salah satu hal yang sangat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat terhadap susu.

Untuk itu, katanya, untuk menggiatkan kembali masyarakat agar mau minum susu segar, dapat dilakukan salah satunya dengan mengikuti selera generasi muda.

“Di Sumbar misalnya dengan memasukkan produk ini ke kafe-kafe seperti yang dilakukan Kape Raun,” katanya.

Sumbar, menurut Syukur, jika dibandingkan dengan daerah lain merupakan daerah yang sangat strategis untuk pengembangan sapi perah. Ini juga akan mempengaruhi jumlah produksi susu segar.

“Saat ini populasi sapi Sumbar baru sekitar 1000 ekor, ini masih jauh dari kapasitas dan kebutuhan sapi Sumbar,”ungkapnya.

Selain itu, ditambahkan Syukur, upaya lain untuk memasarkan susu segar adalah melalui sekolah seperti yang dilakukan PPSKI Sumbar.

“Ini akan efektif menciptakan segmen pasar yang langsung ke masyarakat,”katanya.

Usulan ini (memberikan ban­tuan susu segar ke anak seko­lah_red) pernah diberikan ke Kemendikbud dan telah dianggarkan pada tahun 2011.

“Namun sayang ditolak Komisi X karena dianggap itu bukan tSupoksi Kemendikbud,”paparnya. (Laporan Meidella Syahni)

Comments (1)Add Comment
0
ask
written by string, Juli 03, 2012
halo mba.

saya dari padang ne.
saya berencana ingin membuka usaha bisnis susu sapi juga. kalo saya bole tahu.

Dimanakah saya bisa membeli susu sapi yg mentahnya?
dan harganya berapa ?

mohon petunjuk nya. thanks

Write comment

busy