Kamis, 23 Oktober 2014
Kepribadian Guru, yang Digugu dan Ditiru PDF Cetak Surel
Rabu, 27 Juni 2012 01:11

Kepribadian guru me­rupakan satu sisi yang selalu menjadi  sorotan  karena guru menjadi teladan baik bagi anak didik atau bagi  ma­syarakat sehingga guru harus  bisa  menjaga diri  dengan tetap mengedepankan pro­fesionalismenya dengan penuh amanah, arif, dan  bijaksana. Dengan demikian  masyarakat dan  peserta didik lebih mudah meneladani guru yang memiliki kepribadian  yang utuh bukan kepribadian  yang  terbelah.

Sebagai seorang yang men­jadi teladan, guru adalah  seorang yang telah dewasa, bisa bertanggung jawab kepa­da  anak didik dalam me­ngem­bangkan jasmani dan rohaninya, taat kepada tuhan dan sosial  terhadap sesa­manya sehingga sebagai in­dividu ia patut menjadi tela­dan  bagi anak didik dan masyarakatnya. Selain men­tranfer ilmu kepada  anak didik, ia juga harus mampu menciptakan anak didik yang berkepribadian yang  baik.

Saat ini  banyak yang pintar, pandai, cerdas IQ-nya  tetapi tidak  memiliki kepri­badian yang baik dan tidak memiliki kecerdasan   emo­sional dan spiritual, sehingga  ia tidak mampu meman­faatkan  kelebihannya  dengan  baik untuk diri dan sesa­manya. Guru yang memiliki kecerdasan  dan kepribadian yang utama  ia akan menjadi  tenaga profesional yang bertu­gas  merencanakan dan  me­lak­sanakan proses pembe­lajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan serta mela­kukan penelitian dan pengab­dian kepada  masya­rakat terutama  pada  pendidik  yang diperlukan pada masa yang akan datang.

Hal ini yang sangat  ku­rang sekali, kebanyakan para  guru sibuk dengan rutinitas dirinya sendiri dengan selalu mengajar  sesuai dengan jam yang diajarkannya, sehingga  banyak pula jam yang kurang minimal 24 jam/ minggu.  Mereka saling  berupaya  memenuhi jam mengajarnya  agar pada  nantinya  men­dapatkan tunjangan sertifikasi.  Meskipun  sudah disertifikasi kadangkala  tidak  merubah pola pembelajarannya dan masih saja seperti  cara mengajar yang konvensional. Diperparah lagi, anak yang bermasalah tetap dibiarkan tanpa  memberikan solusi yang terbaik. Apa yang salah, apakah pada kepribadian guru  itu sendiri atau lingkungan yang tidak bersahabat?

Kepribadian  menurut Theodore M. Newcomb diartikan  sebagai organisasi sikap-sikap (predispositions)  yang memiliki seseorang  sebagai latar belakang ter­hadap perilaku. Kepribadian menunjuk pada organisasi sikap-sikap seseorang untuk berbuat, mengetahui, berpikir dan merasakan secara khu­susnya apabila dia ber­hu­bungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Karena kepribadian meru­pakan  abstraksi individu  dan kelakuannya sebagaimana halnya  dengan masyarakat  dan kebudayaan, maka ketika aspek tersebut mempunyai hubungan yang saling mem­pengaruhi  antara satu de­ngan yang lainnya. Kepri­badian merupakan  organisasi   fak­tor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku. Kepribadian men­cakup  kebiasaan-kebiasaan, sikap  dan lain-lain  sifat yang khas dimiliki  seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan  dengan orang lain.

Pendidikan sebagai proses membentuk manusia dewasa yang berkepribadian yang baik. Pendidikan informal yang berlangsung lewat hubungan yang tidak terencanakan akan tetapi autentik antara  yang telah berkepribadian  dengan  mereka yang sedang  te­rbentuk. Seringkali pen­didikan  tidak direncanakan karena  kalau direncanakan, ling­kungan dan suasana  pen­didikan kehilangan unsur spontanitas  dan unsur  keas­lian yang tak terduga. Kalau kedua unsur  ini tidak ada  lagi,   manusia  hasil  pen­didikan  bukan seorang ma­nusia yang autentik me­lain­kan  hasil rekaan para pem­bimbing,  dan manusia  hasil rekaan bia­sanya  manusia ambigu, nifak, bingung  ka­rena  ma­sih dalam  kondisi terpaksan oleh lingkungan  pendidikan dan jika  ia keluar dari desain dan lingkungannya  tersebut ia akan menjadi  individu yang lain.

Hubungan informal an­tara pembentuk  dan yang diben­tuk merupakan sarana pem­bentukan yang tetap asli  dan oleh karena itu  pem­bentukan berlangsung setiap saat lewat tradisi  dan bukan paksaaan. Proses pembentukan watak dan kepribadian yang autentik. Pembentukan watak me­rupakan  hal yang mendasar karena orang yang tidak berkarakter  tidak pernah menjadi sebagai  seorang  pribadi dewasa.

Ada perbedaan antara karakter dengan kepribadian ( personality). Sifat-sifat karakter ialah integritas, kerendahan hati, kesetiaan, menahan diri,  bertenggang rasa, keberanian, keadilan, kesabaran, kerajinan, kese­derhanaan. Sifat-sifat utama itu  yang membentuk karakter yang baik dan membentuk kepribadian  yang baik.

Pembentukan kepribadian  utama  di antaranya  dila­kukan dengan  pelatihan kepemimpinan (leadership), manajemen diri,  dan kiat-kiat sukses seperti pelatihan ESQ. Sebuah proses  meng­ubah  citra diri agar terkesan positif dan mampu  membuat orang lain tertarik dengan  perilakunya. Kesuksesan mem­bentuk  perilaku  seperti ini  bisa jadi merupakan  ke­suksesan  membentuk  kepri­badian   yang dalam kontek Islam disebut berakhlak mulia  tetapi juga  belum biasa dikatakan  sukses dalam arti yang sebenarnya jika  peru­bahan  tersebut hanya pada sisi kognitif dengan per­timbangan mencari pengaruh  padahal yang nyatanya  ia belum  berubah  dari karakter yang aslinya.

Ada dua  kegagalan, guru atau pemimpin  itu gagal karena belum berkarakter dan  berkepribadian, karena  ia memaksa orang lain seperti dirinya sendiri, peserta pela­tihan  atau peserta didik yang menjadi kader juga gagal  karena  ia tidak  menjadi  diri yang utuh  tetapi menjadi  orang lain. Dalam mendidik anak atau peserta didik  or­ang tua atau guru seringkali mengejar hasil  lupa  akan strategi  menjadi berhasil. Keinginan seperti  itu  akan membuat seseorang  meng­gunakan jalan pintas   yang akhirnya  jauh dari keber­hasilan.

Guru berkeinginan  agar peserta didik atau anaknya lulus dengan gemilang, akan tetapi  mereka peserta didik  atau anaknya tidak terbentuk  menjadi orang  berkarakter  dan berkepribadian  lulus  dan sukses. Hasilnya  adalah  anak berkarakter mesin dan robot.

Robot karena  peserta didik  harus berpikir dan bertindak seperti gurunya  dan jika guru  tidak ada disam­pingnya  maka ia kembali akan gagal. Se­mestinya peser­ta didik dikem­bangkan agar  ber­kemampuan  menentukan  sendiri  jalan hidupnya dengan konsekuensi diterima atau ditolak. Proses  robotisasi ini akan membuat peserta didik mati kemampuan  dan poten­sinya. Tidak ada lagi krea­tivitas  untuk mene­ledorkan  prestasi emas. Proses robo­tisasi  akan menuai ma­salah yang besar yang ter­jangkit virus egosentris bahkan egois­tis.

Kita bisa melihat banyak anak didik yang sering tawu­ran diantara mereka sendiri setelah melaksanakan ujian nasional diperparah lagi di dalam melaksanakan ujian nasional tidak ada percaya diri terhadap dirinya sehingga menimbulkan kegelisahan yang  membawa dan merusak citra pendidikan yang mem­bentuk manusia yang ber­karakter yang baik.

Guru dan Kompetensi

Guru dapat diartikaan  sebagai orang  yang bertugas  terkait dengan upaya  men­cerdaskan  kehidupan bangsa  dalam semua aspeknya, baik spiritual, emosional,  inte­lektual, fisikal, financial  maupun aspek yang lainnya. Dalam bahasa teknis edukatif  guru terkait dengan  kegiatan untuk mengembangkan peser­ta didik  dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Guru mengembangkan potensi posit­if dhohir dan bathin atau jasmani dan rohani  peserta didik.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan guru  adalah pendidik  pro­fessional  dengan tugas utama  mendidik, mengajar, mem­bimbing, mengarahkan, me­latih,  menilai,  dan meng­evaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pen­didikan dasar dan pendidikan menengah.

Guru dalam  Bahasa Jawa adalah  menunjuk  pada seorang  yang harus digugu  dan ditiru oleh semua murid  dan bahkan masyarakatnya. Harus digugu artinya  segala sesuatu  yang disampaikan  olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebe­naran oleh semua  murid.  Sebagai guru  harus ditiru, artinya  seorang guru  harus menjadi  suri tauladan ( panutan)  bagi semua murid­nya.

Akan tetapi banyak kita lihat guru yang yang tidak memiliki kepribadian yang baik, bahkan  menjadi pen­didik  yang kasar dan keras dengan perilaku yang tidak layak dijadikan sebagai pan­utan. Mungkin selama ini input yang diperoleh guru sebagi pekerjaan sampingan yang hanya tugasnya  meng­ajar saja tanpa lagi me­ngesampingkan tugas-tugas lainnya. Padahal, tidak  h­arus  demikian, sebagai suatu pe­ker­jaan professional,  seorang guru perlu memiliki kom­petensi yang dimilikinya supaya bisa  dihargai dengan baik. Sebagai  modal  dasar dalam  mengembangkan tugas dan kewajibannya. Antara lain: 1) Kompetensi personal artinya  seorang guru  harus memiliki  kepri­badian yang mantap yang patut untuk diteladani. 2) Kompetensi professional, artinya seorang guru harus memiliki peng­etahuan  yang luas, mendalam  dari bidang  studi yang diajar­kannya, memilih dan meng­gunakan berbagai metode mengajar dalam proses belajar me­ngajar yang dise­leng­ga­ra­kannya. 3) Kompetensi sosial, artinya  seorang  guru  harus  mampu  berkomunikasi  baik dengahn siswa, sesame  guru  maupun  masyarakat luas.

Menurut UU Guru dan Dosen No 14 tahun 2005, kompetensi  guru terdiri atas kompetensi pedagogik, kom­petensi  kepribadian, kom­petensi sosial, kompetensi pro­fesional,  yang diperoleh  me­lalui pendidikan profesi. Se­dangkan menurut Cooper,  menyatakan bahwa  kom­petensi  guru dibagi empat yaitu 1) mempunyai  penge­tahuan  tentang belajar  dan tingkah laku manusia. 2) mempunyai pengetahuan dan menguasai  bidang studi yang dibinanya.

3) mempunyai sikap yang tetap tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, 4) mempunyai  ketrampilan teknis  mengajar.

Guru yang kompeten akan lebih mampu  menciptakan  lingkungan  belajar yang efektif, menyenangkan  dan akan lebih  mampu  mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa  berada pada tingkat yang optimal. Pro­fesional  guru dibangun dengan melalui  berbagai penguasaan  kompetensi-kompetensi yang secara nyata diperlukan  da­lam menyelesaikan  suatu pekerjaan  menjadi seorang pendidik.

Pada hakikatnya guru dan peserta didik  itu satu.  Me­reka satu  dalam jiwa  meski terpisah  dalam raga.  Raga mereka  boleh terpisah  tetapi jiwa mereka tetap satu yang kokoh  bersatu. Posisi kadang berbeda karena  bisa  ber­gantian, mereka seiring  dan setujuan  untuk keberhasilan proses pembelajaran. Kesa­tuan  jiwa guru dengan peser­ta didik tidak dapat dipi­sahkan  oleh dimensi ruang, jarak  dan waktu. Tidak  pula  dapat dicerai- beraikan  oleh lautan, daratan dan udara. Guru tetap menjadi guru  bagi peserta didiknya sepanjang waktu.

Meskipun  mereka telah lulus  dalam menempuh pendidikan  di lembaga  yang diasuh oleh gurunya tersebut.

Menjadi guru berprestasi sebuah penghargaan yang diberikan atas pekerjaan yang selama ini dikerjakan dan memberikan  motivasi yang baik agar pada nantinya lebih bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian.

Setiap orang pasti ingin menjadi guru, namun tidak semua orang yang bisa men­jadi guru sebab suatu pekerj­aan yang dilaksanakan de­ngan penuh kesabaran dan penuh dedikasi yang tinggi. Seorang guru diberikan amanat untuk mencerdaskan anak bangsa menjadi orang baik dan orang yang berguna pada nantinya.

 

TASRIF

Comments (1)Add Comment
0
DILEMA YANG DIHADAPI GURU DITENGAH KEHANCURAN SISTIM PENDIDIKAN DI INDONESIA
written by string, Juli 27, 2012

Saya sangat prihatin dengan penghargaan masyarakat terhadap guru pada saat ini, jika ada guru yang berbuat salah sedikit saja ... maka masalah itu akan dibesar-besarkan oleh orang-orang yang tidak punya rasa terimakasih kepada semua guru yang pernah mengajarnya (kecuali mereka pintar tanpa guru....!). Namun jika masalah itu, penganiayaan itu dialami oleh sosok guru, mereka memperlakukannya seperti berita biasa.
Profesi guru pada saat ini memang dilematis, disatu sisi mereka dituntut untuk bisa profesional dalam menjalankan tugas mereka -- namun disisi lain, mereka ditekan untuk melakukan tindak kecurangan dengan keharusan untuk menjalankan peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang-orang yang membutakan matanya dan hatinya terhadap kondisi sebenarnya yang terjadi di lapangan.
smilies/sad.gif Lihatlah praktek sertifikasi guru, pembuat aturan main program itu mengharuskan guru hanya mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan sertifikat pendidik yang mereka miliki. Mereka tidak mau tahu apakah guru-guru yang mengajar ditiap sekolah bisa semuanya mengajar sesuai dengan sertifikat mereka; mereka tutup kuping kalau ada guru yang menangis, karena tidak bisa mendapatkan tunjangan profesi hanya karena formasi jam pelajaran yang dia bisa dia ajar kurang dari 24 jam; mereka masa bodoh jika ada usaha dari sejumlah pihak untuk mengakali data agar bisa mendapatkan tunjangan profesi; mereka menuntut pemerataan guru namun mereka tidak pernah melakukan penataan guru seperti yang diminta oleh SKB 5 Menteri.
Lihatlah kebijakan pelaksanaan UN, semuanya dipaksakan. Pemerintah memaksakan Standar Kelulusan tertentu, mereka menganggap guru-guru yang bertugas diseantero republik ini bisa diprogram seperti komputer seenak mereka ; mereka tidak pernah mau tahu jika guru itu tidak obahnya seperti murid -- ada yang pintar, ada yang kurang pintar, ini semua disebabkan oleh sistim perekrutan guru yang asal jadi tidak lagi melihat potensi guru yang direkrut namun melihat formasi guru yang dibutuhkan. Mereka juga memasang putih mata mereka untuk melihat fakta kalau tidak semua anak bangsa ini yang akan mampu mencapai standar kelulusan yang mereka tetapkan, metreka menganggap anak-anak yang bersekolah dipelosok Papua sana sama kualitasnya dengan yang belajar di SMA favorit di kota Jakarta. Semua itu memaksa mereka yang punya mental penjilat dari kalangan guru (kepala sekolah) untuk melakukan manipulasi-manipulasi atau pemalsuan data agar atasannya senang atau agar atasannya mendapatkan pujian dari pemerintah atau kalangan masyarakat yang tidak paham dengan dunia pendidikan........!
smilies/cry.gif SELAMA KEPENTINGAN POLITIK MASIH BISA MENGGEROGOTI DUNIA PENDIDIKAN DI NEGARA INI, SELAMA ITU JUGA AKAN SULIT UNTUK MENCETAK GURU-GURU YANG BERKUALITAS TINGGI dan PROFESIONAL.
smilies/cool.gif HENTIKAN INTERVENSI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN DI NEGARA INI. BERILAH KEMERDEKAAN KEPADA SETIAP SEKOLAH UNTUK MENENTUKAN SENDIRI KELULUSAN UNTUK ANAK DIDIK MEREKA. HAPUSKAN UN...!
smilies/sad.gif TOLONG LAKUKAN UJI KELAYAKAN YANG TRANSPARAN TERHADAP SATU UU ATAU PERATURAN SEBELUM DILEMPAR KE DUNIA PENDIDIKAN.

Write comment

busy