| Nagari Malampah Menuju Sentral Jagung |
|
|
|
| Jumat, 29 Juni 2012 01:46 | |||
|
HASILKAN 50 TON PER HARI Petani di Malampah berpenghasilan Rp9 juta/3 bulan. Bupati menjanjikan penambahan luas lahan. PASAMAN, HALUAN — Nagari Malampah, Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman mampu memproduksi 50 ton jagung per hari. Kawasan yang dijuluki Bupati Pasaman Benny Utama sebagai daerah harapan itu, terbentang 300 hektar lebih kebun jagung kelompok maupun perorangan.“Sedikitnya Rp12 juta/hektar sekali panen, potong biaya produksi Rp3 juta, maka petani jagung Malampah berpenghasilan Rp9 juta/3 bulan atau Rp3 juta/bulan/hektar,” beber Bupati Benny Utama saat meninjau kebun jagung kelompok tani Padang Aur, Jorong Siparayo, Malampah, Rabu (27/6). Lokasi eks resetlemen khusus perambah hutan yang dibangun Bupati Taufik Martha era tahun 90-an itu, kini ditangan Bupati Benny Utama telah menjadi kawasan sentra jagung terbilang besar di Sumatera Barat. “Tahun ini kini tingkatkan infrastruktur jalan ke lokasi ini,” ujarnya. Distribusi pupuk menjadi penekanan Bupati Benny Utama saat itu. “Saya minta Dinas Pertanian bersama Muspika Tigo Nagari memantau distribusi pupuk ke Malampah. Jika ada pengencer yang memainkan harga pupuk jauh di atas HET (Harga Eceran Tertinggi), segera diganti pengecernya. Jika distributor yang berulah, saya cabut izinnya,” tekan bupati dihadapan masyarakat, aparat Pemda dan muspika Kecamatan Tigo Nagari yang hadir Rabu siang kemaren. Sentral Jagung Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar Djoni di Padang mengatakan, luas tanaman jagung di Sumbar saat ini baru sekitar 70 ribu hektar dengan produksi sekitar kurang dari 400 ribu ton setahun. Menurutnya, dalam lima tahun ke depan ditargetkan luas tanaman jagung menjadi 164 ribu ton dengan produksi 1 juta ton. Di Sumbar, selain Pasaman dan Pasaman Barat, daerah utama penghasil jagung saat ini adalah Pesisir Selatan seluas 11.697 hektar dengan produksi 74.650 ton setahun, Kabupaten Agam (4.918 hektar/26.114 ton), selanjutnya Kabupaten Tanah Datar, 50 Kota. “Bagi pengembangan ke depan, potensi lahan yang masih cukup luas adalah di Solok Selatan, Dharmasraya dan Sijunjung,” kata Djoni. Masalahnya sekarang, tergantung dari keinginan pemerintah kabupaten setempat untuk mengembangkan jagung. Soal lahan, kata Djoni, sebenarnya masih banyak tersedia di hampir seluruh kabupaten di Sumatera Barat. “Tak perlu luas-luas, cukup lahan yang ada dan lahan-lahan terlantar yang selama ini belum digarap,” katanya. (h/wel/tos/vie)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 133 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


